Sunday, October 21, 2007

21-10-2007 : Lomie Fever

Hari ini saya dapat kejutan, bangun tidur mata gatal-2 dan merah, kiri dan kanan. Wah, gawat, saya pikir mungkin ketularan karyawan di kantor, yg kebetulan lagi menderita sakit mata. Bukan penyakitnya yang saya takutkan, tapi khawatir menular ke istri dan anak-2. Buru-2 pk 8 pagi saya memakai Y-Rins (seperti Optrex) dan setelah itu diteteskan Visine. Habis itu karena masih susah buka mata yah saya tidur lagi deh, sampai jam 11. Beruntung, begitu bangun tidur mata saya sudah sembuh sama sekali ! Mengejutkan. Wah senang nya saya. Jadi mugnkin saya bisa jalan-2 mengisi liburan lebaran terakhir Th 2007 ini.

Ternyata gak semudah itu. Karena bangun kesiangan otomatis kerjaan rumah saya juga banyak yang molor. Akhirnya baru kami siap pk 1500 untuk keluar. Mana hari ini mendung lagi. Mau Kemana ?? Jam nya sudah tanggung. Akhirnya saya pikir baiknya pergi ke tempat yang dekat-dekat saja.

Begitu mobil keluar, anak ke-2 sudah tertidur di mobil, biasa deh. Anak kecil kalau sudah ketemu mobil pasti tertidur, mungkin getaran halusnya bikin syaraf jadi santai. Saya memutuskan pergi ke daerah Greenville ke tempat makan Lomie Ta Thao. Tempatnya lumayan, walaupun ga bisa dibilang OK. Lomie Kuahnya juga enak, campuran daging babi dan ikan, tentu saja jadi wangi. Coba bakmi masaknya juga lumayan, tapi karena bakminya yang biasa dipakai untuk lomie (rada tebal), jadi dibuat bakmi masak bukan enak-2 banget.

Pesan 2 porsi itu sudah kenyang ampun, makan bertiga, karena si kecil masih tertidur. Harganya juga OK lah, ga sampe 50 ribu.

Selesai Makan di Ta Thao kami mampir ke Eaton yang kebetulan letaknya bersebelahan dengan Ta Thao. Belanja roti dikit-dikit. Saya cuma hobby dengan Roti Palopi nya, paling murah dan paling sederhana serta enak.

Pulang dari Eaton, saya kasihan karena anak ke-2 belum merasakan jalan-2 waktu pergi keluar, jadi pulang ke rumah sebelumnya saya belok dulu ke Hero supermarket. Istri saya gak gitu suka ke Hero. "Mahal" katanya. Tapi bagi saya, bukan mahalnya yang saya pikirkan, tapi kenyataannya Hero adalah tempat belanja luas yang terdekat dengan rumah. Anak-2 saya suka kesana, walau datang paling hanya belanja kripik, tapi disanalah tempat saya mendidik mereka untuk memilih makanan, dan membayarnya terlebih dahulu. Lagipula semua karyawannya sudah kenal dengan kami sekeluarga. Jadi saya kadang selalu berdoa agar Hero dekat rumah saya jangan sampai tutup.

Biasa paling anak ke-2 saya ambil 1 bungkus kripik Lay's rasa rumput laut yang kecil, lalu dia berputar-putar keliling dengan riangnya di supermarket itu. Saya hanya mengawasi dari belakang saja. Anak ke-1 biasa ambil es sebatang untuk dirinya sendiri. Saya jadi teringat dahulu saktu saya seumur anak saya, selalu dibawa mama saya ke TOKO MINI, disana berupa toko makanan kecil (kalau gak mau dibilang warung), dimana kalau mama saya beli barang-2 makanan untuk tamu, saya ikut menemani dan belanja beli permen kecil-2an. Sekarang TOKO MINI tsb sudah berubah menjadi Warung MINI, dimana menjual makanan Warteg untuk orang kantor, yang jual, yah dia-dia juga, cuma saja mungkin sudah gak kuat bersaing dengan Supermarket Hero yang waktu itu buka gak jauh dari tempatnya. Sekarang saya lihat gantian Supermarket Hero itu yang tutup. Yah, setiap sesuatu ada masa nya. Ada masanya dia lagi jaya, lalu digantikan oleh yang lain yang bisa lebih baik lagi.

Kalau papa saya borong makanan, saya dibawanya ke Yap Eng Lai di Gloria sana. Entah apa enaknya belanja disana. Saya ga gitu suka ke Glodok, karena semerawut. Dan kebanyakan orang nongkrong-2 gak jelas kerjaannya. Saya dari dulu ga suka melihat orang yang nongkrong gak tau mau kerja apa. Akhirnya ngomong yang ga jelas dan cenderung punya sifat iseng. Bagi saya orang-2 seperti itu punya 2 kondisi, salah didik orang tua nya dan memang malas secara individual. Kalau dia mau, dia bisa saja bekerja macam-2, misalnya menyapu halaman depan rumahnya (ini contoh yang paling sederhana), atau belajar sesuatu (dgn baca buku dan praktek). Tapi masalahnya orang-2 seperti ini terlalu banyak perhitungannya, misalnya kalau menyapu, maka dia akan berpikir, "emang mau dibayar berapa", atau kalau disuruh baca buku pasti jawabannya "gak ada waktu", padahal waktunya paling dipakai untuk bengong dan berpangku tangan.

Dari kecil saya sudah membiasakan anak saya untuk mengisi hari-2nya yang kosong, misalnya dengan membaca, atau eakt lebaran seperti ini saya paksa untuk menemani saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Misalnya mengganti air galon, kemarin kami membetulkan kawat nyamuk yang rusak. Tidak saya beri tugas-2 yang berat, paling bantu megangin kawatnya, atau me-lap galon air mineral sebelum saya gotong ke dispenser. Tapi intinya daripada bengong. Kadang malam saya ajak nonton film, habis itu saya isi dengan kegiatan belajar sederhana, atau main ular tangga sekaligus belajar berhitung.

No comments: