Disana tinggal ada 1 dian taxi dgn no 2295 tepat pk 1105 saya mulai mengarungi Jl. Panjang menuju ke JHCC.
Jalanan pada dasarnya cukup lancar. Malah Café Relasi yang depannya biasa macet dapat dilalui dgn baik oleh pak supir taxi. Tapi masuk daerah Kelapa Dua kemacetan baru terasa. Sangat tersendat-sendat.
Akhrnya sampai juga saya di JHCC tepat Pk 11.45. Berarti perjalanan memakan waktu selama 40 menit. Hari masih cerah, baru mulai mau ramai. Saya pikir pameran Indocomtech kali ini tidak seramai biasanya. Banyak stand yang tidak di datangi oleh pengunjung. Beberapa SPG saya lihat malah asyik bermain SMS, mungkin hari masih siang kali.
Di depan hall begitu masuk saya sudah mendapati majalah South Jakarta yang diperuntukkan bagi komunitas Jakarta Selatan. Lumayan, saya ambil 1 untuk saya baca-baca nantinya. Toh gratis.
Berikutnya saya justru masuk ke ruang sebelah kanan, di dominasi oleh Notebook. Acer, Asus, BYON, Fujitsu, Toshiba dll. Pintu masuk pertama sudah dihadang oleh Mobile Gear sebelah kanan. Yang bikin saya kecewa adala barang-2 yang dipamerkan sebenarnya gak beda jauh dengan yang ada di Gramedia (untuk Mobile Gear). Jadi percuma saja. Sekali lagi Pameran Indocomtech hanya berkesan sebagai ajang diskon bagi peserta nya.
Di Ujung saya mulai tertarik dengan penawaran Kamera Digital, sebab Fuji mengeluarkan Kamera Saku Digital yang cukup murah harganya, dan sudah 8 MP, yaitu Fuji FinePix F480. Wah Bagus juga, tapi 2 juta itu masih di luar target saya. Fuji ada keluarkan kamera digital saku yang standar dengan merk Mpix, tapi siapa yang bisa kata dengan kamera model gini ? Hebat sih 7 Megapixel hanya Rp 1.090.000, menggiurkan, bahkan yang 3 megapixel hanya dibandrol dengan harga Rp 299.000, Wah, untuk anak-2 muda sih sangat terjangkau banget. Kalau saya jadi anak sekolahan pasti saya ambil satu untuk dokumentasi. Entah walaupun HP sudah ada kamera tapi saya tetap tertarik menggunakan kamera saku, sebab hasilnya pasti lebih meyakinkan. Padahal Cybershot K800 sudah di tangan, tetap saja rasa saya ada yang kurang. Misalnya dalah hal penanganan kecepatan rana (shutter speed). Masih susah terkejar dengan kamera saku, apalagi dengan kamera profesional atau SLR.
Dari konter Fuji saya berbelok ke Fujitsu. Memang saat ini saya sedang melirik notebook-2 ukuran kecil maksimal 12” Wide lah dikarenakan usia saya yang menua sehingga kemampuan membawa notebook 2,8 kg semakin mengendur. Saya harus cari notebook yang beratnya 1 kiloan deh, kalau gak bisa modar lama-2. Pertama-tama saya pikir jawaban nya pada UMPC (Ultra Mini PC) Tapi saya lihat prosesor nya gak mendukung banget, bener-2 Cuma untuk ngetik dan lamban respon, tentu saja masih belum waktunya menurut saya memiliki UMPC. Saya lebih cenderung pada notebook 10 - 12 inchi. Tapi tentu saja tidak sekarang, mungkin tahun depan baru pikir-2 ganti.
Kalau sudah ngomong Fujitsu, masalah ada di harga, tapi barang-2 nya memang gak mengecewakan. Model P1610 dengan layarnya yang 8,9” dan beratnya 1 kg benar-2 membuat saya jatuh cinta. Rp 15,28 juta katanya. Wah, nanti yah kalau memang benar-2 butuh saya cari model begini.
Selesai dari Fujitsu, saya sowan ke pangkalan, yaitu stand Acer. Jujur saja saya rada ga suka melihat model nya yang sekarang ini. Kelihatannya kayak sabun gepeng. Saya lebih suka dengan model Acer Aspire saya yang kelihatan dewasa. Walaupun berseberangan dengan BYON, tapi saya hanya mampir ambil brosur di BYON, karena BYON tidak menyediakan notebook dengan layar dibawah 14”.
