Monday, November 19, 2007

19-11-2007 : Oh, PSSI

Hari ini saya membaca koran setengah-setengah karena tiba-tiba istri saya minta diantar ke Yayasan Pembantu untuk mengambil pembantu baru. Jadi saya kebagian tugas untuk nyupirin, maklum, daripada naik kendaraan umum lebih berbahaya.

Tetapi di bagian tengah mata saya tertumbuk pada berita : Indonesia dipermalukan Suriah 0-7 di Damaskus. Lha, inget gak komentar saya minggu lalu mengenai kekalahan di Senayan 1-4, sekarang dicukur 0-7. Sebenernya sih saya sudah tau disana juga kemungkinan besar kalah, tapi yang menjadi perhatian saya kali ini adalah tim nasional yang maju kesana adalah tim U-23 untuk Olympiade !!!

Keadaan seperti ini sebetulnya menurut saya sangat tidak mendidik. Bagaimana mungkin kakaknya kalah berkelahi, lalu suruh adiknya pergi ke rumah lawannya untuk membalas kekalahan kakaknya ??? Sangat aneh. Anda pun kalau mendengar kisah ini pasti heran. Urusan kakak nya koq, bawa-bawa adiknya ikut campur. Malu-malu in.

Poin yang saya catat disini adalah :
1. Tidak mengajarkan Timnas Senior untuk bertanggung jawab atas kekalahan yang di derita di Senayan. Sudah Main – kalah – bubar – terus suruh tim lain yang beresin. Saya jadi teringat anak kecil yang sedang main mobil-mobilan, gitu disuruh mandi, mobil-mobilannya ditinggal gitu aja, nanti mama nya yang beresin. Enak banget, padahal hal yang kecil begitu sangat berperan untuk kita sebagai orang tua memberikan pelajaran mengenai Responsibility (Tanggung Jawab). Kalau gitu lain kali mainnya sembarang saja, toh nanti kalau kalah gak perlu repot-2 membalas nya. Saya selalu mengajarkan anak saya untuk membereskan mainannya setelah dia main. Efeknya sih jadi ada, yaitu dia jadi malas bermain dengan mainannya, tapi kebanyakan main juga jadi tak berguna toh.

2. Tidak mengajarkan Timnas untuk bersemangat. Dan mengajarkan untuk bersikap pesimis. Memang saya pikir pada akhirnya kita kebanyakan kalah di Damaskus. Tapi kita harus tetap punya harapan dan usaha tentunya. Tanpa harapan apa gunanya kita hidup. Kalau gitu sekalian saja Tim Nasional Dibubarkan, Semua pakai U-23.

3. Membuat Tersinggung Timnas Suriah. Yang bener aja, Timnas Senior disuruh ketemu dengan Timnas Senior minus (U-23), itu kan sama saja dengan menurunkan martabat mereka. Baru kali ini saya melihat sebuah Tim Nasional yang tidak menghormati tuan rumah nya. Coba bayangin kalau kita bikin Kejuaran Bulutangkis Internasional berhadiah ratusan juta Rupiah, Yang diundang adalah negara-2 yang terkenal bulutangkisnya. Memng sih nanti yang datang peserta dari mancanegara. Tapi yang datang pesertanya semua baru bisa main bulutangkis kemarin sore.atau anak-anak SD misalnya Itu kan sama saja dengan ngeledek namanya.


Nah, disitu terlihat sudah dengan jelas betapa PSSI sebagai wadah sepakbola nasional sudah tidak pantas lagi untuk bersikap seperti itu. Kelakuannya benar-2 seperti anak kecil. Percuma sudah 77 tahun berdiri (sejak Tahun 1930). Saya rasa pengurus-2 senior pasti sedih melihat keadaan PSSI sekarang ini yang sudah gak masuk di akal.

No comments: