Tuesday, December 18, 2007

18-12-2007 : Day Trip 1

Tak terasa, setelah beberapa hari berbenah dan berberes. Kini tibalah saat hari-hari saya mengajak anak saya jalan-2 ke Singapura. Sebuah negara yang bersih dan teratur, karena negara ini kecil dengan penduduk yang terbatas sehingga mudah diatur. Tidak seruwet Indonesia dengan beratus-ratus suku bangsa dan adat istiadat yang beragam. Lagi pula Singapura memang diciptakan untuk turisme, Indonesia diciptakan untuk mencari uang dan kesempatan. Maka saya tidak pernah membanding-bandingkan Jakarta dengan Singapura. Karena jelas ke dua kota ini memiliki karakteristik yang berbeda dan memang nasib yang berbeda. Jakarta saya pikir lebih baik dibandingkan dengan India (New Dehli). Yang mungkin lebih punya karakteristik yang sama. Dulu saya suka membandingkan dengan Beijing dan Thailand. Ternyata mereka sekarang sudah berubah banyak, karena membuka pintu amat sangat lebar kepada Investasi Asing. Beda dengan Jakarta yang masih suka nya kerja sendiri. Membangun busway sendiri, ingin membangun MRT sendiri, Monorail juga mau bangun sendiri. Yah gak heran sih kalau hasilnya “sangat sesuai” dengan karakteristik bangsa Indonesia itu sendiri. Dan memang menurut saya segala fasilitas turis di Jakarta / Indonesia memang lebih diperuntukkan kepada turis lokal, dan tidak masuk skala internasional.

Mengapa liburan kali ini saya mengajak anak saya ke Singapura ? Karena saya ingin mengajarkan anak saya lebih mandiri dengan cara hidup yang benar. Selama ini kadang kita selalu beranggapan kalau seseorang itu sudah mandiri kalau penampilannya necis, merokok, dan selalu mengikuti pergaulan. Pada kenyataannya pengertian mandiri bagi saya lebih dititik berat kan kepada kemampan dia untuk melakukan semua nya sendiri tanpa perlu pembantu dan tanpa perlu bantuan orang lain. Kalaupun ada bantuan orang lain diperoleh secara manimal mungkin. Misalnya di perjalanan biasakan rajin bertanya kepada petugas yang berwenang. Penampilan kelihatan mendiri bagi saya gak perlu. Selama kita sudah bisa melakukannya sendiri, kita tidak perlu berpenampilan seperti yang diinginkan atau dipikir orang. Memang manusia itu kadang lucu. Maunya melihat sesuatu dari penampilan. Misalnya untuk orang pintar dan jenius pasti di dandani a’la pakai kacamata tebal, rambut di minyaki, pakai dasi besar, terus cupu jalan menunduk-nunduk dll. Padahal banyak manusia yang saya kenal jenius tapi trendy, bahkan melebihi potongan orang yang kelihatan mandiri (model bawa-bawa rokok kayak yang tadi saya sebutkan). Saya yang punay IQ 128 saja santai-santai hidupnya gak sampe macam-2, walaupun kawan-2 kadang menganggap saya culun. Saya tetap selalu punya perhitungan dan berhati-hati dalam melangkah.

Mandiri dengan cara hidup yang benar disini lebih diartikan bahwa dia (umur6 tahun) sudah bisa mandi sendiri, membawa cucian ke mesin cuci, meneraturkan hidupnya (tidur dan bangun tepat waktu). Belajar sendiri. Berjalan kaki dan menikmati kehidupan sesuai apa yang ada dengan berinteraksi di alam terbuka. Membuang sampah pada tempatnya. Memberikan tempat kepada yang lebih tua tau yang lebih tidak mampu (di bus). Sesuatu yang sangat susah diajarkan di kota Jakarta. Walaupun sebenarnya bisa. Tapi karena kita tidak bisa memperlihatkan contohnya (misalnya kita harus beri dia pandangan bahwa orang lain pun melakukan hal yang sama, misalnya memuang sampah pada tempatnya). Kita lebih sering melihat orang Jakarta membuang sampah semaunya. Bahkan saya pernah melihat orang mengendarai mobil BMW, membuka jendela mobil dan mengeluarkan bungkus makanan dari mobil nya, sangat-sangat memalukan. Tapi yah itu lah dia Jakarta. Tidak ada ruang untuk memberi contoh di tempat ini.