Keluar dari Hall kecil itu saya pindah ke Hall Utama. Masuk kesana, lha koq terkesan sepi, dan yang bikin saya gerah notebook lagi, notebook lagi, kayaknya gak habis-2, semua jual notebook. Maka saya pun gak berlama-lama di hall ini. Cuma ambil brosur sana sini terus saya tembus ke belakang. Disana saya mendapati sedikit perubahan tata letak. Axioo sekarang berani di tengah. Terus terang kalau untuk generasi 20+ notebook Axioo itu fun juga. Bayangkan saja, sparepart model batere dsb nya dijual dengan harga cukup ok, Misalnya batere nya Rp 500rb-an. Coba deh ke merk-2 yang sudah OK, baterenya di bandrol paling dikit Rp 1 juta. Saya sih sebenernya naksir juga lihat yang type NVS Dual Core yang berlayar 12,1” Wide Screen. Sayang Video Controller nya bukan Intel melainkan SiS Pro Logic. Kayaknya gimana gitu kalau Motherboard nya bukan Intel. Cuma ini resiko kalau mau kecil dan murah.
Kali ini saya gak mau mampir ke bagian Mangga Dua, sebab ramai sekali dan sangat memakan waktu, apalagi saya emang tidak mau banyak belanja aksesoris, dan sudah rada kelaparan karena waktu menunjukkan Pk 1300. Maka setelah dari stand TokoUSB pun saya mampir makan di café nya. Di café ini saya sudah langganan banget, Kayaknya kalau ada pameran di JHCC saya gak mau makan di tempat lain selain disini. Memang sih harganya minta mapun. Nasi Rames Rp 34.000 plus Air Mineral Rp 7.000 = Rp 41.000 Tapi rasanya seperti gak ada dimana-mana. Jadi nya ekslusif sekali. Hanya di JHCC, hehehe.
Selesai makan siang, maka mata saya tertuju kepada stand Camera Shop yang saya tau selama ini sangat rajin berpartisipasi di tiap pameran Indocomtech. Produk andalannya adalah Camera Case Lowerpro. Tapi kali ini mata tidak tertuju kepada Camera Case tetapi pada Camera nya langsung. Saya sangat tertarik pada penawaran Casio Exilim yang sudah lama menjadi dambaan saya. Yaitu Casio Exilim EX-Z75 dengan harga Rp 1.499.000, Wow, dulu waktu baru keluar kamera ini dibandrol Rp 2 jutaan. Kalau sudah dibawah 2 juta sih not bad yah untuk kamera 7,2 Megapixels, apalagi saya dari dulu paling senang dengan mode Best Shot nya yang sudah gak usah pusing mengatur kamera untuk mendapatkan gambar bagus. Tinggal ambil dari template best shot yang disediakan lah. Untuk kali ini saya memilih warna hitam daripada silver atau pink, karena warna hitam kelihatan lebih dewasa. Hmmm... Belanja lagi, udah ah kali ini stop untuk bulan ini (saja) hahaha...Sesudah nya dari pameran Indocomtech, saya pun mengayunkan kaki ke Pameran Buku Ikapi. Di Pameran buku saya tidak melihat banyak karena memang saya lagi overstok buku. Tapi memang sudah kebiasaan saya mampir ke Stand Tempo untuk membeli CD Kumpulan Majalah Tempo Edisi Tahun 2006. Disitu saya juga ketemu buku cetakan Th 2000 berjudul "Melawan Melalui Lelucon" berupa artikel-artikel Gus Dur yang pernah dimuar di Majalah Tempo sekitar Tahun 1978 - 1980 an. Harganya Rp 10.000 dan tinggal 2 buah. Hahaha maklum cetakan lama (Th 2000), toh saya beli Th 2000, saya beli sekarang (Th 2007) tetap saja isinya artikel Th 78 - 80an.
Dalam Pameran, tiba-2 istri saya menelepon memberi tahu langit yang sudah semakin gelap. Maka saya pun buru-2 mencari jalan keluar. Benar saja, begitu keluar ternyata sudah hujan deras. Wah, susah deh panggil taxi. Untung saya mendapatkan Taxi Kosti Jaya di luar Komplek Senayan, kalau mau dapat taxi di dalam JHCC pasti susah sekali sebab akan berebutan dengan calon penumpang lain.
No comments:
Post a Comment