Tak terasa, setelah beberapa hari berbenah dan berberes. Kini tibalah saat hari-hari saya mengajak anak saya jalan-2 ke Singapura. Sebuah negara yang bersih dan teratur, karena negara ini kecil dengan penduduk yang terbatas sehingga mudah diatur. Tidak seruwet Indonesia dengan beratus-ratus suku bangsa dan adat istiadat yang beragam. Lagi pula Singapura memang diciptakan untuk turisme, Indonesia diciptakan untuk mencari uang dan kesempatan. Maka saya tidak pernah membanding-bandingkan Jakarta dengan Singapura. Karena jelas ke dua kota ini memiliki karakteristik yang berbeda dan memang nasib yang berbeda. Jakarta saya pikir lebih baik dibandingkan dengan India (New Dehli). Yang mungkin lebih punya karakteristik yang sama. Dulu saya suka membandingkan dengan Beijing dan Thailand. Ternyata mereka sekarang sudah berubah banyak, karena membuka pintu amat sangat lebar kepada Investasi Asing. Beda dengan Jakarta yang masih suka nya kerja sendiri. Membangun busway sendiri, ingin membangun MRT sendiri, Monorail juga mau bangun sendiri. Yah gak heran sih kalau hasilnya “sangat sesuai” dengan karakteristik bangsa Indonesia itu sendiri. Dan memang menurut saya segala fasilitas turis di Jakarta / Indonesia memang lebih diperuntukkan kepada turis lokal, dan tidak masuk skala internasional.
Mengapa liburan kali ini saya mengajak anak saya ke Singapura ? Karena saya ingin mengajarkan anak saya lebih mandiri dengan cara hidup yang benar. Selama ini kadang kita selalu beranggapan kalau seseorang itu sudah mandiri kalau penampilannya necis, merokok, dan selalu mengikuti pergaulan. Pada kenyataannya pengertian mandiri bagi saya lebih dititik berat kan kepada kemampan dia untuk melakukan semua nya sendiri tanpa perlu pembantu dan tanpa perlu bantuan orang lain. Kalaupun ada bantuan orang lain diperoleh secara manimal mungkin. Misalnya di perjalanan biasakan rajin bertanya kepada petugas yang berwenang. Penampilan kelihatan mendiri bagi saya gak perlu. Selama kita sudah bisa melakukannya sendiri, kita tidak perlu berpenampilan seperti yang diinginkan atau dipikir orang. Memang manusia itu kadang lucu. Maunya melihat sesuatu dari penampilan. Misalnya untuk orang pintar dan jenius pasti di dandani a’la pakai kacamata tebal, rambut di minyaki, pakai dasi besar, terus cupu jalan menunduk-nunduk dll. Padahal banyak manusia yang saya kenal jenius tapi trendy, bahkan melebihi potongan orang yang kelihatan mandiri (model bawa-bawa rokok kayak yang tadi saya sebutkan). Saya yang punay IQ 128 saja santai-santai hidupnya gak sampe macam-2, walaupun kawan-2 kadang menganggap saya culun. Saya tetap selalu punya perhitungan dan berhati-hati dalam melangkah.
Mandiri dengan cara hidup yang benar disini lebih diartikan bahwa dia (umur6 tahun) sudah bisa mandi sendiri, membawa cucian ke mesin cuci, meneraturkan hidupnya (tidur dan bangun tepat waktu). Belajar sendiri. Berjalan kaki dan menikmati kehidupan sesuai apa yang ada dengan berinteraksi di alam terbuka. Membuang sampah pada tempatnya. Memberikan tempat kepada yang lebih tua tau yang lebih tidak mampu (di bus). Sesuatu yang sangat susah diajarkan di kota Jakarta. Walaupun sebenarnya bisa. Tapi karena kita tidak bisa memperlihatkan contohnya (misalnya kita harus beri dia pandangan bahwa orang lain pun melakukan hal yang sama, misalnya memuang sampah pada tempatnya). Kita lebih sering melihat orang Jakarta membuang sampah semaunya. Bahkan saya pernah melihat orang mengendarai mobil BMW, membuka jendela mobil dan mengeluarkan bungkus makanan dari mobil nya, sangat-sangat memalukan. Tapi yah itu lah dia Jakarta. Tidak ada ruang untuk memberi contoh di tempat ini.
Di Singapura anak saya bisa melihat semua manusia dari berbagai macam ras membuang sampah pada tempatnya. Menyeberang jalan di Zebre Cross. Antri dengan tertib, dan semua pelajaran kehidupan berharga lainnya. Nanti sepulang dari sana dia akan malu untuk menyrobot antrian.
Itu wajar. Sekali lagi saya bukan memuji-muji Singapura. Tapi memang jika dibanding dengan Jakarta, tentu saja kasus nya beda. Jadi anggaplah kita refreshing disana. Jangan dianggap tidak nasionalis atau sebagai nya. Itu hanya pernyataan politik bagi saya. Saya teringat 4 tahun yang lalu ketika di Singapura beserta istri dan anak saya ketemu dengan Surya Paloh yang sedang berjalan-jalan dengan istri nya di City Hall, padahal sehari sebelumnya yang saya tahu dia baru kalah dari pencalonannya sebagai calon presiden Partai Golkar. Nah, refreshing kan ..??? Hehehhe…
Pk 0530 pagi saya sudah dibangunkan istri untuk bersiap-siap. Pk 0700 saya dan anak sudah berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta mampir dulumakan bakmi semangkok untuk menahan lapar.
Sesampai di Bandara Pk 0850, saya pun masuk ke dalam bagian check-in Lion Air yang berada di Terminal 2 E. Wah, fasilitas check-in nya sederhana sekali, bahkan untuk mengetahui berat koper saya sendiri saya yang harus menanyakannya kepada petugas Lion Air. Walaupun sederhana tapi tampak sekali para petugas sangat sigap bekerja. Kalau bukan karena masalah dari penumpang, kerja mereka lancar-lancar saja.
Tahap ke-2 yaitu saya harus mengantri membuat surat permohonan bebas fiskal untuk anak saya yang berusia dibawah 11 tahun. Saya juga salut dengan Direktorat Pajak disana yang menangani masalah permohonan bebas fiskal. Sangat tidak berbelit, cukup dengan mengisi formulir, dan memberikan data passport pemohon. Petugas begitu melihat passport anak saya langsung tanggap dan tidak banyak cingcong. Surat keputusan bebas fiskal langsung keluar, walaupun untuk mendapatkannya saya harus antri kembali.
Selesai dari tahapan-2 itu, kini saatnya saya mengisi form imigrasi. Antri gak lama di imigrasi anak saya bahkan bisa melakukannya sendirian tanpa perlu saya dampingi. Selesai imigrasi saya pun mampir jalan-2 sepanjang koridor sambil berpikir untuk masuk ke dalam lounge. Sayang kartu yang saya bawa tidak ada yang cocok untuk masuk ke dalam lounge, malah kartu yang saya miliki dan bisa masuk ke dalam lounge tidak ada yang saya bawa sama sekali.
Daripada menunggu lama-2 di luar, waktu masuk kapal tinggal 30 menit lagi, jadi kami pun mulai memasuki ruang Boarding Pass. Dasar memang sudah dibilangin sebelumnya bahwa semua barang bawaan (kecuali yang masuk bagasi) tidak boleh mengandung benda cair, saya masih coba-2 bawa aqua botol, masih kena disuruh buang. Saya melihat ada seseorang yang malah bawa minyak wangi dan odol ikut disita semua. Mungkin orangitutidak membawa koper di bagasi. Semua pisau lipat saya, minyak wangi, obat dll dll saya masukkan ke dalam koper dan checkin bagasi. Kasihn juga yahtuh orang, odol Darlie dan Minyak wangi melayang. Sama seperti yang dialami kawan saya yang semua kosmetik St. Michaelnya melyang di Bandara Changi Singapura.
Kali ini saya sangat gembira, sebab ternyata tanggal 18 Desember ini adalah penerbangan perdana Pesawat Boeing 737-900 Lion Air untuk tujuan Jakarta - Singapura. Sayang tidak dirayakan atau diberi peringatan. Kalau di beri piagam saja, rasanya pasti sudah senang sekali dan bangga. Dasar Low Cost Carrier.
Tuesday, December 18, 2007
Wednesday, December 12, 2007
12-12-2007 : ePro Pendrive TV Tuner USB
Kemarin saya menemani kawan ke Mangga Dua Mall. Di toko langganan saya mata saya terpaku kepada TV Tuner USB merk ePro, sebelumnya saya sudah punya TV Tuner USB Pixelview USB 2, tapi untuk beroperasi di notebook saya yang Cuma Celeron 1,5 GHz sangat lambat, tidak ada sinkronisasi antara suara dan gambar. Tentu saja hal ini cukup mengganggu saya pada waktu menonton. Kalau TV Tuner itu diletakkan di PC desktop saya yang bertenaga 2 GHz (Pentium 4) sih ok ok saja, hanya kelihatan sedikit jitter. Maka saya memberanikan diri untuk mengambil satu TV Tuner ini. Harganya lho yang membuat saya tergoda, yaitu Rp 275.000,-. Saya ingat dahulu waktu mengambil Pixelview USB TV2 sekitar Rp 700rb-an. Malah mungkin lebih murah untuk type PCMCIA nya yang dijual Rp 480.000 kemarin.Memang tadinya saya dihadapkan oleh 2 pilihan, Pixelview PCMCIA TV Tuner atau ePro USB TV Tuner. Tapi saya mengambil ePro karena 2 alasan, harga lebih murah dan tehnologi USB, Tehnologi PCMCIA tak lama lagi akan modar. Saya gak yakin notebook masa depan masih diperkuat dengan jajaran PCMCIA.
Setiba di rumah saya pun mencoba kehandalan TV Tuner ini. Pertama kali install saya menghadapi sedikit kesukaran. Karena tidak disebutkan lebih baik mana, install driver dulu atau colok USB nya dahulu. Kesukaran ke dua adalah, interface software yang juga kurang terbiasa oleh saya. Saya sudah terbiasa dengan WinDVR dan TV Plus, tidak mudah menjalankan software TV Expert yang saya temui, apalagi, kesannya rada kaku, tidak se-enak WinDVR (bawaan dari Pixelview PlayTV MPEG-2 saya).
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya saya bisa memfungsi-kan TV Tuner ini. Tapi ada kendala lagi, kamar yang saya tempati sukar untuk mendapat sinyal TV. Jadi saya pikir saya mencoba fasilitas Video Capture nya saja dahulu. Saya menyambungkan RCA cable indovision saya ke Audio-Video Input di ePro TV Tuner ini. Kutak-kutik, akhirnya bisa berjalan dengan mulus. Kelemahan kecil nya yaitu, brightness-contrast nya tidak bisa di setel dengan cara di slider. Harus memasukkan angka tertentu. Hasilnya juga belum ketemu tajam nya. Tapi lumayan lah, saya bisa nonton Indovision di notebook sambil mengedit di PC Desktop. Oh ya, selama ini saya nonton indovision di hubungkan ke PC desktop bukan ke TV biasa. Sebab saya jadi bisa langsung rekam siaran kesukaan saya begitu sedang mau di rekam. Saat ini saya sedang gandrung serial Bindi The Jungle Girl di Animal Planet dan The Simpsons di Star World. Setiap hari kalau memungkinkan saya akan merekam acara ini. Saat ini saya juga suka merekam acara Siaran Langsung Sea Games di Thailand. Terima kasih untuk TVRI yang semangat menyiarkan berbagai pertandingan di Sea Games 2007.
Kesimpulan saya :
1 ePro Pendrive TV Tuner ini cukup baik barangnya, walaupun pada tahap awal pengoperasian nya cukup membuat saya kikuk.
2 Daya tangkap sinyal TV nya cukup baik, di tempat yang biasa saya susah mendapat sinyal TV ePro mampu untuk menerima nya walaupun dalam keadaan hitam putih dan suara kurang jelas.
3 Pada waktu pemakaian diatas 5 menit sudah terasa panas nya. Tapi sih tetap stabil dan tidak mengkhawatirkan.
4 Kekurangannya mungkin masih terlalu besar dan software yang digunakan tidak lazim. Mungkin pada suatu saat bisa menggunakan WinDVR versi ke sekian.
Tadi siang selagi saya membeli keperluan listrik di carrefour, saya mendapati sebuah antenna TV 2 batang, yang biasa ditancap ke TV 14” jaman dulu. Harganya Rp 10.500. Wah, saya pikir ini dia antenna yang saya bisa bawa kemana saja untuk menonton TV Tuner ePro. Setelah beli saya coba, ternyata OK juga. Reception lumayan baik, malah bisa mengalahkan PF-20 saya yang biasa saya andalkan untuk menonton indoor. Wah memang barang rancangan kuno tapi manjur juga neh.
Saya pun berniat untuk membawa TV-Tuner ini ke plesiran saya di Singapura nanti, tanggal 18 – 28 Desember 2007 bersama anak saya. Tunggu saja berita-2 menarik dari sana.
Tuesday, November 20, 2007
20-11-2007 : Taxi Komo
Pagi-pagi jam 6 saya sudah bangun sendiri, padahal hari ini saya tidur jam 2 pagi. Cuma memang saya sudah ada janji dengan seorang kawan yang menjadi rekan kerja di Mangga Dua pk 0900 untuk Meeting di Sudirman Pk 1000. Maka Pk 0700 setelah mendusin berkali-kali saya segera menyiapkan keperluan kerja dan bepergian.
Pk 0803 saya pun sudah naik Dian Taxi menuju ke Mangga Dua. Taxi melaju dengan cepat, mengingat pada jam segitu jalanan cenderung sepi. saya pikir, wah, kalau gini terus pasti Pk 0840 juga sudah sampai. Cuma siapa nyana, Pk 0825 tiba-2 mesin mobil taxi mendadak mati. Tidak bisa di starter lagi, walaupun sudah dicoba Pak Supir berulang-ulang.
"Dasar Apes" pikirku, bukan nya naik taxi di tol eh malah jadi dorong taxi di Tol, mana mogoknya pas di atas Tol Jelambar yang menyempit itu. Gimana nih, tadinya saya sudah pesimis, kayaknya bisa batall deh janjiku hari ini. Jadi saya menyiapkan ransel saya untuk menunggu bantuan. Mana Supir taxi nya gak bisa nanganin mesin mobil lagi, padahal taksiran saya sih paling busi basah atau delko gak mercik, harus diamplas dikit. Tapi kan gak enak bongkar mobil orang lain. Selain takut gak bisa pasang lagi, nanti tangn saya kotor, wong mau pergi meeting koq.
Jadi saya cuma bisa nongkrong di pinggir jalan tol sambil makai ransel dan duduk di atas beton pagar tol. Saya sih sebenernya sudah minta Dian Taxi untuk mengirimkan armada pengganti, tapi seperti nya gak ada respon dan bakal makan banyak waktu.
Untunglah, di sela tongkrongan, ajaib bisa ada supir taxi yang liwat di jalan tol dalam keadaan KOSONG !!! Wow, kejutan. Selama ini selain dari bandara mana ada sih Taxi kosong di dalam jalan tol, ada-2 saja. Maka saya langsung menyetop. Saya gak tahu ini taxi apa, sampai belakangan saya tanya kepada Pak Pengemudi Taxi. "Ini Taxi KTI (Koperasi Taxi Indonesia)" kata si bapak. Saya penasaran bertanya kenapa koq bisa-2 nya kosong-2 naik tol. Si Bapak menjawab lagi buru-2 menuju ke Pasar Jatinegara, takut kehilangan kesempatan, karena volume penumpang jam segitu banyak. Wah, Tuhan memang Maha Besar. Bisa menjodohkan orang yang percaya. Saya pikir kalau kedua kali saya begini belum tentu bisa seperti ini kejadiannya.
Maka saya kembali melanjutkan perjalanan ke Mangga Dua untuk menunaikan tugas saya, sehingga saya bisa hadir dalam meeting tepat waktu Pk 1000.
Pk 0803 saya pun sudah naik Dian Taxi menuju ke Mangga Dua. Taxi melaju dengan cepat, mengingat pada jam segitu jalanan cenderung sepi. saya pikir, wah, kalau gini terus pasti Pk 0840 juga sudah sampai. Cuma siapa nyana, Pk 0825 tiba-2 mesin mobil taxi mendadak mati. Tidak bisa di starter lagi, walaupun sudah dicoba Pak Supir berulang-ulang.
"Dasar Apes" pikirku, bukan nya naik taxi di tol eh malah jadi dorong taxi di Tol, mana mogoknya pas di atas Tol Jelambar yang menyempit itu. Gimana nih, tadinya saya sudah pesimis, kayaknya bisa batall deh janjiku hari ini. Jadi saya menyiapkan ransel saya untuk menunggu bantuan. Mana Supir taxi nya gak bisa nanganin mesin mobil lagi, padahal taksiran saya sih paling busi basah atau delko gak mercik, harus diamplas dikit. Tapi kan gak enak bongkar mobil orang lain. Selain takut gak bisa pasang lagi, nanti tangn saya kotor, wong mau pergi meeting koq.
Jadi saya cuma bisa nongkrong di pinggir jalan tol sambil makai ransel dan duduk di atas beton pagar tol. Saya sih sebenernya sudah minta Dian Taxi untuk mengirimkan armada pengganti, tapi seperti nya gak ada respon dan bakal makan banyak waktu.
Untunglah, di sela tongkrongan, ajaib bisa ada supir taxi yang liwat di jalan tol dalam keadaan KOSONG !!! Wow, kejutan. Selama ini selain dari bandara mana ada sih Taxi kosong di dalam jalan tol, ada-2 saja. Maka saya langsung menyetop. Saya gak tahu ini taxi apa, sampai belakangan saya tanya kepada Pak Pengemudi Taxi. "Ini Taxi KTI (Koperasi Taxi Indonesia)" kata si bapak. Saya penasaran bertanya kenapa koq bisa-2 nya kosong-2 naik tol. Si Bapak menjawab lagi buru-2 menuju ke Pasar Jatinegara, takut kehilangan kesempatan, karena volume penumpang jam segitu banyak. Wah, Tuhan memang Maha Besar. Bisa menjodohkan orang yang percaya. Saya pikir kalau kedua kali saya begini belum tentu bisa seperti ini kejadiannya.
Maka saya kembali melanjutkan perjalanan ke Mangga Dua untuk menunaikan tugas saya, sehingga saya bisa hadir dalam meeting tepat waktu Pk 1000.
Monday, November 19, 2007
19-11-2007 : Oh, PSSI
Hari ini saya membaca koran setengah-setengah karena tiba-tiba istri saya minta diantar ke Yayasan Pembantu untuk mengambil pembantu baru. Jadi saya kebagian tugas untuk nyupirin, maklum, daripada naik kendaraan umum lebih berbahaya.
Tetapi di bagian tengah mata saya tertumbuk pada berita : Indonesia dipermalukan Suriah 0-7 di Damaskus. Lha, inget gak komentar saya minggu lalu mengenai kekalahan di Senayan 1-4, sekarang dicukur 0-7. Sebenernya sih saya sudah tau disana juga kemungkinan besar kalah, tapi yang menjadi perhatian saya kali ini adalah tim nasional yang maju kesana adalah tim U-23 untuk Olympiade !!!
Keadaan seperti ini sebetulnya menurut saya sangat tidak mendidik. Bagaimana mungkin kakaknya kalah berkelahi, lalu suruh adiknya pergi ke rumah lawannya untuk membalas kekalahan kakaknya ??? Sangat aneh. Anda pun kalau mendengar kisah ini pasti heran. Urusan kakak nya koq, bawa-bawa adiknya ikut campur. Malu-malu in.
Poin yang saya catat disini adalah :
1. Tidak mengajarkan Timnas Senior untuk bertanggung jawab atas kekalahan yang di derita di Senayan. Sudah Main – kalah – bubar – terus suruh tim lain yang beresin. Saya jadi teringat anak kecil yang sedang main mobil-mobilan, gitu disuruh mandi, mobil-mobilannya ditinggal gitu aja, nanti mama nya yang beresin. Enak banget, padahal hal yang kecil begitu sangat berperan untuk kita sebagai orang tua memberikan pelajaran mengenai Responsibility (Tanggung Jawab). Kalau gitu lain kali mainnya sembarang saja, toh nanti kalau kalah gak perlu repot-2 membalas nya. Saya selalu mengajarkan anak saya untuk membereskan mainannya setelah dia main. Efeknya sih jadi ada, yaitu dia jadi malas bermain dengan mainannya, tapi kebanyakan main juga jadi tak berguna toh.
2. Tidak mengajarkan Timnas untuk bersemangat. Dan mengajarkan untuk bersikap pesimis. Memang saya pikir pada akhirnya kita kebanyakan kalah di Damaskus. Tapi kita harus tetap punya harapan dan usaha tentunya. Tanpa harapan apa gunanya kita hidup. Kalau gitu sekalian saja Tim Nasional Dibubarkan, Semua pakai U-23.
3. Membuat Tersinggung Timnas Suriah. Yang bener aja, Timnas Senior disuruh ketemu dengan Timnas Senior minus (U-23), itu kan sama saja dengan menurunkan martabat mereka. Baru kali ini saya melihat sebuah Tim Nasional yang tidak menghormati tuan rumah nya. Coba bayangin kalau kita bikin Kejuaran Bulutangkis Internasional berhadiah ratusan juta Rupiah, Yang diundang adalah negara-2 yang terkenal bulutangkisnya. Memng sih nanti yang datang peserta dari mancanegara. Tapi yang datang pesertanya semua baru bisa main bulutangkis kemarin sore.atau anak-anak SD misalnya Itu kan sama saja dengan ngeledek namanya.
Nah, disitu terlihat sudah dengan jelas betapa PSSI sebagai wadah sepakbola nasional sudah tidak pantas lagi untuk bersikap seperti itu. Kelakuannya benar-2 seperti anak kecil. Percuma sudah 77 tahun berdiri (sejak Tahun 1930). Saya rasa pengurus-2 senior pasti sedih melihat keadaan PSSI sekarang ini yang sudah gak masuk di akal.
Tetapi di bagian tengah mata saya tertumbuk pada berita : Indonesia dipermalukan Suriah 0-7 di Damaskus. Lha, inget gak komentar saya minggu lalu mengenai kekalahan di Senayan 1-4, sekarang dicukur 0-7. Sebenernya sih saya sudah tau disana juga kemungkinan besar kalah, tapi yang menjadi perhatian saya kali ini adalah tim nasional yang maju kesana adalah tim U-23 untuk Olympiade !!!
Keadaan seperti ini sebetulnya menurut saya sangat tidak mendidik. Bagaimana mungkin kakaknya kalah berkelahi, lalu suruh adiknya pergi ke rumah lawannya untuk membalas kekalahan kakaknya ??? Sangat aneh. Anda pun kalau mendengar kisah ini pasti heran. Urusan kakak nya koq, bawa-bawa adiknya ikut campur. Malu-malu in.
Poin yang saya catat disini adalah :
1. Tidak mengajarkan Timnas Senior untuk bertanggung jawab atas kekalahan yang di derita di Senayan. Sudah Main – kalah – bubar – terus suruh tim lain yang beresin. Saya jadi teringat anak kecil yang sedang main mobil-mobilan, gitu disuruh mandi, mobil-mobilannya ditinggal gitu aja, nanti mama nya yang beresin. Enak banget, padahal hal yang kecil begitu sangat berperan untuk kita sebagai orang tua memberikan pelajaran mengenai Responsibility (Tanggung Jawab). Kalau gitu lain kali mainnya sembarang saja, toh nanti kalau kalah gak perlu repot-2 membalas nya. Saya selalu mengajarkan anak saya untuk membereskan mainannya setelah dia main. Efeknya sih jadi ada, yaitu dia jadi malas bermain dengan mainannya, tapi kebanyakan main juga jadi tak berguna toh.
2. Tidak mengajarkan Timnas untuk bersemangat. Dan mengajarkan untuk bersikap pesimis. Memang saya pikir pada akhirnya kita kebanyakan kalah di Damaskus. Tapi kita harus tetap punya harapan dan usaha tentunya. Tanpa harapan apa gunanya kita hidup. Kalau gitu sekalian saja Tim Nasional Dibubarkan, Semua pakai U-23.
3. Membuat Tersinggung Timnas Suriah. Yang bener aja, Timnas Senior disuruh ketemu dengan Timnas Senior minus (U-23), itu kan sama saja dengan menurunkan martabat mereka. Baru kali ini saya melihat sebuah Tim Nasional yang tidak menghormati tuan rumah nya. Coba bayangin kalau kita bikin Kejuaran Bulutangkis Internasional berhadiah ratusan juta Rupiah, Yang diundang adalah negara-2 yang terkenal bulutangkisnya. Memng sih nanti yang datang peserta dari mancanegara. Tapi yang datang pesertanya semua baru bisa main bulutangkis kemarin sore.atau anak-anak SD misalnya Itu kan sama saja dengan ngeledek namanya.
Nah, disitu terlihat sudah dengan jelas betapa PSSI sebagai wadah sepakbola nasional sudah tidak pantas lagi untuk bersikap seperti itu. Kelakuannya benar-2 seperti anak kecil. Percuma sudah 77 tahun berdiri (sejak Tahun 1930). Saya rasa pengurus-2 senior pasti sedih melihat keadaan PSSI sekarang ini yang sudah gak masuk di akal.
Sunday, November 18, 2007
18-11-2007 : Bad Service
Seperti kebanyakan hari Minggu lainnya, hari ini saya seperti biasa dibangunkan istri Pk 0730, wah masih berantakan kesadarannya, sebab beberapa jam yang lalu habis bersorak gembira karena Israel membabat Russia 2-1, yang dramatis adalah kemerangan itu baru dipastikan di menit ke 92, berarti pada masa-2 injury time. Benar-benar hebat Israel, eh jangan diseret-seret ke Politik atau masalah Zionisme yah, seba bagi saya permainan sepak bola nya bukan soal nasionalisme. Saya akui permainan Israel jauh lebih dinamis daripada Rusia yang cenderung kaku. Mungkin warisan dari masa komunis beberapa belas tahun yang lalu.
Yang senang tentu kesebelasan Inggris yang berarti nanti mereka cukup bermain seri di Wembley 21 November mendatang melawan Kroasia. Gak gampang sih tergantung Kroasia nya gimana maunya. Kalau Kroasia pintar sih atur seri lah, siapa tahu negaranya nanti bisa mendapat bantuan Finasial dari Pemerintah Inggris raya, hahaha. Cuma kalau Inggris kalah dan Rusia menang atas Andorra, maka siap-siap melupakan Putaran Final Piala Eropah 2008 nanti.
Saya sebetulnnya bukan pencinta Sepakbola Inggris, tapi tetap saja ketidakhadiran Inggris membuat Piala Eropah nanti menjadi kering dan kurang Gosip. Saya kesal Kesebelasan Iggris selalu membuat kesalahan yang itu-itu saja dalam setiap event internasional. Misalnya kalah adu penalty, atau pada masa krisis selalu ada pemain bintang (ingat khasus David Beckham dan Wayne Rooney) yang kena kartu merah. Makanya kalau sudah Event Internasional, saya gak pernah tebak Inggris akan menjadi juara. Atau pada pertandingan tertentu saya sudah bisa menebak hasilnya, misalnya pada kasus Inggris melawan Portugal pada Piala Dunia 2006. Begitu Wayne Rooney kena kartu merah, maka saya pikir Inggris bakal kalah adu penalty dan kenyataannya demikian.
Kembali ke PDA...
Bangun tidur yang ada di pikiran saya cuma 1, beresin kamar nih, udah hancur kayak abis di rudal. Barang berserakan dimana-mana di lantai. Setiap ada kerjaan penting maka kerjaan lalu yang sudah selesai saya taruh gitu aja di lantai, maklum, sudah kesulitan waktu untuk mencari tempat merapihkannya.
Oh ya, sejak sudah ada 2 anak saya tidur sendiri, kadang bersama anak perempuan saya. Istri tidur dengan anak-anak. Saya lebih suka tidur bersama kerjaan kantor dana toko saya, jadi di kamar hanya ada 1 ranjang, 1 meja 1/2 biro dengan perlengkapan Notebook, scanner, Laser Printer, 1 meja PC dengan PC 1 set, dan sebuah lampu baca. Di kamar ini saya biasa setiap hari bangun tidur dan langsung bekerja, sebelum tidur juga bekerja. Sepertinya saya gak pernah lepas dari kerja. Kadang saya bekerja hanya dengan PDA dan Keyboard PDA. Setelah itu baru ditransfer ke Notebook dan cetak via laser printer. Maklum, kantor kecil, toko kecil, gak perlu sekretaris, paling istri saya suka saya minta bantu untuk faksimil dokumen-2 ke toko. Atau minta bantu telepon seseorang.
Pekerjaan membersihkan kamar kiranya gampang, mungkin bagi sebagian orang artinya hanya menyapu dan mengepel. Beda lah dengan saya. Di lantai saya ada beberapa DVD bajakan, bon belanja yang belum dipisah, struk ATM yang harus di arsip dll. Biasa untuk pengarsipan saya menggunakan map bulanan dan sebagian dokumen di scan, dengan scanner kesayangan saya, UMAX 5600, mungkin saat ini sudah menjadi scanner sejuta umat. Kecepatannya OK banget, dan hasilnya gak jelek-2 amat. Saya harus memilah satu demi satu benda-2 yang berserakan di lantai, dan itu makan waktu 2 jam.
Sampai Pk 1300 baru deh istri dan anak-2 mulai sebut-sebut keluar rumah. Saya sih OK saja, toh sudah makan siang di rumah. Saya terpikir untuk menemui seseorang di Plaza Semanggi. Jadi kami pun berencana untuk ke sana. Maka saya Pk 1330 pun berangkat ke Plangi.
Sampai Pk 1400 kami sampai ke Plaza Semanggi, wah kacau, masak belum sampai saja sudah macet. Masuk Plaza Semanggi juga macet, masuk parkir ke atas, di LCD tertera kosong 97, tapi jujur saya saya merasa dibohongi dengan LCD tersebut, sebab kenyataannya begitu masuk, saya gak dapet parkir sama sekali, saya lihat hanya 3-4 mobil yang kebagian parkir, sisanya cuma putar-2 saja sama kayak saya. Akhirnya saya turun dan pulang, di Pagar ditagih Rp 2.000, wah gak heran yang punya Secure Parking cepat kaya. Gak kebagian parkir saja mesti bayar, This is Ridiculous....
Maka akhirnya daripada mikirin Plaza Semanggi mendingan saya banting setir ke Pasar Baru. Istri lagi mau makan Kuo Tie. Istilah kerennya sekarang Dumpling. Di Krekot ada sebuah rumah makan Kuo Tie yang sudah jadi legenda. Saya pun pergi kesana. Sambil menunggu pesanan datang, saya pun jalan kaki untuk makan Tauge Goreng Krekot yang juga sudah jadi legenda. Asal tahu saja. Di daerah sana ada 3 tempat yang jadi Legenda. Soto Pak Kumis di Kartini 2, dan 2 tempat tadi.
Tapi selesai makan kami sekali lagi dikecewakan si empunya tempat. Masak istri saya bayar pakai Uang 50 ribuan yang kemarin baru ambil dari ATM BCA berupa lembaran yang bukan biru, ditolak. Alasannya sudah gak berlaku. Apa pula ini ??? Kalau sudah tidak laku bagaimana masih bisa ditaruh di ATM ?? Salah siapa, BCA ?? Maka saya dan istri sepakat untuk tidak akan pernah kembali lagi ke tempat itu. Lagipula sambil makan, ada anjing seliweran kemana-mana 3 ekor. Bikin bau saja.
Selesai makan Pk 1600 kami ke toko untuk menengok kedaan. Setelah saya berberes-beres administrasi, maka kami pun pulang dengan senangnya anak-anak karena sudah diajak jalan-jalan.
Yang senang tentu kesebelasan Inggris yang berarti nanti mereka cukup bermain seri di Wembley 21 November mendatang melawan Kroasia. Gak gampang sih tergantung Kroasia nya gimana maunya. Kalau Kroasia pintar sih atur seri lah, siapa tahu negaranya nanti bisa mendapat bantuan Finasial dari Pemerintah Inggris raya, hahaha. Cuma kalau Inggris kalah dan Rusia menang atas Andorra, maka siap-siap melupakan Putaran Final Piala Eropah 2008 nanti.
Saya sebetulnnya bukan pencinta Sepakbola Inggris, tapi tetap saja ketidakhadiran Inggris membuat Piala Eropah nanti menjadi kering dan kurang Gosip. Saya kesal Kesebelasan Iggris selalu membuat kesalahan yang itu-itu saja dalam setiap event internasional. Misalnya kalah adu penalty, atau pada masa krisis selalu ada pemain bintang (ingat khasus David Beckham dan Wayne Rooney) yang kena kartu merah. Makanya kalau sudah Event Internasional, saya gak pernah tebak Inggris akan menjadi juara. Atau pada pertandingan tertentu saya sudah bisa menebak hasilnya, misalnya pada kasus Inggris melawan Portugal pada Piala Dunia 2006. Begitu Wayne Rooney kena kartu merah, maka saya pikir Inggris bakal kalah adu penalty dan kenyataannya demikian.
Kembali ke PDA...
Bangun tidur yang ada di pikiran saya cuma 1, beresin kamar nih, udah hancur kayak abis di rudal. Barang berserakan dimana-mana di lantai. Setiap ada kerjaan penting maka kerjaan lalu yang sudah selesai saya taruh gitu aja di lantai, maklum, sudah kesulitan waktu untuk mencari tempat merapihkannya.
Oh ya, sejak sudah ada 2 anak saya tidur sendiri, kadang bersama anak perempuan saya. Istri tidur dengan anak-anak. Saya lebih suka tidur bersama kerjaan kantor dana toko saya, jadi di kamar hanya ada 1 ranjang, 1 meja 1/2 biro dengan perlengkapan Notebook, scanner, Laser Printer, 1 meja PC dengan PC 1 set, dan sebuah lampu baca. Di kamar ini saya biasa setiap hari bangun tidur dan langsung bekerja, sebelum tidur juga bekerja. Sepertinya saya gak pernah lepas dari kerja. Kadang saya bekerja hanya dengan PDA dan Keyboard PDA. Setelah itu baru ditransfer ke Notebook dan cetak via laser printer. Maklum, kantor kecil, toko kecil, gak perlu sekretaris, paling istri saya suka saya minta bantu untuk faksimil dokumen-2 ke toko. Atau minta bantu telepon seseorang.
Pekerjaan membersihkan kamar kiranya gampang, mungkin bagi sebagian orang artinya hanya menyapu dan mengepel. Beda lah dengan saya. Di lantai saya ada beberapa DVD bajakan, bon belanja yang belum dipisah, struk ATM yang harus di arsip dll. Biasa untuk pengarsipan saya menggunakan map bulanan dan sebagian dokumen di scan, dengan scanner kesayangan saya, UMAX 5600, mungkin saat ini sudah menjadi scanner sejuta umat. Kecepatannya OK banget, dan hasilnya gak jelek-2 amat. Saya harus memilah satu demi satu benda-2 yang berserakan di lantai, dan itu makan waktu 2 jam.
Sampai Pk 1300 baru deh istri dan anak-2 mulai sebut-sebut keluar rumah. Saya sih OK saja, toh sudah makan siang di rumah. Saya terpikir untuk menemui seseorang di Plaza Semanggi. Jadi kami pun berencana untuk ke sana. Maka saya Pk 1330 pun berangkat ke Plangi.
Sampai Pk 1400 kami sampai ke Plaza Semanggi, wah kacau, masak belum sampai saja sudah macet. Masuk Plaza Semanggi juga macet, masuk parkir ke atas, di LCD tertera kosong 97, tapi jujur saya saya merasa dibohongi dengan LCD tersebut, sebab kenyataannya begitu masuk, saya gak dapet parkir sama sekali, saya lihat hanya 3-4 mobil yang kebagian parkir, sisanya cuma putar-2 saja sama kayak saya. Akhirnya saya turun dan pulang, di Pagar ditagih Rp 2.000, wah gak heran yang punya Secure Parking cepat kaya. Gak kebagian parkir saja mesti bayar, This is Ridiculous....
Maka akhirnya daripada mikirin Plaza Semanggi mendingan saya banting setir ke Pasar Baru. Istri lagi mau makan Kuo Tie. Istilah kerennya sekarang Dumpling. Di Krekot ada sebuah rumah makan Kuo Tie yang sudah jadi legenda. Saya pun pergi kesana. Sambil menunggu pesanan datang, saya pun jalan kaki untuk makan Tauge Goreng Krekot yang juga sudah jadi legenda. Asal tahu saja. Di daerah sana ada 3 tempat yang jadi Legenda. Soto Pak Kumis di Kartini 2, dan 2 tempat tadi.
Tapi selesai makan kami sekali lagi dikecewakan si empunya tempat. Masak istri saya bayar pakai Uang 50 ribuan yang kemarin baru ambil dari ATM BCA berupa lembaran yang bukan biru, ditolak. Alasannya sudah gak berlaku. Apa pula ini ??? Kalau sudah tidak laku bagaimana masih bisa ditaruh di ATM ?? Salah siapa, BCA ?? Maka saya dan istri sepakat untuk tidak akan pernah kembali lagi ke tempat itu. Lagipula sambil makan, ada anjing seliweran kemana-mana 3 ekor. Bikin bau saja.
Selesai makan Pk 1600 kami ke toko untuk menengok kedaan. Setelah saya berberes-beres administrasi, maka kami pun pulang dengan senangnya anak-anak karena sudah diajak jalan-jalan.
Thursday, November 15, 2007
15-11-2007 : Indocomtech & Pameran Buku Ikapi
Disana tinggal ada 1 dian taxi dgn no 2295 tepat pk 1105 saya mulai mengarungi Jl. Panjang menuju ke JHCC.
Jalanan pada dasarnya cukup lancar. Malah Café Relasi yang depannya biasa macet dapat dilalui dgn baik oleh pak supir taxi. Tapi masuk daerah Kelapa Dua kemacetan baru terasa. Sangat tersendat-sendat.
Akhrnya sampai juga saya di JHCC tepat Pk 11.45. Berarti perjalanan memakan waktu selama 40 menit. Hari masih cerah, baru mulai mau ramai. Saya pikir pameran Indocomtech kali ini tidak seramai biasanya. Banyak stand yang tidak di datangi oleh pengunjung. Beberapa SPG saya lihat malah asyik bermain SMS, mungkin hari masih siang kali.
Di depan hall begitu masuk saya sudah mendapati majalah South Jakarta yang diperuntukkan bagi komunitas Jakarta Selatan. Lumayan, saya ambil 1 untuk saya baca-baca nantinya. Toh gratis.
Berikutnya saya justru masuk ke ruang sebelah kanan, di dominasi oleh Notebook. Acer, Asus, BYON, Fujitsu, Toshiba dll. Pintu masuk pertama sudah dihadang oleh Mobile Gear sebelah kanan. Yang bikin saya kecewa adala barang-2 yang dipamerkan sebenarnya gak beda jauh dengan yang ada di Gramedia (untuk Mobile Gear). Jadi percuma saja. Sekali lagi Pameran Indocomtech hanya berkesan sebagai ajang diskon bagi peserta nya.
Di Ujung saya mulai tertarik dengan penawaran Kamera Digital, sebab Fuji mengeluarkan Kamera Saku Digital yang cukup murah harganya, dan sudah 8 MP, yaitu Fuji FinePix F480. Wah Bagus juga, tapi 2 juta itu masih di luar target saya. Fuji ada keluarkan kamera digital saku yang standar dengan merk Mpix, tapi siapa yang bisa kata dengan kamera model gini ? Hebat sih 7 Megapixel hanya Rp 1.090.000, menggiurkan, bahkan yang 3 megapixel hanya dibandrol dengan harga Rp 299.000, Wah, untuk anak-2 muda sih sangat terjangkau banget. Kalau saya jadi anak sekolahan pasti saya ambil satu untuk dokumentasi. Entah walaupun HP sudah ada kamera tapi saya tetap tertarik menggunakan kamera saku, sebab hasilnya pasti lebih meyakinkan. Padahal Cybershot K800 sudah di tangan, tetap saja rasa saya ada yang kurang. Misalnya dalah hal penanganan kecepatan rana (shutter speed). Masih susah terkejar dengan kamera saku, apalagi dengan kamera profesional atau SLR.
Dari konter Fuji saya berbelok ke Fujitsu. Memang saat ini saya sedang melirik notebook-2 ukuran kecil maksimal 12” Wide lah dikarenakan usia saya yang menua sehingga kemampuan membawa notebook 2,8 kg semakin mengendur. Saya harus cari notebook yang beratnya 1 kiloan deh, kalau gak bisa modar lama-2. Pertama-tama saya pikir jawaban nya pada UMPC (Ultra Mini PC) Tapi saya lihat prosesor nya gak mendukung banget, bener-2 Cuma untuk ngetik dan lamban respon, tentu saja masih belum waktunya menurut saya memiliki UMPC. Saya lebih cenderung pada notebook 10 - 12 inchi. Tapi tentu saja tidak sekarang, mungkin tahun depan baru pikir-2 ganti.
Kalau sudah ngomong Fujitsu, masalah ada di harga, tapi barang-2 nya memang gak mengecewakan. Model P1610 dengan layarnya yang 8,9” dan beratnya 1 kg benar-2 membuat saya jatuh cinta. Rp 15,28 juta katanya. Wah, nanti yah kalau memang benar-2 butuh saya cari model begini.
Selesai dari Fujitsu, saya sowan ke pangkalan, yaitu stand Acer. Jujur saja saya rada ga suka melihat model nya yang sekarang ini. Kelihatannya kayak sabun gepeng. Saya lebih suka dengan model Acer Aspire saya yang kelihatan dewasa. Walaupun berseberangan dengan BYON, tapi saya hanya mampir ambil brosur di BYON, karena BYON tidak menyediakan notebook dengan layar dibawah 14”.
Keluar dari Hall kecil itu saya pindah ke Hall Utama. Masuk kesana, lha koq terkesan sepi, dan yang bikin saya gerah notebook lagi, notebook lagi, kayaknya gak habis-2, semua jual notebook. Maka saya pun gak berlama-lama di hall ini. Cuma ambil brosur sana sini terus saya tembus ke belakang. Disana saya mendapati sedikit perubahan tata letak. Axioo sekarang berani di tengah. Terus terang kalau untuk generasi 20+ notebook Axioo itu fun juga. Bayangkan saja, sparepart model batere dsb nya dijual dengan harga cukup ok, Misalnya batere nya Rp 500rb-an. Coba deh ke merk-2 yang sudah OK, baterenya di bandrol paling dikit Rp 1 juta. Saya sih sebenernya naksir juga lihat yang type NVS Dual Core yang berlayar 12,1” Wide Screen. Sayang Video Controller nya bukan Intel melainkan SiS Pro Logic. Kayaknya gimana gitu kalau Motherboard nya bukan Intel. Cuma ini resiko kalau mau kecil dan murah.
Kali ini saya gak mau mampir ke bagian Mangga Dua, sebab ramai sekali dan sangat memakan waktu, apalagi saya emang tidak mau banyak belanja aksesoris, dan sudah rada kelaparan karena waktu menunjukkan Pk 1300. Maka setelah dari stand TokoUSB pun saya mampir makan di café nya. Di café ini saya sudah langganan banget, Kayaknya kalau ada pameran di JHCC saya gak mau makan di tempat lain selain disini. Memang sih harganya minta mapun. Nasi Rames Rp 34.000 plus Air Mineral Rp 7.000 = Rp 41.000 Tapi rasanya seperti gak ada dimana-mana. Jadi nya ekslusif sekali. Hanya di JHCC, hehehe.
Selesai makan siang, maka mata saya tertuju kepada stand Camera Shop yang saya tau selama ini sangat rajin berpartisipasi di tiap pameran Indocomtech. Produk andalannya adalah Camera Case Lowerpro. Tapi kali ini mata tidak tertuju kepada Camera Case tetapi pada Camera nya langsung. Saya sangat tertarik pada penawaran Casio Exilim yang sudah lama menjadi dambaan saya. Yaitu Casio Exilim EX-Z75 dengan harga Rp 1.499.000, Wow, dulu waktu baru keluar kamera ini dibandrol Rp 2 jutaan. Kalau sudah dibawah 2 juta sih not bad yah untuk kamera 7,2 Megapixels, apalagi saya dari dulu paling senang dengan mode Best Shot nya yang sudah gak usah pusing mengatur kamera untuk mendapatkan gambar bagus. Tinggal ambil dari template best shot yang disediakan lah. Untuk kali ini saya memilih warna hitam daripada silver atau pink, karena warna hitam kelihatan lebih dewasa. Hmmm... Belanja lagi, udah ah kali ini stop untuk bulan ini (saja) hahaha...Sesudah nya dari pameran Indocomtech, saya pun mengayunkan kaki ke Pameran Buku Ikapi. Di Pameran buku saya tidak melihat banyak karena memang saya lagi overstok buku. Tapi memang sudah kebiasaan saya mampir ke Stand Tempo untuk membeli CD Kumpulan Majalah Tempo Edisi Tahun 2006. Disitu saya juga ketemu buku cetakan Th 2000 berjudul "Melawan Melalui Lelucon" berupa artikel-artikel Gus Dur yang pernah dimuar di Majalah Tempo sekitar Tahun 1978 - 1980 an. Harganya Rp 10.000 dan tinggal 2 buah. Hahaha maklum cetakan lama (Th 2000), toh saya beli Th 2000, saya beli sekarang (Th 2007) tetap saja isinya artikel Th 78 - 80an.
Dalam Pameran, tiba-2 istri saya menelepon memberi tahu langit yang sudah semakin gelap. Maka saya pun buru-2 mencari jalan keluar. Benar saja, begitu keluar ternyata sudah hujan deras. Wah, susah deh panggil taxi. Untung saya mendapatkan Taxi Kosti Jaya di luar Komplek Senayan, kalau mau dapat taxi di dalam JHCC pasti susah sekali sebab akan berebutan dengan calon penumpang lain.
Wednesday, November 14, 2007
14-11-2007 : Body Repaired
Hari ini Pk 0830 tiba-tiba saya diteleponi oleh Pak Didi, oh ternyata Pak Didi dari Metro Motor, bengkel tempat saya menitipkan kendaraan saya untuk diperbaiki Body nya. Saya sudah tinggal dari tanggal 4 November lalu, dan berhubung usia mobil saya sudah 10 tahun, maka saya dengan lapang dada harus memperbaiki mobil saya tanpa cover asuransi. Setahu saya tidak ada asuransi yang mau meng-cover mobil di atas usia 5 tahun (silahkan menghubungi saya kalau ada).
Saya dulu menggunakan asuransi LG Simas, dan nyatanya begitu ultah ke lima, salesnya pun udah ogah nelepon saya untuk menawarkan perpanjangan, mungkin dari segi nilai juga sudah menurun banget jadi premi nya menurut mereka sudah keliwat murah dan resiko nya malah cenderung lebih besar.
Belakangan saya dengar dari famili tarif asuransi mobil baru saja kelas Toyota Rush bisa kena 6-7 juta setahun, wow, kalau menurut saya sih jaman sekarang gak usah beli mobil mahal-mahal lah, ngapain kalau cuma untuk disenggol-senggol sama angkot, motor dan bajaj.
Yah kalau mampu beli yang mahalan dikit mending cari lajur jalanan yang santai dikit, maksudnya yang tidak begitu macet atau semerawut. Maklum, biar punya uang untuk beli mobil mewah, tapi kelakuan bawanya suka lebih mirip dengan sopir bajaj.
Pk 1100 saya baru menyempatkan diri ke Bengkel untuk mengambil mobil. Dengan ojek langganan saya pun berangkat ke sana. Sampai disana saya diarahkan ke bagian administrasi untuk membayar terlebih dahulu. Saya biasa membayar dengan Debit BCA, wah kacau, hari ini ternyata mesin debitnya rusak. Jadi saya disuruh ambil kontan ke ATM, tentu saja saya sih maunya transfer, ngapain saya bawa uang kontan kemana-mana. Tapi saya kan datang naik ojek, gak bawa kendaraan sendiri, siapa yang mau antar saya ke BCA ?? Yah, ini dia bagian yang lucu. Jadi saya naik mobil saya sendiri dikawal dengan orang bengkel ke ATM BCA terdekat. Konyol juga yah. Sedangkan mobil itu sendiri belum saya periksa kelengkapan maupun hasil kerjanya. Jadinya modal saling percaya saja deh. Seusai ambil kontan dari ATM BCA maka saya memeriksa mobil (yang sudah saya pakai keluar tadi).
Jumlahnya memang lumayan mahal, Rp 3,7 juta. Tapi setara lah dengan mobil yang usianya sudah menginjak 10 tahun. Apalagi saya masih sayang banget dengan mobil ini sebab ada 4 alasan :
1. Mobil ini dibeli dengan hasil susah payah dan tabungan saya sejak saya ingin memiliki mobil, tepatnya saya menabung untuk membeli mobil ini sejak saya menginjak SMA, 10 tahun sesudahnya setelah saya bekerja serabutan (selama SMA dan Kuliah, serta bekerja), saya akhirnya mempunyai dana yang cukup untuk membeli sebuah Mobil Toyota Kijang LGX (tanpa mengganggu cash flow saya, maklum saya beli mobil ini dengan cara cash keras).
2. Mobil ini menggunakan platina, bukan sistem injection, tentu saja tarikannya jelas lebih asyik, serta untuk sekelas kijang bensin nya memang irit banget
3. Mesin mobil ini masih sangat halus, karena saya rawat. Malah Pak Didi sempat memesan kalau mau jual hubungi dia dulu karena Pak Didi sangat tertarik.
4. Mobil ini kayaknya bisa membawa apa saja yang saya mau bawa, termasuk istri dan semua anak saya.
5. Saya belum ada alasan untuk mengganti menjadi mobil baru, walaupun secara materi saya mampu menggantinya.
Ciri-2 orang setia..?? Hmm Hmm Hmm... Memang gak gampang kalau soal membicarakan mobil kesayangan. Dua kali saya punya kesempatan untuk menggantinya dengan yang baru, dua kali juga saya membuang kesempatan itu.
Setelah saya "menebus" mobil saya di bengkel, barulah saya berencana pergi ke kantor saya. Ternyata hari sudah mendung Pk 1300, saya buru-2 manggil tukang ojek langganan saya, tapi gak keburu, Pk 1320 di Roxy saya kena hujan, butiran hujannya besar-besar lagi, sehingga sakit kalau kena badan.
Untung saya membawa jaket hujan di dalam ransel, jadi saya minta sang ojeker untuk minggir sebentar dan memakai jaket hujan, huuuiii.... Gak nyangka cepat begini, apalagi angin kencang yang sempat membuat saya khawatir akan jalanan. Belakangan saya dengar beberapa papan reklame jatuh di jalanan. Inilah akibat dari penanganan papan reklame dan baliho yang kesannya rada sembarangan, istilah kasarnya asal ada uang, mau pasang papan reklame dimana pun bisa. Banyak mobil yang rusak tertimpa pohon rubuh dan papan reklame rubuh. Barusan saya dengan di Radio Sonora ada beberapa mobil diantara nya sebuah taksi di jalan protokol dan 2 buah mobil di kantor kejaksaan rusak tertimpa.
Hebat juga yah jaksa di Indonesia bisa naik mobil BMW seri 3 dan Suzuki APV (2 mobil yang ketimpa pohon di kantor kejaksaan). Saya yang punya usaha sendiri saja sampai sekarang masih naik Toyota Kijang, dan malah sekarang saya ngantor pakai ojek karena macetnya jalan raya. Kalau menurut saya bertambahnya jumlah mobil di Jakarta hingga macet bukan karena penduduk yang bertambah, tapi karena para pejabat sudah mulai berani beli mobil macam-2, gak kayak dulu yang standarnya kijang doang (kayak saya yang tampakna masih old fashioned).
Saya dulu menggunakan asuransi LG Simas, dan nyatanya begitu ultah ke lima, salesnya pun udah ogah nelepon saya untuk menawarkan perpanjangan, mungkin dari segi nilai juga sudah menurun banget jadi premi nya menurut mereka sudah keliwat murah dan resiko nya malah cenderung lebih besar.
Belakangan saya dengar dari famili tarif asuransi mobil baru saja kelas Toyota Rush bisa kena 6-7 juta setahun, wow, kalau menurut saya sih jaman sekarang gak usah beli mobil mahal-mahal lah, ngapain kalau cuma untuk disenggol-senggol sama angkot, motor dan bajaj.
Yah kalau mampu beli yang mahalan dikit mending cari lajur jalanan yang santai dikit, maksudnya yang tidak begitu macet atau semerawut. Maklum, biar punya uang untuk beli mobil mewah, tapi kelakuan bawanya suka lebih mirip dengan sopir bajaj.
Pk 1100 saya baru menyempatkan diri ke Bengkel untuk mengambil mobil. Dengan ojek langganan saya pun berangkat ke sana. Sampai disana saya diarahkan ke bagian administrasi untuk membayar terlebih dahulu. Saya biasa membayar dengan Debit BCA, wah kacau, hari ini ternyata mesin debitnya rusak. Jadi saya disuruh ambil kontan ke ATM, tentu saja saya sih maunya transfer, ngapain saya bawa uang kontan kemana-mana. Tapi saya kan datang naik ojek, gak bawa kendaraan sendiri, siapa yang mau antar saya ke BCA ?? Yah, ini dia bagian yang lucu. Jadi saya naik mobil saya sendiri dikawal dengan orang bengkel ke ATM BCA terdekat. Konyol juga yah. Sedangkan mobil itu sendiri belum saya periksa kelengkapan maupun hasil kerjanya. Jadinya modal saling percaya saja deh. Seusai ambil kontan dari ATM BCA maka saya memeriksa mobil (yang sudah saya pakai keluar tadi).
Jumlahnya memang lumayan mahal, Rp 3,7 juta. Tapi setara lah dengan mobil yang usianya sudah menginjak 10 tahun. Apalagi saya masih sayang banget dengan mobil ini sebab ada 4 alasan :1. Mobil ini dibeli dengan hasil susah payah dan tabungan saya sejak saya ingin memiliki mobil, tepatnya saya menabung untuk membeli mobil ini sejak saya menginjak SMA, 10 tahun sesudahnya setelah saya bekerja serabutan (selama SMA dan Kuliah, serta bekerja), saya akhirnya mempunyai dana yang cukup untuk membeli sebuah Mobil Toyota Kijang LGX (tanpa mengganggu cash flow saya, maklum saya beli mobil ini dengan cara cash keras).
2. Mobil ini menggunakan platina, bukan sistem injection, tentu saja tarikannya jelas lebih asyik, serta untuk sekelas kijang bensin nya memang irit banget
3. Mesin mobil ini masih sangat halus, karena saya rawat. Malah Pak Didi sempat memesan kalau mau jual hubungi dia dulu karena Pak Didi sangat tertarik.
4. Mobil ini kayaknya bisa membawa apa saja yang saya mau bawa, termasuk istri dan semua anak saya.
5. Saya belum ada alasan untuk mengganti menjadi mobil baru, walaupun secara materi saya mampu menggantinya.
Ciri-2 orang setia..?? Hmm Hmm Hmm... Memang gak gampang kalau soal membicarakan mobil kesayangan. Dua kali saya punya kesempatan untuk menggantinya dengan yang baru, dua kali juga saya membuang kesempatan itu.
Setelah saya "menebus" mobil saya di bengkel, barulah saya berencana pergi ke kantor saya. Ternyata hari sudah mendung Pk 1300, saya buru-2 manggil tukang ojek langganan saya, tapi gak keburu, Pk 1320 di Roxy saya kena hujan, butiran hujannya besar-besar lagi, sehingga sakit kalau kena badan.
Untung saya membawa jaket hujan di dalam ransel, jadi saya minta sang ojeker untuk minggir sebentar dan memakai jaket hujan, huuuiii.... Gak nyangka cepat begini, apalagi angin kencang yang sempat membuat saya khawatir akan jalanan. Belakangan saya dengar beberapa papan reklame jatuh di jalanan. Inilah akibat dari penanganan papan reklame dan baliho yang kesannya rada sembarangan, istilah kasarnya asal ada uang, mau pasang papan reklame dimana pun bisa. Banyak mobil yang rusak tertimpa pohon rubuh dan papan reklame rubuh. Barusan saya dengan di Radio Sonora ada beberapa mobil diantara nya sebuah taksi di jalan protokol dan 2 buah mobil di kantor kejaksaan rusak tertimpa.
Hebat juga yah jaksa di Indonesia bisa naik mobil BMW seri 3 dan Suzuki APV (2 mobil yang ketimpa pohon di kantor kejaksaan). Saya yang punya usaha sendiri saja sampai sekarang masih naik Toyota Kijang, dan malah sekarang saya ngantor pakai ojek karena macetnya jalan raya. Kalau menurut saya bertambahnya jumlah mobil di Jakarta hingga macet bukan karena penduduk yang bertambah, tapi karena para pejabat sudah mulai berani beli mobil macam-2, gak kayak dulu yang standarnya kijang doang (kayak saya yang tampakna masih old fashioned).
Saturday, November 10, 2007
09-11-2007 : IrDA PDA Keyboard
Wah, malam ini saya dapat kejutan, saya lupa kemarin malam saya habis tik di PDA mgantuk, langsung tidur, maka saya taruh begitu saja keyboard PDA saya di kolong ranjang. Hari ini Pk 2245 saya lupa m
aka keinjak di bawah, waduh gawat, rusak deh, pikirku. Saya lihat penyangga tutupnya patah. Akhirnya setelah berusaha di lem dengan lem super, saya nyerah juga, kayaknya gak bisa disambung lagi. Tapi akhirnya saya punya ide, kenapa gak dua-2 nya saja penyangga nya dicopot, sehingga malah saya bisa cover dengan selotip sekalian, nah akhirnya malah saya mematahkan 1 lagi titik penyangganya, sekarang malah menjadi lebih baik. Setelah diselotip, maka saya sambil test keyboard PDA menulis berita ini, saya sertakan foto yah, hahaha....
aka keinjak di bawah, waduh gawat, rusak deh, pikirku. Saya lihat penyangga tutupnya patah. Akhirnya setelah berusaha di lem dengan lem super, saya nyerah juga, kayaknya gak bisa disambung lagi. Tapi akhirnya saya punya ide, kenapa gak dua-2 nya saja penyangga nya dicopot, sehingga malah saya bisa cover dengan selotip sekalian, nah akhirnya malah saya mematahkan 1 lagi titik penyangganya, sekarang malah menjadi lebih baik. Setelah diselotip, maka saya sambil test keyboard PDA menulis berita ini, saya sertakan foto yah, hahaha....
Friday, November 9, 2007
09-11-2007 : Tragedi di Senayan
Hari ini saya baca koran akan ada pertandingan Pra Piala Dunia South Africa 2007 di Senayan antara Indonesia melawan Syria. Wah, pasti rame yah, mungkin pertandingan berjalan dengan ketat berhubung kedua tim belum pernah berhadapan sebelumnya beberapa waktu belakangan ini.Saya sih gak kepikir untuk ke Senayan, karena hari ini saja kerjaan saya cukup merepotkan sekali. Apalagi mesin fotocopy saya tiba-2 ke reset sehingga hasilnya hitam, jadilah saya harus memperbaiki nya sendiri.
Pulang ke rumah Pk 1615 saya langsung buka TV, karena saya gak tahu mainnya jam berapa itu pertandingan. Ternyata tiada satu pun saluran yang memberitakan sepak bola. Malah saya akhirna ketemu saluran TV baru seperti Da Ai TV di saluran 59 UHF dan Siaran percobaan TV El Shinta di 35 UHF. Wah hasilnya bagus-bagus dan jernih, malah stasiun TV lama masih kalah bagus dengan ke dua saluran TV ini.
Akhirnya Pk 1800 saya ketiduran karena capek banget, sampai-2 bangun tidur Pk 1930 saya makan malam dulu. Dan Pk 2000 iseng-iseng saya mencari saluran TV lagi dengan TV Tuner USB kesayangan saya, ternyata ketemu juga tuh di TPI ada dengan keadaan sudah 0-1 untuk Syria. Wah gawat juga Indonesia ketinggalan. Malah gak lama kemdian ketinggalan 0-2 sebelum akhirnya di susul dengan 1-2 setelah Indonesia mendapat kan hadiah penalty.
Yang menyesakkan adalah pada menjelang turun minum malah Indonesia kebobolan lagi berkat blunder dari Kiper Markus Horizon yang menangkap bola hasil tendangan bebas kurang sempurna sehingga molos meliwati selangkangannya. Kedudukan babak pertama 1-3. Wah kalau gini terus bisa-2 keadaan makin parah, sebab koq kayaknya pemain Indonesia kali ini kurang semangat, bahkan rada kesulitan menggempur pertahanan lawan. Apalagi dengan kelakuan para pemain Syria yang khas Arab, di senggol aja pura-2 sakit, jatuh dsb, dsb.
Masuk Babak ke-2 pertandingan masih gitu-gitu aja, saya menyempatkan diri pergi sembayang, karena hari sudah malam. Begitu kembali sembayang, ternyata pertandingan baru saja masuk masa bubaran dengan hasil yang mengecewakan, 1-4 untuk kekalahan Indonesia. Mmm memang bukan waktunya untuk Indonesia untuk berbicara di tingkat Internasional, di Asia Tenggara saja posisi Indonesia angin-anginan. Sudah waktunya memang PSSI berbenah diri jangan hanya mengurusi kepengurusannya saja dengan mempertahankan seorang narapidana menjadi ketua umum PSSI, lebih baik memikirkan bagaimana kesebelasan Indonesia bisa berbicara di arena internasional.
Wednesday, November 7, 2007
07-11-2007 : Terowongan Jalan Angkasa
Saya pikir dengan adanya terowongan ini maka daerah sana tidak ada kata macet lagi. Ternyata perkiraan saya cukup salah. Nyata-nyatanya saya mash kena macet di terowongan ini kira-2 16 menit lamanya yaitu dari Pk 1522 sampai dengan Pk 1538.
Ketika keluar dari Tol di pintu Kemayoran, maka saya pikir akan mencoba daerah Angkasa yang dahulu nya lumayan bikin sakit kepala kalau lewat sana. Betul memang Jl. Angkasa nya sudah tidak terlalu macet, tapi begitu mobil masuk terowongan sudah terasa macet nya. Ada 2 mobil yang menyerah dan memutus kan keluar dari terowongan dengan cara mundur. Saya sendiri memilih meneruskan jalan ke terowongan dengan berpikir akan mencobanya semacet mana, mumpung tidak ada janji degan siapa-siapa kecuali dokter gigi saya pk 1730 nanti.
Ternyata begitu masuk saja sudah disambut dengan kemacetan. Saya perhatikan dengan seksama, ternyata sebetul nya terowongan ini belum jadi benar. Berbahaya sekali memasuki terowngan seperti ini, jalur masih ditutup setengah. Malah di persimpangan atas (yang di lewati kereta api), tamak benar masih disemen dan beberapa orang diatas saya sedang mengerjakan sesuat, sampa-sampai saya hanya bisa berdoa semoga tidak ada benda menjatuhi mobil yang saya kendarai, karena ini mobil pinjaman orang tua.
Lumayan juga kemacetan yang terjadi, untunglah saya masih bisa menikmati macet sambil menonton “Phantom Of The Opera” nya Joel Schumacer dari iPAQ yang saya tempelkan di mobil. Ternyata di ujung terowongan juga masih ada proyek yang masih dikerjakan, sehingga kalau lampu traffic menyala hijau maka kendaraan melaju tersendat. Gak heran masih macet.
Saya sih saranin, kalau masih ada pengerjaan terowongan, ada baiknya untuk menutup terowongan dulu sampai pengerjaan selesai, sebab khawatir dapat membahayakan kendaraan yang meliwati nya.
Monday, October 22, 2007
22-10-2007 : Busway Make The Way
Hari Pertama Masuk Kerja setelah masa cuti bersama. Tentu saja jalanan jadi macet total, karena ada acara sidak mendadak di kantor-kantor. Wah hari ini tadinya saya udah gak berencana ke kantor, sebab yah ngeri sama macetnya itu lho. Cuma akhirnya jadi pergi juga, cuma siang sekitar jam 1500 baru sampai.
Gini cerita awalnya. Belum ada pembantu lho. Jadi saya bangun pagi-pagi pk 0530 untuk menyiapkan diri mengantar anak saya sekolah. Setelah mata nya byar-pret berkali-kali barulah pk 0630 saya bener-2 ready untuk mengantar anak sekolah. Gak papa..., deket. 5 menit juga sampai. Karena masih rada ngantuk maka saya mengantar dengan mobil. Pk 0700 sudah sampai rumah lagi. Saya pun beres-2 meja kerja. Dan menyiapkan bahan kerja, beres-2 rumah juga. Sampai Pk 0945 saya naik sepeda ke kantor pos untuk beli meterai. Wah, baru ingat tgl 22 ini sudah dekat dengan dateline bayar PAM. Tentu saja ramai. Sudah deh, saya mau jemput anak saya yang bubaran pk 1030, jadi saya buru-2 mengayuh sadel sepeda saya ke sekolah anak saya. Pk 1020 saya sudah sampai sekolah anak saya, dan 10 menit kemudian saya sudah membonceng anak saya ke tempat les nya. Pulang dari tempat les saya pun beres-2 lagi dan pk 1115 saya memutuskan mencoba untuk ke kantor pos lagi untuk membeli meterai karena tadi belum dapat. Sedangkan saya harus mendapatkan meterai hari ini juga sebab mau dipakai untuk dikirim ke Singapura. Tapi karena anak ke-2 sudah bangun jadi saya ajak naik mobil bersama mamanya. Tak lupa sekalian saya isi bensin mobil yang biasa dipakai istri antar-jemput anak sekolah. Setelah itu saya ke Titipan Kilat untuk mengirim surat ke Singapura.
Baru pulang jam 1205, saya buru-2 makan siang di rumah. Belum ada rencana untuk ke luar lagi menunggu anak saya selesai les. Sampai tiba-2 pk 1300 anak saya menelepon minta dijemput dari tempat les. Langsung saya ambil sepeda saya dan saya kayuh menuju tempat les. "Kring, Kring....." saya bel sepeda saya, dan anak saya yg sudah mengenal bunyi bel itu segera keluar tempat les dan melompat-lompat kegirangan.
Sudah beres semua urusan rumah, baru terasa pk 1330, saya rasa bisa nih ke Kantor. Segera saya packing barang-2 saya di Ransel. Pk 1400 saya sudah di luar pitu rumah dan saya mencari ojek langganan saya.
"Ke Stasiun Busway Pak..." Dengan ongkos 10 ribu saya langsung dibonceng ke stasiun Busway terdekat. Waktu menunjukkan Pk 1408 ketika saya selesai membayar tiket Busway dan menunggu bus Transjakarta yang datang.
Gak lama juga sih Pk 1410 yang ditunggu-tunggu sudah datang, segera saya naik. Mmm.. Ga dapet bangku sih, tapi saya berdiri cukup leluasa koq. Ada kursi pun saya sediakan untuk penumpang wanita yang masuk bersama saya tadi. Saya lebih suka berdiri di Bus, karena lebih bebas.
Pk 1435 Bus Transjakarta yang saya tumpangi sudah berhenti di Harmoni. Saya pun keluar untukm pindah bus menuju ke Halte Kota. Kali ini lumayan lama, sekitar 10 menitan. Terlihat ada orang yang sok sibuk menerobos antrean alias nyelak, tidak ada yang peduli. Saya juga gak ambil hati. Di Indonesia urusan gini mah biasa. Melanggar tidak akan dihukum, yang hukum nanti akhirat kali. Pk 1445 saya sudah naik Bus lagi menuju Halte Kota. Pk 1450 Saya sudah sampai halte kota. Terlihat sepanjang perjalanan saya kali in9i mulai dari depan Gajah Mada Plaza Bus sudah tidak melalui Busway lagi, tapi sudah berbaur dengan kendaraan lainnya. Jalanannya masih pada rusak. Bahkan cepatnya saya ke Halte Kota karena melompati 2 halte yaitu depan Mandala dan Olimo. Semua jalanan Busway sepanjang jalur itu luluh lantak, dan rasanya menurut saya perbaikannya sangat lamban, sebab saya sudah melihat perbaikan jalur Busway ini sejak beberapa bulan yang lalu.
Setelah Naik Bus TransJakarta, saya meneruskannya dari Beos ke Mangga Dua via Mikrolet, dan Pk 1505 saya sudah sampai di kantor saya dengan selamat. Memang kelihatannya ringkas, tapi kenyataannya perjalanan ini juga memakan waktu 1 jam. Ini sama saja dengan saya naik mobil dari rumah saya ke Kantor. Jadi apanya yang cepat ?? Bedanya saya menempuh perjalanan dengan biaya yang cukup murah : Rp 10.000 (ojek) + Rp 3.500 (Busway) + Rp 2.000 (Mikrolet) = Rp 15.500. Tapi ini sebenarnya sama dengan biaya bensin saya yaitu sekitar 3-4 liter.
Sayang yah, datang siang-2. Enggak juga. Saya kan perlu monitor kantor untuk kelancaran kerja saya. Saya juga langsung datang melihat kekurangan-kekurangan yang ada. Setelah bekerja sedikit-sedikit Pk 1810 saya berkeputusan pulang tapi kali ini gak naik Transjakarta tapi naik taxi Bluebird. Capai lah naik Transjakarta terus. Apalagi malam, suasananya pasti ngeri kalau turun di daerah saya di Indosiar.
Sayang dengan taxi saya kembali bertemu dengan kemacetan. Akhirnya saya harus membuang lagi waktu 1 jam untuk pulang. Pk 1920 baru saya sampai ke rumah lagi dengan selamat. Kembali ke pekerjaan rumah saya.
Wow, capek yah hari ini, cuma rasanya seger-seger aja tuh, mungkin memang semangat saya lagi tinggi belakangan ini. Karena banyaknya pekerjaan rumah yang harus saya lakukan.
Gini cerita awalnya. Belum ada pembantu lho. Jadi saya bangun pagi-pagi pk 0530 untuk menyiapkan diri mengantar anak saya sekolah. Setelah mata nya byar-pret berkali-kali barulah pk 0630 saya bener-2 ready untuk mengantar anak sekolah. Gak papa..., deket. 5 menit juga sampai. Karena masih rada ngantuk maka saya mengantar dengan mobil. Pk 0700 sudah sampai rumah lagi. Saya pun beres-2 meja kerja. Dan menyiapkan bahan kerja, beres-2 rumah juga. Sampai Pk 0945 saya naik sepeda ke kantor pos untuk beli meterai. Wah, baru ingat tgl 22 ini sudah dekat dengan dateline bayar PAM. Tentu saja ramai. Sudah deh, saya mau jemput anak saya yang bubaran pk 1030, jadi saya buru-2 mengayuh sadel sepeda saya ke sekolah anak saya. Pk 1020 saya sudah sampai sekolah anak saya, dan 10 menit kemudian saya sudah membonceng anak saya ke tempat les nya. Pulang dari tempat les saya pun beres-2 lagi dan pk 1115 saya memutuskan mencoba untuk ke kantor pos lagi untuk membeli meterai karena tadi belum dapat. Sedangkan saya harus mendapatkan meterai hari ini juga sebab mau dipakai untuk dikirim ke Singapura. Tapi karena anak ke-2 sudah bangun jadi saya ajak naik mobil bersama mamanya. Tak lupa sekalian saya isi bensin mobil yang biasa dipakai istri antar-jemput anak sekolah. Setelah itu saya ke Titipan Kilat untuk mengirim surat ke Singapura.
Baru pulang jam 1205, saya buru-2 makan siang di rumah. Belum ada rencana untuk ke luar lagi menunggu anak saya selesai les. Sampai tiba-2 pk 1300 anak saya menelepon minta dijemput dari tempat les. Langsung saya ambil sepeda saya dan saya kayuh menuju tempat les. "Kring, Kring....." saya bel sepeda saya, dan anak saya yg sudah mengenal bunyi bel itu segera keluar tempat les dan melompat-lompat kegirangan.
Sudah beres semua urusan rumah, baru terasa pk 1330, saya rasa bisa nih ke Kantor. Segera saya packing barang-2 saya di Ransel. Pk 1400 saya sudah di luar pitu rumah dan saya mencari ojek langganan saya.
"Ke Stasiun Busway Pak..." Dengan ongkos 10 ribu saya langsung dibonceng ke stasiun Busway terdekat. Waktu menunjukkan Pk 1408 ketika saya selesai membayar tiket Busway dan menunggu bus Transjakarta yang datang.
Gak lama juga sih Pk 1410 yang ditunggu-tunggu sudah datang, segera saya naik. Mmm.. Ga dapet bangku sih, tapi saya berdiri cukup leluasa koq. Ada kursi pun saya sediakan untuk penumpang wanita yang masuk bersama saya tadi. Saya lebih suka berdiri di Bus, karena lebih bebas.
Pk 1435 Bus Transjakarta yang saya tumpangi sudah berhenti di Harmoni. Saya pun keluar untukm pindah bus menuju ke Halte Kota. Kali ini lumayan lama, sekitar 10 menitan. Terlihat ada orang yang sok sibuk menerobos antrean alias nyelak, tidak ada yang peduli. Saya juga gak ambil hati. Di Indonesia urusan gini mah biasa. Melanggar tidak akan dihukum, yang hukum nanti akhirat kali. Pk 1445 saya sudah naik Bus lagi menuju Halte Kota. Pk 1450 Saya sudah sampai halte kota. Terlihat sepanjang perjalanan saya kali in9i mulai dari depan Gajah Mada Plaza Bus sudah tidak melalui Busway lagi, tapi sudah berbaur dengan kendaraan lainnya. Jalanannya masih pada rusak. Bahkan cepatnya saya ke Halte Kota karena melompati 2 halte yaitu depan Mandala dan Olimo. Semua jalanan Busway sepanjang jalur itu luluh lantak, dan rasanya menurut saya perbaikannya sangat lamban, sebab saya sudah melihat perbaikan jalur Busway ini sejak beberapa bulan yang lalu.
Setelah Naik Bus TransJakarta, saya meneruskannya dari Beos ke Mangga Dua via Mikrolet, dan Pk 1505 saya sudah sampai di kantor saya dengan selamat. Memang kelihatannya ringkas, tapi kenyataannya perjalanan ini juga memakan waktu 1 jam. Ini sama saja dengan saya naik mobil dari rumah saya ke Kantor. Jadi apanya yang cepat ?? Bedanya saya menempuh perjalanan dengan biaya yang cukup murah : Rp 10.000 (ojek) + Rp 3.500 (Busway) + Rp 2.000 (Mikrolet) = Rp 15.500. Tapi ini sebenarnya sama dengan biaya bensin saya yaitu sekitar 3-4 liter.
Sayang yah, datang siang-2. Enggak juga. Saya kan perlu monitor kantor untuk kelancaran kerja saya. Saya juga langsung datang melihat kekurangan-kekurangan yang ada. Setelah bekerja sedikit-sedikit Pk 1810 saya berkeputusan pulang tapi kali ini gak naik Transjakarta tapi naik taxi Bluebird. Capai lah naik Transjakarta terus. Apalagi malam, suasananya pasti ngeri kalau turun di daerah saya di Indosiar.
Sayang dengan taxi saya kembali bertemu dengan kemacetan. Akhirnya saya harus membuang lagi waktu 1 jam untuk pulang. Pk 1920 baru saya sampai ke rumah lagi dengan selamat. Kembali ke pekerjaan rumah saya.
Wow, capek yah hari ini, cuma rasanya seger-seger aja tuh, mungkin memang semangat saya lagi tinggi belakangan ini. Karena banyaknya pekerjaan rumah yang harus saya lakukan.
Sunday, October 21, 2007
21-10-2007 : Lomie Fever
Hari ini saya dapat kejutan, bangun tidur mata gatal-2 dan merah, kiri dan kanan. Wah, gawat, saya pikir mungkin ketularan karyawan di kantor, yg kebetulan lagi menderita sakit mata. Bukan penyakitnya yang saya takutkan, tapi khawatir menular ke istri dan anak-2. Buru-2 pk 8 pagi saya memakai Y-Rins (seperti Optrex) dan setelah itu diteteskan Visine. Habis itu karena masih susah buka mata yah saya tidur lagi deh, sampai jam 11. Beruntung, begitu bangun tidur mata saya sudah sembuh sama sekali ! Mengejutkan. Wah senang nya saya. Jadi mugnkin saya bisa jalan-2 mengisi liburan lebaran terakhir Th 2007 ini.
Ternyata gak semudah itu. Karena bangun kesiangan otomatis kerjaan rumah saya juga banyak yang molor. Akhirnya baru kami siap pk 1500 untuk keluar. Mana hari ini mendung lagi. Mau Kemana ?? Jam nya sudah tanggung. Akhirnya saya pikir baiknya pergi ke tempat yang dekat-dekat saja.
Begitu mobil keluar, anak ke-2 sudah tertidur di mobil, biasa deh. Anak kecil kalau sudah ketemu mobil pasti tertidur, mungkin getaran halusnya bikin syaraf jadi santai. Saya memutuskan pergi ke daerah Greenville ke tempat makan Lomie Ta Thao. Tempatnya lumayan, walaupun ga bisa dibilang OK. Lomie Kuahnya juga enak, campuran daging babi dan ikan, tentu saja jadi wangi. Coba bakmi masaknya juga lumayan, tapi karena bakminya yang biasa dipakai untuk lomie (rada tebal), jadi dibuat bakmi masak bukan enak-2 banget.
Pesan 2 porsi itu sudah kenyang ampun, makan bertiga, karena si kecil masih tertidur. Harganya juga OK lah, ga sampe 50 ribu.
Selesai Makan di Ta Thao kami mampir ke Eaton yang kebetulan letaknya bersebelahan dengan Ta Thao. Belanja roti dikit-dikit. Saya cuma hobby dengan Roti Palopi nya, paling murah dan paling sederhana serta enak.
Pulang dari Eaton, saya kasihan karena anak ke-2 belum merasakan jalan-2 waktu pergi keluar, jadi pulang ke rumah sebelumnya saya belok dulu ke Hero supermarket. Istri saya gak gitu suka ke Hero. "Mahal" katanya. Tapi bagi saya, bukan mahalnya yang saya pikirkan, tapi kenyataannya Hero adalah tempat belanja luas yang terdekat dengan rumah. Anak-2 saya suka kesana, walau datang paling hanya belanja kripik, tapi disanalah tempat saya mendidik mereka untuk memilih makanan, dan membayarnya terlebih dahulu. Lagipula semua karyawannya sudah kenal dengan kami sekeluarga. Jadi saya kadang selalu berdoa agar Hero dekat rumah saya jangan sampai tutup.
Biasa paling anak ke-2 saya ambil 1 bungkus kripik Lay's rasa rumput laut yang kecil, lalu dia berputar-putar keliling dengan riangnya di supermarket itu. Saya hanya mengawasi dari belakang saja. Anak ke-1 biasa ambil es sebatang untuk dirinya sendiri. Saya jadi teringat dahulu saktu saya seumur anak saya, selalu dibawa mama saya ke TOKO MINI, disana berupa toko makanan kecil (kalau gak mau dibilang warung), dimana kalau mama saya beli barang-2 makanan untuk tamu, saya ikut menemani dan belanja beli permen kecil-2an. Sekarang TOKO MINI tsb sudah berubah menjadi Warung MINI, dimana menjual makanan Warteg untuk orang kantor, yang jual, yah dia-dia juga, cuma saja mungkin sudah gak kuat bersaing dengan Supermarket Hero yang waktu itu buka gak jauh dari tempatnya. Sekarang saya lihat gantian Supermarket Hero itu yang tutup. Yah, setiap sesuatu ada masa nya. Ada masanya dia lagi jaya, lalu digantikan oleh yang lain yang bisa lebih baik lagi.
Kalau papa saya borong makanan, saya dibawanya ke Yap Eng Lai di Gloria sana. Entah apa enaknya belanja disana. Saya ga gitu suka ke Glodok, karena semerawut. Dan kebanyakan orang nongkrong-2 gak jelas kerjaannya. Saya dari dulu ga suka melihat orang yang nongkrong gak tau mau kerja apa. Akhirnya ngomong yang ga jelas dan cenderung punya sifat iseng. Bagi saya orang-2 seperti itu punya 2 kondisi, salah didik orang tua nya dan memang malas secara individual. Kalau dia mau, dia bisa saja bekerja macam-2, misalnya menyapu halaman depan rumahnya (ini contoh yang paling sederhana), atau belajar sesuatu (dgn baca buku dan praktek). Tapi masalahnya orang-2 seperti ini terlalu banyak perhitungannya, misalnya kalau menyapu, maka dia akan berpikir, "emang mau dibayar berapa", atau kalau disuruh baca buku pasti jawabannya "gak ada waktu", padahal waktunya paling dipakai untuk bengong dan berpangku tangan.
Dari kecil saya sudah membiasakan anak saya untuk mengisi hari-2nya yang kosong, misalnya dengan membaca, atau eakt lebaran seperti ini saya paksa untuk menemani saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Misalnya mengganti air galon, kemarin kami membetulkan kawat nyamuk yang rusak. Tidak saya beri tugas-2 yang berat, paling bantu megangin kawatnya, atau me-lap galon air mineral sebelum saya gotong ke dispenser. Tapi intinya daripada bengong. Kadang malam saya ajak nonton film, habis itu saya isi dengan kegiatan belajar sederhana, atau main ular tangga sekaligus belajar berhitung.
Ternyata gak semudah itu. Karena bangun kesiangan otomatis kerjaan rumah saya juga banyak yang molor. Akhirnya baru kami siap pk 1500 untuk keluar. Mana hari ini mendung lagi. Mau Kemana ?? Jam nya sudah tanggung. Akhirnya saya pikir baiknya pergi ke tempat yang dekat-dekat saja.
Begitu mobil keluar, anak ke-2 sudah tertidur di mobil, biasa deh. Anak kecil kalau sudah ketemu mobil pasti tertidur, mungkin getaran halusnya bikin syaraf jadi santai. Saya memutuskan pergi ke daerah Greenville ke tempat makan Lomie Ta Thao. Tempatnya lumayan, walaupun ga bisa dibilang OK. Lomie Kuahnya juga enak, campuran daging babi dan ikan, tentu saja jadi wangi. Coba bakmi masaknya juga lumayan, tapi karena bakminya yang biasa dipakai untuk lomie (rada tebal), jadi dibuat bakmi masak bukan enak-2 banget.
Pesan 2 porsi itu sudah kenyang ampun, makan bertiga, karena si kecil masih tertidur. Harganya juga OK lah, ga sampe 50 ribu.
Selesai Makan di Ta Thao kami mampir ke Eaton yang kebetulan letaknya bersebelahan dengan Ta Thao. Belanja roti dikit-dikit. Saya cuma hobby dengan Roti Palopi nya, paling murah dan paling sederhana serta enak.
Pulang dari Eaton, saya kasihan karena anak ke-2 belum merasakan jalan-2 waktu pergi keluar, jadi pulang ke rumah sebelumnya saya belok dulu ke Hero supermarket. Istri saya gak gitu suka ke Hero. "Mahal" katanya. Tapi bagi saya, bukan mahalnya yang saya pikirkan, tapi kenyataannya Hero adalah tempat belanja luas yang terdekat dengan rumah. Anak-2 saya suka kesana, walau datang paling hanya belanja kripik, tapi disanalah tempat saya mendidik mereka untuk memilih makanan, dan membayarnya terlebih dahulu. Lagipula semua karyawannya sudah kenal dengan kami sekeluarga. Jadi saya kadang selalu berdoa agar Hero dekat rumah saya jangan sampai tutup.
Biasa paling anak ke-2 saya ambil 1 bungkus kripik Lay's rasa rumput laut yang kecil, lalu dia berputar-putar keliling dengan riangnya di supermarket itu. Saya hanya mengawasi dari belakang saja. Anak ke-1 biasa ambil es sebatang untuk dirinya sendiri. Saya jadi teringat dahulu saktu saya seumur anak saya, selalu dibawa mama saya ke TOKO MINI, disana berupa toko makanan kecil (kalau gak mau dibilang warung), dimana kalau mama saya beli barang-2 makanan untuk tamu, saya ikut menemani dan belanja beli permen kecil-2an. Sekarang TOKO MINI tsb sudah berubah menjadi Warung MINI, dimana menjual makanan Warteg untuk orang kantor, yang jual, yah dia-dia juga, cuma saja mungkin sudah gak kuat bersaing dengan Supermarket Hero yang waktu itu buka gak jauh dari tempatnya. Sekarang saya lihat gantian Supermarket Hero itu yang tutup. Yah, setiap sesuatu ada masa nya. Ada masanya dia lagi jaya, lalu digantikan oleh yang lain yang bisa lebih baik lagi.
Kalau papa saya borong makanan, saya dibawanya ke Yap Eng Lai di Gloria sana. Entah apa enaknya belanja disana. Saya ga gitu suka ke Glodok, karena semerawut. Dan kebanyakan orang nongkrong-2 gak jelas kerjaannya. Saya dari dulu ga suka melihat orang yang nongkrong gak tau mau kerja apa. Akhirnya ngomong yang ga jelas dan cenderung punya sifat iseng. Bagi saya orang-2 seperti itu punya 2 kondisi, salah didik orang tua nya dan memang malas secara individual. Kalau dia mau, dia bisa saja bekerja macam-2, misalnya menyapu halaman depan rumahnya (ini contoh yang paling sederhana), atau belajar sesuatu (dgn baca buku dan praktek). Tapi masalahnya orang-2 seperti ini terlalu banyak perhitungannya, misalnya kalau menyapu, maka dia akan berpikir, "emang mau dibayar berapa", atau kalau disuruh baca buku pasti jawabannya "gak ada waktu", padahal waktunya paling dipakai untuk bengong dan berpangku tangan.
Dari kecil saya sudah membiasakan anak saya untuk mengisi hari-2nya yang kosong, misalnya dengan membaca, atau eakt lebaran seperti ini saya paksa untuk menemani saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Misalnya mengganti air galon, kemarin kami membetulkan kawat nyamuk yang rusak. Tidak saya beri tugas-2 yang berat, paling bantu megangin kawatnya, atau me-lap galon air mineral sebelum saya gotong ke dispenser. Tapi intinya daripada bengong. Kadang malam saya ajak nonton film, habis itu saya isi dengan kegiatan belajar sederhana, atau main ular tangga sekaligus belajar berhitung.
Friday, October 19, 2007
19-10-2007
Hari Jum'at ini merupakan hari terakhir cuti bersama. Terlihat kendaraan sudah mulai ramai lalu lalang. Kecuali mobil truk/kontainer yang masih jarang. Suasana lalu lintas sudah ramai tapi tidak macet. Yah aktifitas kendaraan umum tampak memang belum pulih benar.
Saya bangun kesiangan, maunya sih bangun pk 0700, tahunya 0900 baru tersadar. Padahal setiap hari pasang alarm pk 0700, 0730, 0800. Kenyataannya masih ga kuat bangun. Mungkin kemarin memang capeks ekali tuntunin anak jalan-2. Akhirnya pun saya maklum kenapa orang sekarang lebih suka berkarir daripada urus anak, karena memang urus anak itu capek banget, untuk sebagian orang malah terkesan buang waktu dan tenaga. Maka untuk yang gak suka urus anak saya gak maksain orang untuk punya anak. Tapi emang bagi saya dekat dengan anak sendiri merupakan suatu kesenangan tersendiri. Karena anak adalah bagian mahluk yang paling kita percayai selain diri sendiri. Mungkin orang lain kita bisa tak percaya. Asal tau saja kalau sama anak orang lain mah saya gak peduli banget, dengan keponakan sendiri saja gitu-gitu doang. Lain dong dengan anak sendiri, yang bisa kita program dan bentuk sesuai yang kita mau.
Langsung bangun tidur saya tancap gas. Acara hari ini memang cukup padat, yaitu acara keliling Bank. Biasa bukan kelilingnya yang repot, tapi antri nya yang buang waktu banget.
Bayangin jam 1000 saya sudah sampai bank pertama, jam 1230 baru selesai semua. Anak ke-1 yang ceweq menemani saya dengan setia. Saya senang karena ada yang menemani, asyik kan punya anak.
Saya bangun kesiangan, maunya sih bangun pk 0700, tahunya 0900 baru tersadar. Padahal setiap hari pasang alarm pk 0700, 0730, 0800. Kenyataannya masih ga kuat bangun. Mungkin kemarin memang capeks ekali tuntunin anak jalan-2. Akhirnya pun saya maklum kenapa orang sekarang lebih suka berkarir daripada urus anak, karena memang urus anak itu capek banget, untuk sebagian orang malah terkesan buang waktu dan tenaga. Maka untuk yang gak suka urus anak saya gak maksain orang untuk punya anak. Tapi emang bagi saya dekat dengan anak sendiri merupakan suatu kesenangan tersendiri. Karena anak adalah bagian mahluk yang paling kita percayai selain diri sendiri. Mungkin orang lain kita bisa tak percaya. Asal tau saja kalau sama anak orang lain mah saya gak peduli banget, dengan keponakan sendiri saja gitu-gitu doang. Lain dong dengan anak sendiri, yang bisa kita program dan bentuk sesuai yang kita mau.
Langsung bangun tidur saya tancap gas. Acara hari ini memang cukup padat, yaitu acara keliling Bank. Biasa bukan kelilingnya yang repot, tapi antri nya yang buang waktu banget.
Bayangin jam 1000 saya sudah sampai bank pertama, jam 1230 baru selesai semua. Anak ke-1 yang ceweq menemani saya dengan setia. Saya senang karena ada yang menemani, asyik kan punya anak.
Wednesday, October 17, 2007
17-10-2007 : Penang Restaurant
Hari ini adalah hari pertama buka toko. Saya bangun pagi-2 pk 0730 lalu bersiap-siap untuk membereskan tas kerja saya.Pk 0900 saya berangkat keluar pergi mencari tukang tambal ban dulu. Melihat ban saya yang kempes kemarin apakah masih bisa "diselamatkan". Ternyata ban dalam robek habis. Wah, parah. Harus beli ban dalam baru. Mana tukang tambal ban nya gak punya ban dalam baru lagi, ada yang bekas mau dilepas Rp 30rb. Saya ga mau orang sudah ditambal sekali koq, ketawan ada melendungnya di di luar 1 titik.
Jadi saya pikir tunggu besok deh untuk beli ban dalam baru, mudah-2n besok sudah banyak toko ban yang buka. Dari tukang tambal ban langganan saya pergi ke toko. Buka toko. Seusai acara buka toko, saya langsung keliling ke dalam setengah memberitahukan kepada langganan bahwa toko saya sudah dibuka kembali. Kalau tidak siapa yang tau sudah buka, untuk membuat orang tau kan lama sekali prosesnya.
Jam 1300 saya sudah jalan pulang kembali ke rumah, toh ada karyawan 1 orang yang sudah jaga, saya mau bawa keluarga pergi makan siang dulu.
Sampai di rumah cuma tunggu di luar, anak istri sudah siap masuk mobil, kami pun langsung
Oh ya, sebelum sampai Penang Restaurant kami meliwati kebakaran di Kompleks Ruko Greenville, tepatnya di Alfa Minimarket ruko lantai 4 (paling atas), tepat bersebelahan dengan Soto Kudus Blok M. Karena terburu-2 saya foto seadanya tapi api dan asap gak gitu jelas. Karena suasana ramai sekali. Istri saya sangat takut melihatnya karena trauma atas kebakaran lalu. Wah, saya pikir kalau suasana lebaran gini ada kebakaran kasihan yah, sebab kan sepi, yang ruko sebelahnya mungkin lagi pergi berlibur, wah serem banget deh.
Usai dari Penang Restaurant, istri saya mau beli roti, wah dimana yah, masak tiap hari ke Holland Bakery..?? Bosen dong. Saya usul gimana kalau ke Imperial Bakery di Puri Mall, kan ga jauh-2 banget dari Tanjung Duren. Jadi kami langsung tarik ke sana. Saya pikir pasti ramai, ternyata sepi-sepi saja, malah kesannya lebih sepi dari Hari Minggu. Disana saya bener-2 cuma beli roti, tapi di Cutting Edge mata saya tertuju kepada sebuah Mini Notebook Kohjinsa. Wah keren juga yah, cuma 990gr !! Resolusi 800 x 480 dpi. Cuma sayangnya prosesor AMD (gak jelas AMD jenis apa) dan DDRAM 512 Mb only !!. Wah, ini mah cuma bisa ngetik dan internet, Mendingan pakai PocketPC juga masih ok lah. Saat ini untuk bisa mengetik dimana-mana saya masih bermodal PocketPC dengan Folding Keyboard.
Waktu menunjukkan Pk 1730. Sudah waktunya pulang dan istirahat, dan beres-beres rumah lagi, ginilah kalau sudah berkeluarga. Ada yang harus di tanggung dan ada yang harus dijawab kalau sewaktu-waktu ditanya.
Tuesday, October 16, 2007
16-10-2007 : Under Preassure
Hari Selasa ini benar-2 melelahkan. Setelah dari perjalanan yg cukup panjang kemaren. Hari ini saya masih jadi pengangguran. Nggak tau mau kemana. Maka bangun tidur saya mengerjakan urusan rumah diantaranya membereskan barang-2 yg berserakan di lantai, terutama mainan-mainan anak yang tak terbereskan. Mengganti air di bak kura-2 dan mengisi air minum serta mengganti galon dispenser yang habis. Saya salut juga dengan istri saya yang walaupun lagi hamil muda tapi dia masih sempat-2 nya menyiram kebun (sebagian), mencuci dan menjemur baju, menyetrika dan malah menyiapkan makan pagi. Kalau siang biasa saya ajak makan luar karena kasihan harus cuci piring lagi. Malam biasanya kami baru makan di rumah lagi. Sebab malam kita semua ada waktu untuk mencuci piring dan menjemur handuk dll.
Jam 1 siang semua sudah beres, anak bangun kesiangan sehingga jam 1 siang baru pada selesai mandi. Kami akhirnya sepakat ke Pondok Indah Mall, karena saya sudah 1 tahun lebih gak kesana, lagian saya pengen makan ke Kenny Rogers karena sudah 3 tahun kali gak makan disana. Eh ternyata belakangan saya baru tau kalau sudah tutup.
Pk 1400 kami masuk ke pelataran parkir PI Mall I, "Valet saja" kata istri saya (keren juga mobil Kijang koq valet). Habisnya parkirannya sudah rame banget. Baru nyari-2 valet parking di Pintu Timur, tiba-2 bag security Pi Mall memberitahu saya kalau ban kiri belakang kempes. Waduh, untung oleh pak security saya boleh parkir dahulu di parkiran bongkar muat barang.
Saya mohon kepada Pak Security (sorry gak nanya namanya) untuk bantu saya mengganti ban mobil, sebenernya semuanya saya kerjakan sendiri sih, Pak Security cuma bantu menjaga dan memegangi ban waktu dipasang ke body mobil. Kebetulan beliau juga pernah membantu mengganti ban mobil kijang milik seorang ibu disana. Tampaknya daerah parkiran sana rawan kempes. Sebab ternyata yang bikin kempes ban saya adalah sebuah obeng yang cukup panjang, yang berhasil merobek-robek ban dalam saya. Untunglah peraltan saya lengkap dan ban serep dalam keadaan baik. Hanya kurang angin. Untuk itu saya selalu sedia pompa accu di setiap mobil saya. Selesai ganti ban serep, saya mengisi angin ban. Tekanan saya atur sementara di 28, sebab khawatir kalau terlalu lama nanti pompa accu saya rusak (sudah 2 kali kejadian nih pemakaian diatas 20 menit jebol karena gesekan udara yg terlalu panas).
Sementara saya ganti ban dan parkir. Istri dan anak-2 saya minta masuk ke dalam mall dulu. Cari makan siang. Wah tangan saya hitam-hitam gak keruan. Untung masuk mall dekat toilet jadi saya bisa cuci tangan disana.
Dari PI Mall I kami menyebrang ke PI Mall II dan mampir ke Watson. Setelah itu jam 1730 kami pun jalan pulang kembali ke rumah dan mungkin untuk ke PI Mall lagi kami akan kembali tahun depan mengingat jalanan yang macet kalau pergi pada waktu normal.
Duh, Ada-ada aja yah kayaknya hidup saya akhir-2 ini, gak heran saya gampang kurus dari 78,5 kg sekarang menjadi 75 kg saja.
Jam 1 siang semua sudah beres, anak bangun kesiangan sehingga jam 1 siang baru pada selesai mandi. Kami akhirnya sepakat ke Pondok Indah Mall, karena saya sudah 1 tahun lebih gak kesana, lagian saya pengen makan ke Kenny Rogers karena sudah 3 tahun kali gak makan disana. Eh ternyata belakangan saya baru tau kalau sudah tutup.
Pk 1400 kami masuk ke pelataran parkir PI Mall I, "Valet saja" kata istri saya (keren juga mobil Kijang koq valet). Habisnya parkirannya sudah rame banget. Baru nyari-2 valet parking di Pintu Timur, tiba-2 bag security Pi Mall memberitahu saya kalau ban kiri belakang kempes. Waduh, untung oleh pak security saya boleh parkir dahulu di parkiran bongkar muat barang.
Saya mohon kepada Pak Security (sorry gak nanya namanya) untuk bantu saya mengganti ban mobil, sebenernya semuanya saya kerjakan sendiri sih, Pak Security cuma bantu menjaga dan memegangi ban waktu dipasang ke body mobil. Kebetulan beliau juga pernah membantu mengganti ban mobil kijang milik seorang ibu disana. Tampaknya daerah parkiran sana rawan kempes. Sebab ternyata yang bikin kempes ban saya adalah sebuah obeng yang cukup panjang, yang berhasil merobek-robek ban dalam saya. Untunglah peraltan saya lengkap dan ban serep dalam keadaan baik. Hanya kurang angin. Untuk itu saya selalu sedia pompa accu di setiap mobil saya. Selesai ganti ban serep, saya mengisi angin ban. Tekanan saya atur sementara di 28, sebab khawatir kalau terlalu lama nanti pompa accu saya rusak (sudah 2 kali kejadian nih pemakaian diatas 20 menit jebol karena gesekan udara yg terlalu panas).
Sementara saya ganti ban dan parkir. Istri dan anak-2 saya minta masuk ke dalam mall dulu. Cari makan siang. Wah tangan saya hitam-hitam gak keruan. Untung masuk mall dekat toilet jadi saya bisa cuci tangan disana.
Dari PI Mall I kami menyebrang ke PI Mall II dan mampir ke Watson. Setelah itu jam 1730 kami pun jalan pulang kembali ke rumah dan mungkin untuk ke PI Mall lagi kami akan kembali tahun depan mengingat jalanan yang macet kalau pergi pada waktu normal.
Duh, Ada-ada aja yah kayaknya hidup saya akhir-2 ini, gak heran saya gampang kurus dari 78,5 kg sekarang menjadi 75 kg saja.
Monday, October 15, 2007
15-10-2007 : Cibubur Junction
Masuk Tol Pk 11.19, jalan santai 80 km/hr jam 11.58 sudah sampai Cibubur Junction, wah taunya tempatnya ok juga tuh, bersih dan terawat. Dan gak gede-2 amat, cocok untuk jalan-jalan lah. Cuma 3 lantai koq plus 1 lantai LG untuk Hypermart. Jadi gak capek-2 bener.
Baru datang pertama-2 kami cuma makan di Steak21. Gak ada di sekitar Jakarta, adanya di Bekasi dan Cibubur seta Bogor doang, makanya penasaran lah dicoba. Eh ternyata lumayan juga. Karena wangi nya terasa (mungkin di grill dengan arang, bukan kompor). Juga taruhnya di hotplate panas, jadi bener-2 resap rasanya. Steak jaman sekarang bikinnya kayak asal-2an, di taruh di piring saja. Modal sih memang lebih murah, tapi gak kerasa steak nya.
Cabut dari Cibubur Junction tadinya kami berencana ke Citos atau PI Mall, tapi denger-2 TB Simatupang macetnya minta ampun, sampe akhirnya saya meneruskan perjalanan ke semanggi dan cabut ke dharmawangsa square saja. Saya pikir anak-2 akan gembira diajak kesana, kenyataannya mereka malah kurang interest, baru ingat dharmawangsa square itu gelap, anak-2 kurang interest jalan kesana, apalagi satpamnya lebih banyak daripada pengunjungnya. Jadi kami hanya putar-2 sebentar (apalagi Toys R’Us udah ga ada). Lalu ke Ranch Market, setelah itu tarik pulang pk 15.35
Seperti biasa pk 1600 saya mesti ngisi perut sebentar supaya makan malam bisa diundur ke jam 2000. Jadi saya mampir ke Ayam Goreng Jakarta Tanjung Duren. Disana anak ke-2 sudah tidur, kami taruh di trolley. Si Kakak makan nasi uduk plus ayam goreng dan ikan bakar. Wah sebetulnya jujur aja sih rasanya biasa-2 aja, apalagi sambal cobeknya mesti bayar lagi. Berhubung yg doyan sambal Cuma saya maka saya gak pesan lah sambalnya, biarin aja makan pakai cabe seadanya dan kecap manis pun ok.
Setelah itu kami pun pulang kerumah dalam keadaan masih terang. Perjalanan hari ini selesai.
15-10-2007 : Mouse Hunt
Saya sebetulnya sudah merasakan adanya tikus semenjak sering mendengar suara krasak-krusuk di belakang kontener buku saya waktu saya membuka laci koleksi donal bebek saya. Hal itu dipertegas dengan 11 Oktober malam istri saya menyaksikan sendiri sang tikus ada diatas meja makan sedang menyantap sisa makanan yang ada. Istri saya sudah baik-2 menyuruh sang tikus keluar rumah dengan menyodok-nyodok, eh malah si tikus sembunyi ke dalam kontener buku saya lagi.
Paginya istri menceritakan kepada saya perihal tamu tersebut. Berhubung istri lagi hamil (lagi) dan tidak ada pembantu maka saya berencana mengeluarkan tikus tsb dari rumah dengan kondisi sbb : 1 Tikus tidak boleh dibunuh dengan racun dsb, karena akan menimbulkan bangkai 2 Tikus tidak boleh pakai lem gajah sebab sulit untuk melepaskan nya kembali ke alam.
Jadi solusi nya sesuai kesepakatan bersama adalah, kami akan membeli perangkap tikus dan apabila sudah ketangkap, maka akan dilepas di luar rumah. Maka langkah pertama adalah ke Jameson’s Meruya untuk membeli perangkap tikus, satunya Rp 23.500 saya beli 2 sebab saya kesulitan melokalisasi tikus itu. Jadi makin banyak perangkap memperbesar kemungkinan tikus tsb terperangkap. Langkah ke dua, adalah menentukan umpan dan lokasi. Umpan pertama adalah tulang opor ayam bekas makan saya, dimana saya pikir sang tikus pasti akan tertarik untuk mencicipinya (berhubung saya juga doyan nih, hahaha). Lokasi pertama saya tempatkan di tempat terakhir saya melihat tikus tb, yaitu di dekat kontener dan ke dua saya taruh dekat dispenser air, sebab analisa menunjukkan harus nya dia lewat daerah situ setelah di belakang kontener.
Tunggu punya tunggu ternyata hari pertama gagal, sama sekali tidak ada hasil, mungkin opor ayam nya keliwat pedas sehingga sang tikus bukan mampir ke perangkap, malah menggaruki pintu kamar tidur saya. Bahkan melubangi kawat nyamuk di ruang tengah. Tentu saja saya bingung, berarti dia jalan jauh juga dari kontener buku ke pintu kamar saya bisa kena 15m-an. Jadi Langkah ke 3 adalah istri saya beli ikan asin di Hero Supermarket (keren amat, tikus dikasih ikan asin supermarket), maklum, menjelang lebaran pasar sudah pada tutup.
Malam nya kami menggoreng ikan asin tsb. Mmmm…. Bau nya (wangi nya) meyebar ke seluruh ruangan tengah, gilee…. Jadi mau ikut makan. Dan umpan pun diganti. Tapi masih gak berhasil. Maka beajar dari kesalahan 2 malam itu saya akhirnya berkesimpulan, mungkin lokasi nya yang salah, malah jam 2 pagi sekali lagi pintu saya digaruk-garuk sama tikus itu sampai takut banget keluar kamar. Maka lokasi nya kali ini saya pindah. Satu perangkap saya taruh di depan pintu kamar saya, perangkap ke dua malah saya taruh di jalan antara kontener dan dispenser, jadi ditaruh di tengah-2 jalan. Saya ingat yang namanya tikus itu senangnya di lapangan terbuka, dia akan lari terus, dia akan mojok, kalau ada manusia atau sedang cari makan.
Ahasil 15 Oktober pk 06.30 istri membangunkan saya. “Tikusnya kena” kata sang istri. Wah kaget campur senang, campur jijik. Tapi saya lihat tikusnya bersih koq. Jadi ingat hamster tukang sepeda di taman kosmos yang saya belai-belai beberapa waktu yang lalu, Cuma bedanya hamster tidak hitam dan buntutnya gak panjang. Lincahnya bukan main, bahkan bisa dalam posisi terbalik berusaha menggigit kawat supaya bisa keluar. Segera saya bawa keluar tikus tsb ke luar rumah, bukan keluar pintu lagi, di depan jalanan saya lepaskan kunci perangkapnya, gak usah tunggu lama-2, 2 detik kemudian sang tikus sudah melmpat keluar perangkap dan berlari langsung ke tengah jalan menuju trotoar, sekali lagi tikus kalau lari pasti cari jalanan terbuka. Saya pun berkata, “Jangan balik lagi yah” hahaha, hebatnya sang tikus seperti mengerti kata-2 saya dan berlari terus tanpa kembali menuju ke rumah saya. Begitu sampai pinggir trotoar sang tikus kebingungan, karena trotoar jalanan depan rumah yang tinggi nya 30cm. dia pun masuk ke dalam kantong plastik isi sampah di jalanan. Malang baginya ketemu orang yang lagi jogging sendirian dan di tendang-tendang lah tuh plastik berisi tikus. Saya dan istri tersenyum melihatnya, tapi setidak nya misi kami berhasil. Berkat kesabaran dan taktik yang cukup baik dan mengena. Demi kebersihan rumah kami.
Di dedikasi kan kepada pencipta perangkap tikus : mengusir tikus tapi tidak membunuh.
Wednesday, October 10, 2007
09-10-2007 : Room-ing Inferno
Mungkin anda akan terperangah membaca kisah ini.
Hari Senin 08-10-2007, pembantu infal yang di kirim mertua untuk membantu istri saya, pk 1000 meminta kembali ke tempat mertua saya dengan alasan tidak betah, sebetulnya saya sudah menganjurkan supaya hari itu juga dikirim balik ke rumah mertua, Cuma mertua mau jemput esok hari tgl 09-10-2007.
Hari Selasa, 09-10-2007, Pk 0415, tiba-2 istri saya membangunkan saya “Man, cepetan kata pembantu di bawah kamarnya ada api !!!” Segera tanpa tanya lagi, saya turun kebawah dan sudah melihat kasur tidur nya di bagian tengah sudah ada api menyala. Sial nya kacamata ketinggalan, padahal ada di sebelah saya waktu saya tidur. Untungnya kamar pembantu posisi nya rada terpisah dengan rumah saya. Segera saya perintah istri saya untuk mematikan aliran listrik karena khawatir kosleting, kalau koslet, maka kebakaran kemungkinan meluas dan bisa memadamkan PLN sekitar kompleks saya.
Sial nya karena kasur, dalam waktu 5 menit, api segera menyebar ke seluruh bagian kasur. Kebetulan pembantu saya saya berikan ranjang spring bed bekas kakak saya yang kena banjir lalu. Dalam 5 menit itu sudah banyak yg saya kerjakan, diantaranya saya minta karung disiram air, ember serta ambil pemadam kebakaran simpenan saya, tapi kelihatannya sudah terlambat, api cepat sekali menyebar. Yang penting tidak menimbulkan tekanan ke luar dan menjalar kemana-mana, maka saya segera menendang pintu agar terbuka lebar-lebar dan membuka jendela kamar, agar asap bisa keluar, begitu buka jendela segera asap membumbung tinggi ke luar sehingga menyulitkan saya untuk memadamkan api yang ada. Sial nya tabung pemadam kebakaran macet (gugup gak bisa di pencet keluar belakangan setelah selesai malah bisa keluar dengan baik). Maka senjata saya tinggal kain-2 basah dan air yang ada. Beruntung kamar pembantu saya depannya ada kran air, dan saya selalu menampung air malam hari, jadi pagi bisa dipakai untuk mencuci. Jadi saya lebih konsentrasi memadamkan bagian kanan dari kebakaran tsb. Cuma karena asap yang semakin banyak dan timbul ledakan-ledakan kecil dari busa kasur yang terbakar, maka saya dengan sisa suara yang ada (karena sudah kering terkena panas api yang membara) berteriak kepada istri saya untuk meminta bantuan hansip. Sial lagi repot-2 isi air di kran baru inget belum pipis bangun tidur, ngompolin aja di celana toh gak ada yg lihat lah, hahaha.
Kebetulan tgl 6-7 Oktober lalu saya baru saja memberikan THR kepada hansip-hansip di RW saya (rutin setiap tahun), sehingga mereka kenal saya dengan baik. Begitu mendengar rumah saya yang terbakar mereka segera datang pk 04.35 dan membantu sebisanya, jumlahnya sekitar 10 orang saya hitung.
Sambil menunggu hansip datang karena saya sudah gak mampu untuk memadamkan api sebelah kiri (karena tertutup pintu), maka saya hanya bisa menyiram pintu supaya basah terus dan api tidak membakar pintu (supaya tidak menjalar). Hal ini biasa pada peristiwa kebakaran dimana yang disiram itu sebetul nya bukan apinya tapi daerah sekitar nya supaya menjadi lembab dan tidak menjalar. Gawat nya justru di balik pintu itu ada kontener plastik tempat biasa pembantu-pembantu lama saya menaruh baju-baju nya, Kipas angin dan alat-2 dapur, tentu saja api menjadi terkonsentrasi disana dan asap menjadi hitam karena kali ini yang terbakar adalah plastik kontener. Sekarang harapan satu-2 nya adalah api tidak menjalar dan mati sendiri.
Begitu pasukan hansip datang maka pekerjaan menjadi lebih cepat, karena mereka yang sudah terlatih untuk memadamkan api, beberapa menggunakan air got untuk menyiram ke arah api, disini api tertimbun lumpur got, jadi tidak menyala lagi. Nah sisanya sebelah kiri di pamungkasi dengan tabung pemadam kebakaran milik RW. Wah akhirnya pk 05.05 kebakaran sudah selesai di padamkan. Tapi kerusakan yang terjadi cukup parah. Atap Gypsum saya rubuh dan melumatkan pipa-pipa pralon air saya yang menghubungkan WC saya di lantai 2. Ironis nya WC itu adalah WC kamar yang saya tiduri hari itu (saya tidur pisah dari istri dan anak, lebih banyak tidur dengan komputer disamping dan notebook serta berkas-berkas kantor). Sampai cerita ini saya ketik WC nya belum bisa dipakai dan saya terpaksa menaruh pispot utk sewaktu-2 kalau kebelet. Apes deh.
Nah selesai kebakaran hebatnya saya bisa nyalain lagi listrik saya, oh ya, di rumah pakai 3 fase, jadi 2 fase ternyata bisa nyala lagi tapi 1 fase gak bisa, berarti ada koslet di fase itu, gak heran sebab kabel nya aja gak tersisa barang 1. Jadi pk 0630 buru-2 saya telepon Pak Bambang, langganan tukang listrik saya menceritakan keadaan demikian, dan pk 0830 Pak Bambang dengan anak buahnya sudah datang untuk membereskan listrik bagian situ. Karena mau masuk masa lebaran maka saya berkeputusan untuk tidak melakukan perbaikan, paling saya memutuskan aliran-2 kabel yang terbakar. Jadi setelah di putus, fase ke-3 sudah bisa menyala kembali. Rumah saya sekarang listrik nya 95 pct sudah pulih, hanya 4 titik lampu yang tidak berfungsi. Nanti akan diperbaiki setelah masa lebaran lewat.
Nah kembali pada waktu kebakaran. Pada waktu hansip-2 sedang bantuin kebakaran, tiba-2 disebelah saya sudah berdiri seorang polisi yang tanya ini itu, misalnya apa penyebab kebakaran, siapa penyebab nya dan apakah asalnya dari kosleting listrik. Saya menjawab seadanya, yaitu penyebab kebakaran ada pembantu saya, buktinya ini yang terbakar sekarang adalah kamar tidur pembantu saya, penyebabnya sesuai keterangan pembantu adalah karena menyalakan obat nyamuk bakar. Dan bukan karena kosleting, karena kalau penyebabnya karena kosleting pasti lampu 1 kompleks padam, buktinya hanya lampu saya yang padam (karena dari awal aliran listrik PLN sudah saya putus). Untuk verifikasi, sekali lagi polisi menanyai istri saya yg hari itu menjaga di pintu luar supaya tidak ada orang lain yg masuk selain hansip. Jawaban nya sama, karena tidak ada yg berbohong untu kasus ini, lagian orang lagi sibuk madami api koq masih sempetnya nanya-nanya, bukan bantuin sekalian. Hasilnya begitu denger penyebabnya pembantu, tuh polisi ngeloyor pergi gitu aja, Heran juga logika nya mestinya tuh pembantu ditangkap yah, hehehe. Dia ogah kali karena pembantu ga ada duitnya.
Selesai Memadamkan api akhirnya kami pun beres-2 bersama hansip sampai pk 05.30 Diantaranya sisa ranjang yang berupa spiral-2 besi dikeluarkan dari kamar, hebatnya tidak terasa panas sama sekali. Jadi saya minta aja sekalian kepada para hansip untuk dikeluarkan semua barang-2 yang sudah terbakar. Habis itu saya kasih mereka uang terima kasih. Mereka juga bilang “beginilah pak kalau ingat-2 kepada kami yg mau lagi lebaran”, hehehe…Jadi mereka ingat saya dan mau bantuin maksudnya. Yah sudah lah, yang penting urusan sudah selesai, kebakaran tidak menjalar, dan hebatnya lagi kedua anak saya masih dalam posisi tidur nyenyak !!! Saya tidak mau membangunkan anak saya kalau kebakaran tidak menjalar, buat apa, malah tambah merepotkan, kecuali kebakaran merambat dan potensial bahaya, maka saya akan menyuruh mereka keluar rumah. Begini saja saya sudah kehilangan tabung gas LPG 1 buah. Padahal seingat saya semua tabung saya yang pindahin ke taman tengah, tapi ada aja yg embat, karena gelap kali. Seorang hansip mengaku sepatu nya rusak karena membantu memadamkan api, segera saya berikan sepatu kerja saya yang biasa saya pakai, toh sepatu tsb beli di Carrefour harganya Rp 59.900. Bisa saya beli lagi besok-besok. Cuma ada beberapa orang lari pagi aja yg nontonin koq, Pemadam kebakaran jangan kisah deh, diteleponin pun gak mau datang. Hebat kan Indonesia, hehehe. Semua harus diurus sendiri. Gak bisa andalkan orang lain.
Yah gitu deh kira-kira cerita dan perjuangan saya melawan api sendirian yang akhirnya dibantu hansip. Pk 05.45 saya baru sadar bahwa ternyata saya menderita luka-2 karena kebakaran tersebut, tangan kiri saya ada 2 baret bakar seperti tertimpa besi panas panjangnya 12cm. Mata saya kalau gak dilindungi Tuhan mungkin sudah buta karena kena bara api, 0,5 mm di bawah kelopak mata. Tangan Kanan kulitnya sedikit perih. Kaki kanan dan kiri kejatuhan bara api dan keinjak beling (kaca jendela pada pecah dan menimpa saya waktu saya sibuk memadamkan api sendirian). Tapi setidak-tidaknya semua selamat, baik jiwa dan rumah. Saya menggunakan Bio Placenton untuk penyembuhan luka bakar yang saya alami. 3 hari pertama saya jalan harus menyeret-nyeret kaki karena luka bakar yang saya alami lumayan bikin perih, apalagi kalau habis mandi. Mata saya susah melek 2 hari, tapi sudah mendingan sih, hanya jadi banyak kotoran di kelopak mata. Bibir saya hitam seharian dan kalau makan seperti sekalian makan norit (arang).
Beberapa hansip cukup salut dengan saya, karena berani berjuang melawan api sendirian dan dengan taktik yang baik, diantaranya menyirami pintu kayu terus menerus supaya pintu tidak terbakar, pintu nya sih tetap saja rusak. Panel copot, tapi beneran gak terbakar lho. Saya juga gak nyangka seberani itu. Mungkin pepatah ada benarnya yaitu DARI KETAKUTAN YANG SANGAT AKAN KELUAR KEBERANIAN YANG LUAR BIASA. Saya berani melakukan hal ini, karena rasa tanggung jawab saya yang besar terhadap rumah orang tua saya sendiri, dan kecintaan akan keluarga, dimana saya gak bisa bayangin kalau anak istri saya sedih karena tempat tinggal nya habis terbakar. Bahkan pada saat itu saya sempat berpikir kalau rumah terbakar habis saya rela menjadi martir ikut terbakar dengan rumah itu. Daripada saya harus mempertanggung jawabkan semuanya. Semua nya bisa terjadi, tetapi dengan dekat Tuhan kita pasti diberi kekuatan dan kesempatan untuk memperbaiki semua nya, termasuk tidak mendapat cobaan yang lebih berat lagi.
Saya sengaja tidak menempatkan foto kebakaran atau ruangan yang bekas terbakar agar tidak selalu mengingatnya. Hal-hal buruk tidak baik diingat terus menerus, karena apabila kita selalu mengingatnya maka berarti pikiran kita mundur, dan saya gak rela punya pikiran mundur hanya gara-2 seorang pembantu infal yang mungkin sakit jiwa. Bagi saya hanya menyia-nyiakan waktu dan tenaga.
Akhir Cerita : Belakangan kabar dari pembantu lama saya (di-hp oleh istri saya, karena mereka sudah pada mudik) tidak ada obat nyamuk bakar dalam kamar tsb Jadi apakah pembantu infal itu sengaja membakar kamar ? Wallahualam. Sekarang pembantu tsb hari itu juga sudah saya kembalikan ke mertua saya. Tuhan yang tau, Tuhan yang menghukumnya nanti. Bukan saya yang hanya manusia biasa……
Hari Senin 08-10-2007, pembantu infal yang di kirim mertua untuk membantu istri saya, pk 1000 meminta kembali ke tempat mertua saya dengan alasan tidak betah, sebetulnya saya sudah menganjurkan supaya hari itu juga dikirim balik ke rumah mertua, Cuma mertua mau jemput esok hari tgl 09-10-2007.
Hari Selasa, 09-10-2007, Pk 0415, tiba-2 istri saya membangunkan saya “Man, cepetan kata pembantu di bawah kamarnya ada api !!!” Segera tanpa tanya lagi, saya turun kebawah dan sudah melihat kasur tidur nya di bagian tengah sudah ada api menyala. Sial nya kacamata ketinggalan, padahal ada di sebelah saya waktu saya tidur. Untungnya kamar pembantu posisi nya rada terpisah dengan rumah saya. Segera saya perintah istri saya untuk mematikan aliran listrik karena khawatir kosleting, kalau koslet, maka kebakaran kemungkinan meluas dan bisa memadamkan PLN sekitar kompleks saya.
Sial nya karena kasur, dalam waktu 5 menit, api segera menyebar ke seluruh bagian kasur. Kebetulan pembantu saya saya berikan ranjang spring bed bekas kakak saya yang kena banjir lalu. Dalam 5 menit itu sudah banyak yg saya kerjakan, diantaranya saya minta karung disiram air, ember serta ambil pemadam kebakaran simpenan saya, tapi kelihatannya sudah terlambat, api cepat sekali menyebar. Yang penting tidak menimbulkan tekanan ke luar dan menjalar kemana-mana, maka saya segera menendang pintu agar terbuka lebar-lebar dan membuka jendela kamar, agar asap bisa keluar, begitu buka jendela segera asap membumbung tinggi ke luar sehingga menyulitkan saya untuk memadamkan api yang ada. Sial nya tabung pemadam kebakaran macet (gugup gak bisa di pencet keluar belakangan setelah selesai malah bisa keluar dengan baik). Maka senjata saya tinggal kain-2 basah dan air yang ada. Beruntung kamar pembantu saya depannya ada kran air, dan saya selalu menampung air malam hari, jadi pagi bisa dipakai untuk mencuci. Jadi saya lebih konsentrasi memadamkan bagian kanan dari kebakaran tsb. Cuma karena asap yang semakin banyak dan timbul ledakan-ledakan kecil dari busa kasur yang terbakar, maka saya dengan sisa suara yang ada (karena sudah kering terkena panas api yang membara) berteriak kepada istri saya untuk meminta bantuan hansip. Sial lagi repot-2 isi air di kran baru inget belum pipis bangun tidur, ngompolin aja di celana toh gak ada yg lihat lah, hahaha.
Kebetulan tgl 6-7 Oktober lalu saya baru saja memberikan THR kepada hansip-hansip di RW saya (rutin setiap tahun), sehingga mereka kenal saya dengan baik. Begitu mendengar rumah saya yang terbakar mereka segera datang pk 04.35 dan membantu sebisanya, jumlahnya sekitar 10 orang saya hitung.
Sambil menunggu hansip datang karena saya sudah gak mampu untuk memadamkan api sebelah kiri (karena tertutup pintu), maka saya hanya bisa menyiram pintu supaya basah terus dan api tidak membakar pintu (supaya tidak menjalar). Hal ini biasa pada peristiwa kebakaran dimana yang disiram itu sebetul nya bukan apinya tapi daerah sekitar nya supaya menjadi lembab dan tidak menjalar. Gawat nya justru di balik pintu itu ada kontener plastik tempat biasa pembantu-pembantu lama saya menaruh baju-baju nya, Kipas angin dan alat-2 dapur, tentu saja api menjadi terkonsentrasi disana dan asap menjadi hitam karena kali ini yang terbakar adalah plastik kontener. Sekarang harapan satu-2 nya adalah api tidak menjalar dan mati sendiri.
Begitu pasukan hansip datang maka pekerjaan menjadi lebih cepat, karena mereka yang sudah terlatih untuk memadamkan api, beberapa menggunakan air got untuk menyiram ke arah api, disini api tertimbun lumpur got, jadi tidak menyala lagi. Nah sisanya sebelah kiri di pamungkasi dengan tabung pemadam kebakaran milik RW. Wah akhirnya pk 05.05 kebakaran sudah selesai di padamkan. Tapi kerusakan yang terjadi cukup parah. Atap Gypsum saya rubuh dan melumatkan pipa-pipa pralon air saya yang menghubungkan WC saya di lantai 2. Ironis nya WC itu adalah WC kamar yang saya tiduri hari itu (saya tidur pisah dari istri dan anak, lebih banyak tidur dengan komputer disamping dan notebook serta berkas-berkas kantor). Sampai cerita ini saya ketik WC nya belum bisa dipakai dan saya terpaksa menaruh pispot utk sewaktu-2 kalau kebelet. Apes deh.
Nah selesai kebakaran hebatnya saya bisa nyalain lagi listrik saya, oh ya, di rumah pakai 3 fase, jadi 2 fase ternyata bisa nyala lagi tapi 1 fase gak bisa, berarti ada koslet di fase itu, gak heran sebab kabel nya aja gak tersisa barang 1. Jadi pk 0630 buru-2 saya telepon Pak Bambang, langganan tukang listrik saya menceritakan keadaan demikian, dan pk 0830 Pak Bambang dengan anak buahnya sudah datang untuk membereskan listrik bagian situ. Karena mau masuk masa lebaran maka saya berkeputusan untuk tidak melakukan perbaikan, paling saya memutuskan aliran-2 kabel yang terbakar. Jadi setelah di putus, fase ke-3 sudah bisa menyala kembali. Rumah saya sekarang listrik nya 95 pct sudah pulih, hanya 4 titik lampu yang tidak berfungsi. Nanti akan diperbaiki setelah masa lebaran lewat.
Nah kembali pada waktu kebakaran. Pada waktu hansip-2 sedang bantuin kebakaran, tiba-2 disebelah saya sudah berdiri seorang polisi yang tanya ini itu, misalnya apa penyebab kebakaran, siapa penyebab nya dan apakah asalnya dari kosleting listrik. Saya menjawab seadanya, yaitu penyebab kebakaran ada pembantu saya, buktinya ini yang terbakar sekarang adalah kamar tidur pembantu saya, penyebabnya sesuai keterangan pembantu adalah karena menyalakan obat nyamuk bakar. Dan bukan karena kosleting, karena kalau penyebabnya karena kosleting pasti lampu 1 kompleks padam, buktinya hanya lampu saya yang padam (karena dari awal aliran listrik PLN sudah saya putus). Untuk verifikasi, sekali lagi polisi menanyai istri saya yg hari itu menjaga di pintu luar supaya tidak ada orang lain yg masuk selain hansip. Jawaban nya sama, karena tidak ada yg berbohong untu kasus ini, lagian orang lagi sibuk madami api koq masih sempetnya nanya-nanya, bukan bantuin sekalian. Hasilnya begitu denger penyebabnya pembantu, tuh polisi ngeloyor pergi gitu aja, Heran juga logika nya mestinya tuh pembantu ditangkap yah, hehehe. Dia ogah kali karena pembantu ga ada duitnya.
Selesai Memadamkan api akhirnya kami pun beres-2 bersama hansip sampai pk 05.30 Diantaranya sisa ranjang yang berupa spiral-2 besi dikeluarkan dari kamar, hebatnya tidak terasa panas sama sekali. Jadi saya minta aja sekalian kepada para hansip untuk dikeluarkan semua barang-2 yang sudah terbakar. Habis itu saya kasih mereka uang terima kasih. Mereka juga bilang “beginilah pak kalau ingat-2 kepada kami yg mau lagi lebaran”, hehehe…Jadi mereka ingat saya dan mau bantuin maksudnya. Yah sudah lah, yang penting urusan sudah selesai, kebakaran tidak menjalar, dan hebatnya lagi kedua anak saya masih dalam posisi tidur nyenyak !!! Saya tidak mau membangunkan anak saya kalau kebakaran tidak menjalar, buat apa, malah tambah merepotkan, kecuali kebakaran merambat dan potensial bahaya, maka saya akan menyuruh mereka keluar rumah. Begini saja saya sudah kehilangan tabung gas LPG 1 buah. Padahal seingat saya semua tabung saya yang pindahin ke taman tengah, tapi ada aja yg embat, karena gelap kali. Seorang hansip mengaku sepatu nya rusak karena membantu memadamkan api, segera saya berikan sepatu kerja saya yang biasa saya pakai, toh sepatu tsb beli di Carrefour harganya Rp 59.900. Bisa saya beli lagi besok-besok. Cuma ada beberapa orang lari pagi aja yg nontonin koq, Pemadam kebakaran jangan kisah deh, diteleponin pun gak mau datang. Hebat kan Indonesia, hehehe. Semua harus diurus sendiri. Gak bisa andalkan orang lain.
Yah gitu deh kira-kira cerita dan perjuangan saya melawan api sendirian yang akhirnya dibantu hansip. Pk 05.45 saya baru sadar bahwa ternyata saya menderita luka-2 karena kebakaran tersebut, tangan kiri saya ada 2 baret bakar seperti tertimpa besi panas panjangnya 12cm. Mata saya kalau gak dilindungi Tuhan mungkin sudah buta karena kena bara api, 0,5 mm di bawah kelopak mata. Tangan Kanan kulitnya sedikit perih. Kaki kanan dan kiri kejatuhan bara api dan keinjak beling (kaca jendela pada pecah dan menimpa saya waktu saya sibuk memadamkan api sendirian). Tapi setidak-tidaknya semua selamat, baik jiwa dan rumah. Saya menggunakan Bio Placenton untuk penyembuhan luka bakar yang saya alami. 3 hari pertama saya jalan harus menyeret-nyeret kaki karena luka bakar yang saya alami lumayan bikin perih, apalagi kalau habis mandi. Mata saya susah melek 2 hari, tapi sudah mendingan sih, hanya jadi banyak kotoran di kelopak mata. Bibir saya hitam seharian dan kalau makan seperti sekalian makan norit (arang).
Beberapa hansip cukup salut dengan saya, karena berani berjuang melawan api sendirian dan dengan taktik yang baik, diantaranya menyirami pintu kayu terus menerus supaya pintu tidak terbakar, pintu nya sih tetap saja rusak. Panel copot, tapi beneran gak terbakar lho. Saya juga gak nyangka seberani itu. Mungkin pepatah ada benarnya yaitu DARI KETAKUTAN YANG SANGAT AKAN KELUAR KEBERANIAN YANG LUAR BIASA. Saya berani melakukan hal ini, karena rasa tanggung jawab saya yang besar terhadap rumah orang tua saya sendiri, dan kecintaan akan keluarga, dimana saya gak bisa bayangin kalau anak istri saya sedih karena tempat tinggal nya habis terbakar. Bahkan pada saat itu saya sempat berpikir kalau rumah terbakar habis saya rela menjadi martir ikut terbakar dengan rumah itu. Daripada saya harus mempertanggung jawabkan semuanya. Semua nya bisa terjadi, tetapi dengan dekat Tuhan kita pasti diberi kekuatan dan kesempatan untuk memperbaiki semua nya, termasuk tidak mendapat cobaan yang lebih berat lagi.
Saya sengaja tidak menempatkan foto kebakaran atau ruangan yang bekas terbakar agar tidak selalu mengingatnya. Hal-hal buruk tidak baik diingat terus menerus, karena apabila kita selalu mengingatnya maka berarti pikiran kita mundur, dan saya gak rela punya pikiran mundur hanya gara-2 seorang pembantu infal yang mungkin sakit jiwa. Bagi saya hanya menyia-nyiakan waktu dan tenaga.
Akhir Cerita : Belakangan kabar dari pembantu lama saya (di-hp oleh istri saya, karena mereka sudah pada mudik) tidak ada obat nyamuk bakar dalam kamar tsb Jadi apakah pembantu infal itu sengaja membakar kamar ? Wallahualam. Sekarang pembantu tsb hari itu juga sudah saya kembalikan ke mertua saya. Tuhan yang tau, Tuhan yang menghukumnya nanti. Bukan saya yang hanya manusia biasa……
Sunday, September 16, 2007
16 September 2007
Hari ini anak laki-2 badannya rada panas, panas dari kemarin malam tampaknya. Saya juga bingung ada apa gerangan padahal siang dan sampai malam dalam keadaan baik-2 saja. Mungkin sedang masa pertumbuhan jadi keluar panas. Kadang anak Batita begitu. Mau tumbuh gigi, rada panas, mau tumbuh badan, rada panas, mulai bisa bicara, rada panas, dll, dll.
Jadi, rencana keluarga mau ke Plaza Senayan pun bubar, jadi saya hanya mau ke Mangga Dua saja untuk ke Carrefour belanja RT. Itu pun cuma saya dan anak perempuan yg pergi. Mama jaga si dede.
Eh, tahunya tiba-2 pk 1000 panasnya hilang, seger-2 lagi, sambil ketawa-ketiwi. Jadi ahasil, si adik pun dibawa serta ke Mangga Dua. Malah dia yang paling dulu turun ke garasi. Saya pun segera menyiapkan segala sesuatu nya.
Sesampai di mangga dua pk 1300, kamipun makan siang dan mampir ke Tehe Mangga Dua Square. Resto Vegetarian yang satu ini memang diolah rada beda. Sehingga orang yang tadinya kurang suka vegetarian pun jadi bisa terima perutnya. Si kakak biasa sukanya makan nasi ayam kremes (ayam bo'ongan). Istri saya memesan Nasi Bebek (sesuai rekomendasi saya - bebek bo'ongan), dan saya yang menyusul (dari WC), pesan bubur Hongkong (bubur beneran). Setelah kami makan maka saya ke lantai dua melihat 1st Computer Square untuk melihat-2 harga HDD 320 Gb, disana adanya merk Samsung dan Western Digital, saya sih cocoknya pakai Maxtor. List Price nya Rp 865rb. Saya pun telepon ke toko langganan tanya harga HDD Maxtor 320 Gb, EIDE, RP 795rb. Yah saya booking aja deh HDD nya, besok hari Senin saya ambil. Lagipula kalau ambil hari ini saya masih gak ada Case nya. HDD ini akan saya pergunakan untuk membackup film sambunga silat yang didapat dari teman saya. Lumayan, 1 seri 800mb, saya lihat 1 judul ada 40 seri = 32 GB kira-2 (format SVCD). 3 judul aja bisa 96 Gb. Belum lagi Handycam saya sudah lumayan penuh, mungkin perlu 15 Gb untuk Backup. Sudah 110 Gb yah. Terus saya mau backup film-2 perang saya yang legendaris ke HDD karena saya sudah gak percaya lagi sama yang namanya CD (bisa jamuran, melengkung, error, dsb), kayaknya 320 GB bisa langsung penuh deh.
Cita-2 saya sendiri nanti kalau saya mau nonton film, nanti tinggal mencari di server, lalu akan diputar, bisa melalui HDD, atau bahkan WiFi Networking, wah keren kan, nontonnya ?? Yah dari mana lagi kalau bukan dari notebook, atau dari PC desktop. Jadi nanti mah udah gak ada kalau mau nonton sesuatu ubek-ubek koleksi CD dahulu. Sudah ketinggalan jaman lah. Sekarang kan dunianya digital.
Sesudah itu saya ke Carrefour bersama si kakak. Kakak bilang kalau dia mau cari ring basket untuk si adik. Saya sih OK saja. Masalahnya mau di gantung dimana ?? Tiangnya ga ada. Kalau mau paku tembok, kalau adik tambah tinggi, masak maku tembok lagi ?? Mmm, saya pikir, cari yang plastik aja, nanti telpel saja pakai plug ban. Biar beres dan gak pusing.
Eh, tiba-2 pk 1530 si adik badannya panas lagi, untung mamanya bawa tempra. Pk 1700 kami pun buru-2 pulang ke rumah. Acara pun berakhir.
Jadi, rencana keluarga mau ke Plaza Senayan pun bubar, jadi saya hanya mau ke Mangga Dua saja untuk ke Carrefour belanja RT. Itu pun cuma saya dan anak perempuan yg pergi. Mama jaga si dede.
Eh, tahunya tiba-2 pk 1000 panasnya hilang, seger-2 lagi, sambil ketawa-ketiwi. Jadi ahasil, si adik pun dibawa serta ke Mangga Dua. Malah dia yang paling dulu turun ke garasi. Saya pun segera menyiapkan segala sesuatu nya.
Sesampai di mangga dua pk 1300, kamipun makan siang dan mampir ke Tehe Mangga Dua Square. Resto Vegetarian yang satu ini memang diolah rada beda. Sehingga orang yang tadinya kurang suka vegetarian pun jadi bisa terima perutnya. Si kakak biasa sukanya makan nasi ayam kremes (ayam bo'ongan). Istri saya memesan Nasi Bebek (sesuai rekomendasi saya - bebek bo'ongan), dan saya yang menyusul (dari WC), pesan bubur Hongkong (bubur beneran). Setelah kami makan maka saya ke lantai dua melihat 1st Computer Square untuk melihat-2 harga HDD 320 Gb, disana adanya merk Samsung dan Western Digital, saya sih cocoknya pakai Maxtor. List Price nya Rp 865rb. Saya pun telepon ke toko langganan tanya harga HDD Maxtor 320 Gb, EIDE, RP 795rb. Yah saya booking aja deh HDD nya, besok hari Senin saya ambil. Lagipula kalau ambil hari ini saya masih gak ada Case nya. HDD ini akan saya pergunakan untuk membackup film sambunga silat yang didapat dari teman saya. Lumayan, 1 seri 800mb, saya lihat 1 judul ada 40 seri = 32 GB kira-2 (format SVCD). 3 judul aja bisa 96 Gb. Belum lagi Handycam saya sudah lumayan penuh, mungkin perlu 15 Gb untuk Backup. Sudah 110 Gb yah. Terus saya mau backup film-2 perang saya yang legendaris ke HDD karena saya sudah gak percaya lagi sama yang namanya CD (bisa jamuran, melengkung, error, dsb), kayaknya 320 GB bisa langsung penuh deh.
Cita-2 saya sendiri nanti kalau saya mau nonton film, nanti tinggal mencari di server, lalu akan diputar, bisa melalui HDD, atau bahkan WiFi Networking, wah keren kan, nontonnya ?? Yah dari mana lagi kalau bukan dari notebook, atau dari PC desktop. Jadi nanti mah udah gak ada kalau mau nonton sesuatu ubek-ubek koleksi CD dahulu. Sudah ketinggalan jaman lah. Sekarang kan dunianya digital.
Sesudah itu saya ke Carrefour bersama si kakak. Kakak bilang kalau dia mau cari ring basket untuk si adik. Saya sih OK saja. Masalahnya mau di gantung dimana ?? Tiangnya ga ada. Kalau mau paku tembok, kalau adik tambah tinggi, masak maku tembok lagi ?? Mmm, saya pikir, cari yang plastik aja, nanti telpel saja pakai plug ban. Biar beres dan gak pusing.
Eh, tiba-2 pk 1530 si adik badannya panas lagi, untung mamanya bawa tempra. Pk 1700 kami pun buru-2 pulang ke rumah. Acara pun berakhir.
Saturday, September 15, 2007
Liburan Awal Puasa di Ancol
Tanggal 14 September saya dan keluarga beserta seluruh pembantu menyempatkan diri untuk mengunjungi Taman Impian Jaya Ancol. Seperti biasa setiap kali awal puasa dan Masuk Lebaran saya memberikan waktu untuk entertaintment pembantu, sudah 1 tahun kerja masak gak di kasih senang, sesuai dengan tradisi dari keluarga saya sejak kecil, kalau dulu ibu saya selalu ajak pembantu dan saya untuk pergi nonton ke bioskop, saya ingat waktu tahun 70an, kalau ga di Lokasari, Orient (mangga besar), terakhir di Kartini. Film nya biasa yang lucu-2 mdoel Doyok, Bagio, Ateng, dll. Pernah saya diajak nonton film Guna-Guna Istri Muda, wah takut juga, maklum saat itu saya masih umur 7 tahun.
Subscribe to:
Comments (Atom)