Di Singapura anak saya bisa melihat semua manusia dari berbagai macam ras membuang sampah pada tempatnya. Menyeberang jalan di Zebre Cross. Antri dengan tertib, dan semua pelajaran kehidupan berharga lainnya. Nanti sepulang dari sana dia akan malu untuk menyrobot antrian.

Itu wajar. Sekali lagi saya bukan memuji-muji Singapura. Tapi memang jika dibanding dengan Jakarta, tentu saja kasus nya beda. Jadi anggaplah kita refreshing disana. Jangan dianggap tidak nasionalis atau sebagai nya. Itu hanya pernyataan politik bagi saya. Saya teringat 4 tahun yang lalu ketika di Singapura beserta istri dan anak saya ketemu dengan Surya Paloh yang sedang berjalan-jalan dengan istri nya di City Hall, padahal sehari sebelumnya yang saya tahu dia baru kalah dari pencalonannya sebagai calon presiden Partai Golkar. Nah, refreshing kan ..??? Hehehhe…

Pk 0530 pagi saya sudah dibangunkan istri untuk bersiap-siap. Pk 0700 saya dan anak sudah berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta mampir dulumakan bakmi semangkok untuk menahan lapar.

Sesampai di Bandara Pk 0850, saya pun masuk ke dalam bagian check-in Lion Air yang berada di Terminal 2 E. Wah, fasilitas check-in nya sederhana sekali, bahkan untuk mengetahui berat koper saya sendiri saya yang harus menanyakannya kepada petugas Lion Air. Walaupun sederhana tapi tampak sekali para petugas sangat sigap bekerja. Kalau bukan karena masalah dari penumpang, kerja mereka lancar-lancar saja.

Tahap ke-2 yaitu saya harus mengantri membuat surat permohonan bebas fiskal untuk anak saya yang berusia dibawah 11 tahun. Saya juga salut dengan Direktorat Pajak disana yang menangani masalah permohonan bebas fiskal. Sangat tidak berbelit, cukup dengan mengisi formulir, dan memberikan data passport pemohon. Petugas begitu melihat passport anak saya langsung tanggap dan tidak banyak cingcong. Surat keputusan bebas fiskal langsung keluar, walaupun untuk mendapatkannya saya harus antri kembali.

Selesai dari tahapan-2 itu, kini saatnya saya mengisi form imigrasi. Antri gak lama di imigrasi anak saya bahkan bisa melakukannya sendirian tanpa perlu saya dampingi. Selesai imigrasi saya pun mampir jalan-2 sepanjang koridor sambil berpikir untuk masuk ke dalam lounge. Sayang kartu yang saya bawa tidak ada yang cocok untuk masuk ke dalam lounge, malah kartu yang saya miliki dan bisa masuk ke dalam lounge tidak ada yang saya bawa sama sekali.

Daripada menunggu lama-2 di luar, waktu masuk kapal tinggal 30 menit lagi, jadi kami pun mulai memasuki ruang Boarding Pass. Dasar memang sudah dibilangin sebelumnya bahwa semua barang bawaan (kecuali yang masuk bagasi) tidak boleh mengandung benda cair, saya masih coba-2 bawa aqua botol, masih kena disuruh buang. Saya melihat ada seseorang yang malah bawa minyak wangi dan odol ikut disita semua. Mungkin orangitutidak membawa koper di bagasi. Semua pisau lipat saya, minyak wangi, obat dll dll saya masukkan ke dalam koper dan checkin bagasi. Kasihn juga yahtuh orang, odol Darlie dan Minyak wangi melayang. Sama seperti yang dialami kawan saya yang semua kosmetik St. Michaelnya melyang di Bandara Changi Singapura.

Kali ini saya sangat gembira, sebab ternyata tanggal 18 Desember ini adalah penerbangan perdana Pesawat Boeing 737-900 Lion Air untuk tujuan Jakarta - Singapura. Sayang tidak dirayakan atau diberi peringatan. Kalau di beri piagam saja, rasanya pasti sudah senang sekali dan bangga. Dasar Low Cost Carrier.

No comments: