Wednesday, February 6, 2008

05-02-2008 : Majalah Tempo

Minggu ini Majalah Tempo menyempatkan diri mengeluarkan Edisi Khusus mengenai mantan Presiden RI ke-2 yaitu Alm. H. M. Soeharto.
Konon gambar sampulnya membuat beberapa kalangan dari Agama Katholik protes keras dan membuat Majalah Tempo meminta maaf dan tidak menggunakan gambar cover ini untuk edisi Bahasa Inggris.
Bagi saya pribadi sih, gambar cover ini sangat menarik dan kaya ide alias kreatif. Tapi apa mau dikata kalau masih ada yang protes. Memang keadaan yang makin sulit dalam kehidupan ini membuat banyak pihak yang mudah tersinggung. Sampai-sampai urusan begini saja dimasukkan ke dalam hati.

Sunday, February 3, 2008

03-02-2008 : Bluetooth

Sejak Th 2007 ini saya banyak menggunakan tehnologi bluetooth. Sebelumnya saya tidak begitu interest dengan tehnologi ini mengingat saya pikir kecepatan wieless land lebih baik dari Bluetooth. Ternyata kegunaannya juga cukup berbeda. Tehnologi Bluetooth lebih mengedepankan hubungan antara 2 benda yang spesifik. Jadi misalnya kalau sebuah notebook biasa terhubung dengan HP menggunakan infrared atau kabel, sekarang bisa menggunakan bluetooth sebagai medianya. Keuntungannya isa memiliki jarak lebih jauh dan penempatan benda pasangannya fleksibel. Bisa di sebelah notebook, bisa juga dikantungi di celana, atau dipakai di bagian tubuh (jam tangan, headphone, dll).
Tapi setelah 1 tahun memakai tehnologi ini, maka saya merasakan bahwa ternyata kemampuan jangkauan Bluetooth tidak seindah yang digembar-gemborkan (ada yang 10m, ada juga yg katanya bisa 100m). Pada kenyataannya jarak paling efektif di rumah saya adalah 3-5 meter saja. Mungkin rata-2 terpengaruh oleh gelombang lain, atau halangan tembok. Cuma yah kenyataannya begitu.
Oh Ya, pada saat ini saya suka menghubungkan PDA saya dengan Nokia 2865i dengan koneksi CDMA StarOne untuk ber internet, misalnya surfing Internet Explorer, Inbox E-Mail, dan Chat dengan IM+ (MSN, Yahoo Messenger, dan ICQ), dan saya pikir koneksi ini cukup stabil, hanya sayang kemampuan HP CDMA yang sering mernguras batere menyebabkan kendala waktu dalam melakukan on line. Total waktu maksimal online dengan Nokia 2865 adalah 2 jam-an. Kalau untuk sekedar nge-chat kadang saya hanya menghaiskan Rp 300,- saja. Lumayan daripada on line di warnet, Rp 5.000 per jam plus berisiknya keterlaluan.
Biasa apabila koneksi CDMA StarOne ini tidak stabil, maka saya menggunakan koneksi GSM Pro-XL dengan SonyEricsson K800i saya. Koneksi ini relatif lebih stabil, batere lebih tahan lama (bisa beberapa jam). Tapi biaya lebih mahal. Pemakaian normal 1-2 jam bisa kena Rp 3.000-an. Tapi jangan lupa, kebanding SMS 1 jam-an mungkin bisa habis 30-50 ribuan.
Maka tidak heran saya sekarang sudah bisa lebih sering on line chat, bahkan di mobil. Tapi selama menyetir kendaraan saya tidak akan balas chat tersebut. Paling hanya menampung pesan saja. Anda bisa menghubungi saya di MSN : k200871@hotmail.com Yahoo Messenger : karman_ali@yahoo.com dan ICQ : 97349591.

Semoga ulasan ini berguna bagi anda yang ingin tau lebih banyak mengenai penggunaan Bluetooth. Sehingga dapat mengambil keputusan apakah ingin menggunakan tehnologi ini atau tidak.]

03-02-2008 : Time to Recovery

Bagus..., bagus... setelah 2 hari diberi libur oleh Sang Dewa Banjir, bangun tidur Pk 0700 ketinggian air sudah cukup mengalami penurunan drastis, walau pun tidak bisa dibilang sudah pulih, tapi saya bisa menguras bak penampungan air bersih, dan mengisi nya dengan air bersih baru.
Pk 0825 saya mengerahkan generator untuk mengaktifkan pompa sedot. Masalah muncul dari pompanya yang kelihatannya ada masalah di kabel setrum. Untung saya ada pompa 200w Sanyo cadangan yang bisa dipakai untuk menyedot air juga. Setelah dipancing dengan air se-ember barulah pompa tersebut bisa dinyalakan.
Setiap 30 menit saya melihat perkembangan ketinggian air di dalam rumah, setiap kali pasti ada penurunan debit air. Berarti keadaan akan bisa pulih kemungkinan sore nanti.

Saturday, February 2, 2008

02-02-2008 : Liputan Foto

Di tanggal yang bagus ini maka saya menyempatkan diri ke luar teras rumah untuk mengambil sedikit gambar.

Tidak seperti yang sudah-2, banjir kali ini pemandangannya lebih sepi daripada banjir tahun lalu, mungkin dikarenakan air naik mulai pk 0830 s/d 1100 berarti jam-jam segitu sudah banyak yang keluar untuk melakukan kegiatannya seperti bekerja maupun sekolah, jadi begitu dengar rumah nya banjir maka mereka sudah tidak pulang lagi ke rumahnya karena mau masuk pun tidak gampang. Misalnya orang tua saya yang pk 0700 sudah berangkat, akhirnya sekarang terpaksa menumpang di apartemen kakak saya karena mau kembali untuk ke rumah pun sudah tidak bisa karena banjir yang tinggi.
Gambar pertama adalah gambar klasik.dimana mungkin ingin buru-2 sebuah mobil langsung dijemput oleh mobil derek, tapi tampaknya sudah terlambat karena sudah terjebak banjir. Mobil dereknya jadi mogok sehingga baik mobil maupun dereknya sama-2 mogok.

Seorang bapak sedang kembali dari luar kompleks dengan menggunakan sepeda. Jangan kecele dengan rendahnya air banjir yang hanya setengah ban sepeda karena bapak ini sedang menggiring sepedanya diatas trotoar yang tingginya 30-40 cm dari jalanan.Genangan air yang cukup tinggi bagi anak-anak tanggung tidak disia-siakan yaitu dengan dijadikan areal bermain, misalnya dengan lempar-2an bola, kalau tidak bisa menangkap, silahkan mencari bola nya di kolong banjiran.
Jasa ekspedisi banjir pun mulai bermunculan, bagi yang tidak mau berbasah-basahan di air banjir. Bisa menuumpang di gerobak yang sudah dimodifikasi ini. Entah sekarang tarifnya berapa. Tahun lalu sih pulang pergi Rp 100rb-an.
Genangan air yang setia menutup jalan raya komplek rumah. Hanya kendaraan jenis mobil boks, atau jip yang dimodifikasi yang bisa meliwati jalur sedalam ini.



01-02-2008 : Come Again

Benar-benar mengherankan. Jakarta banjir lagi, rumah saya kebanjiran lagi, tepat satu tahun sesudah banjir besar tahun 2007. Kalau kita ingat-2 banjir besar tahun lalu juga dimulai pada tanggal 01 Februari 2007. Entah banjir kali ini masuk rumah atau tidak. Saya hanya bisa berharap mudah2an saja tidak.

Jam 7 pagi saya bangun, bermaksud memproses tagihan-2 bulan Januari 2008, ketika itu mulai turun hujan. Tapi saya anggap biasa saja sebab kemarin-2 juga hujan dan ok ok saja. Jam 8 saya antar anak saya pergi sekolah dalam keadaan hujan lebat. Tapi saya belum melihat indikasi akan adanya banjir. Saya sempat melongok parit dan hasil nya parit saya masih rendah air nya.
Sampai dirumah, barulah 30 menit kemudian terasa air mulai meninggi di jalanan. dan prosesnya sangat cepat sekali. Sayang disayang kali ini saya kelepasan momen untuk menambah debit air PAM saya di rumah, karena air banjir sudah keburu masuk ke dalam bak penampungan. Kali ini saya betul-2 kecolongan sebab proses naik nya air cepat sekali, sampai akhirnya pk 1130 saya memutuskan untuk menjemput anak saya tapi tidak dengan mobil, tapi berjalan kaki. karena banjir di depan rumah saya sudah parah dan banyak orang-2 terutama anak-2 kecil bermain-main di air banjir. Keputusan nyeleneh ini terpaksa saya ambil dalam keadaan hujan masih sangat lebat.

Dengan perlengkapan yang cukup, mantel hujan, payung besar dan kecil, dan jaket hujan anak saya, saya pun nekad berjalan di air banjir yang tinggi nya sudah sepaha. Ya Ampun.... air nya dingin sekali. Saya punye pengalaman nyemplung banjir, tapi paling sedengkul, kali ini sepaha dan kadang sepinggul. Ini gila, pikir saya, bangaimana dengan anak saya nanti ?? Tapi saya tetap berjalan. Saya pikir kalau anak saya takut paling tidak saya sudah datang menenangkan dan kita bisa menunggu hujan reda. Cuma saya punya feeling banjir akan makin parah dan hujan belum akan berhenti.

Sesampai di sekolah saya langsung masuk ke kelas anak saya. Ternyata kelas sudah bubaran. Saya segera bertemu dengan ibu guru nya dan meminta ijin untuk jalan pulang. Ibu Guru tampaknya juga sudah mulai pusing, tapi saya berpikir, pulang dalam keadaan begini bawa tas anak saya yang cukup besar, akan menjadi beban baru dan perhatian terpencar. Jadi saya mengusulkan kepada ibu guru supaya tas dititipkan tapi buku-2 nya saya bawa pulang karena ada PR. Saya memasukkan buku ke kantong plastik, demikian tidak akan kemasukan air. Sebelumnya saya bertanya kepada anak saya. “Kamu mau pulang sekarang dengan berjalan kaki, atau pulang nanti tunggu hujan berhenti dengan harapan banjir surut ?” Anak saya langsung bilang “berjalan kaki”. Nah, jadi saya langsung menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk ia pulang berjalan kaki dalam keadaan banjir.
Perjalanan pun di mulai. Payung yang saya siapkan untuk anak saya tidak saya suruh pakai, melainkan di pakai untuk menjadi tongkat dalam perjalanan. Sebagaimana kita ketahui, tongkat itu praktis menjadi kaki ke tiga, dimana dapat dipakai sebagai pendeteksi jalanan sebelum kita melangkah, jadi kalau di depan ada lubang, walau tidak terlihat karena tertutup banjir, tapi kita sudah bisa merasakan lewat tongkat itu.

Saya juga baru bisa merasakan pentingnya trotoar di cat belang-belang. Pada keadaan banjir begini saya lebih memilih berjalan di trotoar tengah kebanding di depan rumah orang lain, sebab kalau rumah orang lain ketinggiannya berbeda-beda, sehingga saya akan mengalami kesulitan jika berjalan di tengah genangan air yang tidak kelihatan dasarnya. Sedangkan kalau di trotar tengah maka tingginya pasti merata dan bisa diduga. Nah cat belang-belang (zebra – hitam berselingan dengan putih) ini berguna untuk mendeteksi dan mengira-ngira mana jalanan untuk pejalan kaki dan mana jalanan untuk kendaraan. Untuk diketahui trotoar jalanan pun sudah terendam dengan air.

Untung anak saya memiliki sifat yang tahu kapan waktu bermain-main dan kapan waktu untuk serius. Dia selalu mengikuti instruksi saya pada keadaan genting seperti ini, misalnya jalan berpegangan tangan, jalan di depan lebih dahulu dan melangkah di tempat yang saya tunjuk. Perjalanan pulang malah lebih cepat dibanding dengan perjalanan pergi mengingat saya sudah mengenal medan yang saya lalui. Saya berani ambil langkah demikian sebab Desember lalu kami berdua baru saja berwisata ke Singapura dan sudah ada pengalaman berjalan kaki berdua dalam keadaan hujan, seperti misalnya saya tahu sebaiknya anak saya tidak membuka payungnya sebab kalau ia membuka payungnya sama saja menyusahkan saya untuk memegangi dia karena terhalang oleh payungnya itu.
Halangan terbesar menuju rumah justru berada di depan rumah, yang kedalaman banjirnya sudah mencapai sepaha orang dewasa, sama saja dengan sedada anak saya. Dengan keadaan air yang dingin dan kotor (untung tidak terlalu berbau) maka kami melakukan perjalanan terakhir, menyeberang dari trotoar utama ke depan gerbang rumah. untunglah pembantu sudah menunggu di depan pintu pagar, jadi kami bisa menunggu sampai pintu benar2 terbuka untuk bisa langsung dimasuki. Setelah berhasil masuk rumah kembali maka saya langsung masuk ke kamar mandi untuk membilas kaki saya dengan air bersih. Tidak lupa saya menyikat kaki saya dan anak dengan sabun dan antiseptik. Agar kembali bersih dan tidak gatal-2.

Sebuah pengalaman yang menarik bagi anak saya, dan bukan yang enak untuk saya. Tapi begitulah hidup, harus belajar dari pengalaman, dan pengalaman itu didapat dari keadaan.
Seusai pulang dari menjemput anak maka saya mengambil sesi makan siang, setelah itu pekerjaan ke dua adalah menguras bensin mobil untuk dipakai generator listrik saya kalau-kalau nanti malam listrik padam. Untuk tahap pertama saya menguras 1 jerigen 15 liter. Saya pikir sisanya bisa besok apabila banjir menyurut.

Berikutnya adalah mencopot accu mobil bagian minus nya saja dan membungkus knalpot dengan plastik agar air tidak masuk ke mesin melalui knalpot mobil. Kali ini saya malah tidak mendongkrak mobil seperti tahun lalu, sebab saya pikir hal itu hanya akan membuat mobil menjadi miring dan malah membuat gaya turun air menekan kuat dari lubang knalpot.
Selesai itu semua maka saya ambil sesi istirahat sejenak dengan tidur selama 1 jam, karena saya harus segera memulihkan diri kalau-kalau air semakin meninggi dan masuk ke rumah seperti tahun yang sudah. Berjalan ke sekolah itu tidak terlalu capai. Yang membuat capai adalah jalan sambil mengarungi air banjir. Berjalan di dalam air membuat kita harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengangkat kaki, gaya air yang berat ditambah sepatu yang terendam air. Saya memilih tidak memakai sepatu boot saya, karena air sudah terlalu dalam, sehingga sudah tidak ada faedahnya, malah apabila air masuk ke dalam sepatu boot maka sepatu akan menjadi lebih berat. Pada situasi begini sebetulnya menggunakan sandal lebih enak, tapi memakai sepatu olah raga membuat kaki lebih lincah dan tidak seberat memakai yg lainnya.

Bangun tidur istirahat. Saya pun segera bersiap-siap lagi untuk membersihkan ruang bawah agar apabila banjir masuk ke rumah, saya setidak nya sudah sedikit2 mengangkat barang keatas. Heran sesudah itu saya merasa mengantuk lagi. Saya telepon kantor dahulu mendengar laporan karyawan. Setelah itu saya istirahat tidur lagi sebelumnya saya chat dengan beberapa teman yang mau tahu keadaan dan bisa memberi info keadaan. Tak lupa Pk 1700 saya membuka Televisi untuk menonton berita banjir.Pk 1900 saya terbangun. datang laporan bahwa air makin meninggi, 2 jengkal lagi masuk garasi, artinya ketinggian air tinggal 5-8 cm lagi (dua jengkal disini dalam keadaan miring landai).
Maka saya ambil sesi makan malam dulu setelah itu kembali mengatur agar barang-2 yang kira2 bisa terendam air dinaikkan ke atas. Pk 2000 akhirnya listrik padam, prediksi terjadi. Untunglah saya sudah siap dengan bensin saya dan generator yang sudah gampang di start karena sudah saya biasakan seminggu sekali saya start bareng 30 menit untuk pemanasan. Enak nya anak saya masih bisa nonton film dengan notebook saya, saya masih bisa bekerja dan berinternet dengan umpc saya.

Pk 23.40 saya mematikan generator untuk menambah bensinnya agar tidak kehabisan sampai malam. Setelah generator menyala kembali, maka saya kembali menemani anak laki saya yang belum mau tidur karena sedang menonton Barney dan Baby Einstein dari notebook saya. Setelah anak saya tertidur maka saya akan mematikan generator dan juga akan tidur, sebelumnya pasti saya akan memeriksa apakah ketinggian air bertambah atau berkurang, untuk antisipasi.

Monday, January 28, 2008

28-01-2008 : Pak Harto dimakamkan

Pagi Pk 0730 – Tiba-tiba saya bangun, saya teringat saya ingin menyaksikan acara TV mengenai pelepasan jenazah Pak Harto. Untuk menghindari iklan maupun selingan tetek bengek lainnya maka saya memilih TVRI sebagai media. Tiba-tiba saya menjadi terenyuh dan mengingat masa lalu, ketika TVRI sebagai satu-satunya media televisi di Indonesia. Ketika itu seperti nya saya menjadikan TVRI sebagai satu-2 nya media hiburan visual di kediaman saya. Setiap hari jam 5 sore saya sudah menunggui sang TV dimana walau baru berupa gambar waktu yang biasa nya bundar-bundar itu. Lalu tepat jam 5 sore lagu kebangsaan Indonesia Raya mengumandang, diikuti jadwal acara TV dan setelah itu beberapa iklan (waktu masih ada th 70-an) seperti iklan Fanta yang ada gambar kartun anak-2 main perosotan, iklan Coca Cola yang menggambarkan Cliff Richard bernyanyi di atas gunung (sampai kakak saya membeli kaset nya), sampai iklan semen kujang dengan seorang kakek yang membawa sebilah keris dan berucap “untuk anak cucuku”, iklan Toyota Kijang dengna Koes Plus nya yang menyanyikan lagu Pelangi, Iklan kamera Sakura dengan kata-2 “Rancak Bana” yang sangat terngiang di kuping saya karena nyentrik kedengarannya, Fuji Color Film yang jingle nya sangat menarik (Fuji Color Film…, Indah…., Seindah Warna Aseli nya). Setelah itu yang saya tunggu-2 tiba, Flim Kum Kum, Scooby Doo, dan lain-lain.

Sekarang seiring dengan waktu saya sudah jarang menonton televisi, especially TVRI, karena kesibukan dan waktu nya tak tersedia. Kenangan saya terhadap TVRI tetap tidak hilang karena media ini yang membentuk saya. Saya percaya generasi lain juga akan ada kenangan terhadap media dia sendiri nantinya, tapi mungkin mereka akan menggunakan RCTI, SCTV, atau bahkan indovision sebagai media kenangannya.

Pak Harto menjalankan hidupnya dari dulu dengan sederhana, bahkan sampai beliau meninggal. Diangkut ke Astana Giribangun pun hanya dengan menggunakan pesawat Hercules TNI, bukan dengan Garuda Indonesia atau yang lainnya. Sebetulnya saya lebih cenderung untuk membawa jenazah Pak Harto tetap dengan iring-2an mobil sampai ke Solo supaya rakyat bisa lebih banyak yang melihatnya untuk yang terakhir kali. Tapi mungkin waktu tidak mengijinkan. Terlihat kerabat yang mengantar nya pun hanya menggunakan bus sebanyak 5 buah. Mobil jenazahnya pun mobil biasa saja. Seorang yang sederhana sampai ajalnya pun menjalankannya dengan sederhana.

Yang saya kagumi dengan meninggalnya Pak Harto ini adalah sampai meninggalnya pun Pak Harto diberikan penghormatan dari kawan maupun lawan. Misalnya Xanana Gusmao yang datang melayat, selain dari pemimpin-pemimpin negara regional lainnya.

Saya adalah salah seorang yang merasa beruntung karena saya pernah menjadi salah satu dari bagian generasi nya dimana saya pernah dilahirkan, menjadi siswa sekolah, dan setelah itu bekerja dan sempat dekat dengan birokrasi pada waktu Pak Harto menjadi kepala negara. Saya tahu rasanya menjadi rakyat pada saat itu, dan saya juga pernah tahu rasanya bekerja dekat dengan lingkungan birokrasi pada jaman Pak Harto. Bukan hanya sekedar mendengar teori-teori cerita selama ini. Saya merasakan, bagaimana saya menjadi siswa yang ikut senam kesegaran jasmani, ikut penataran P4, gerakan penembakan misterius, disiplin nasional, dsb. Membuat saya setidaknya memiliki kenangan hidup yang sangat berarti bagi kehidupan saya. Kelihatannya memang mengada-ada gerakan-2 seperti itu, tapi setidaknya membuat saya bisa merasakan kekompakan selama menjalani kehidupan, tidak seperti sekrang yang rasanya sendiri-sendiri. Misalnya penataran P4, walaupun pada masa muda saya terlihat membosankan, tetapi ternyata membuat saya bisa lebih disiplin dan menambah teman. Tidak seperti sekarang untuk menambah teman cukup dengan friendster. Setiap manusia ada jamannya tersendiri.

Sekali lagi saya sangat turut berduka cita atas meninggalnya seorang tokoh besar Republik Indonesia. Pada keluarganya harap diberikan kesabaran dan kekuatan, saya yakin pada suatu masa pasti Pak Harto lebih banyak dikenang kebaikannya daripada keburukannya, sama seperti Sukarno dahulu dan sekarang.

27-01-2008 : Pak Harto, Presiden ke-2 RI, Berpulang

Sepulang dari Puri Mall saya segera sampai ke rumah Pk 12.30 dan beristirahat sekaligus makan siang. Pk 1330 saya sudah berangkat kembali besserta istri dan anak-anak ke toko saya di mangga dua. Pk 14.10 saya sedang memarkir mobil di depan toko. Seorang kawan menelepon. Betapa kaget nya saya ketika saya diberitakan mantan presiden Indonesia Bpk. H. M. Soeharto wafat Pk 1310. Saya betul-2 sangat terkejut mengingat sehari sebelumnya saya baca kabar nya di internet maupun di televisi keadaan beliau membaik, bahkan mungkin bisa pulang dari rumah sakit. Rasa nya betul-2 seperti mimpi. Tidak heran saya gak bisa tidur semalaman Sabtu tadi mungkin karena merasa sesuatu yang tidak enak akan terjadi. Malah saya pikir karena keinginan saya untuk membeli UMPC menjadi penyebab saya sukar tidur.

Saya sebagai generasi Tahun 80-an tentu mengenal betul sosok Pak Harto ketika menjadi Presiden. Presiden ke 2 Republik Indonesia ini terkenal piawai dalam melakukan sttrategi politik dalam negeri maupun luar negeri nya. Saya tidak pernah memikir kan tuduhan-tuduhan kepada beliau saat ini. Yang saya kenang adalah jasa-jasanya sebagai pemimpin bangsa yang selalu mengupayakan negara ini tetap bersatu dan solid. Salah satu ke piawai an beliau waktu memimpin bangsa adalah (waktu itu saya sering nangkring di Bulog) betapa Pak Harto sangat memperhatikan kebutuhan pokok rakyat nya baik rakyat kecil maupun rakyat biasa. Waktu harga beras sedikit naik atau harga minyak goreng tidak stabil, maka saya dengar Ka Bulog saat itu (Bpk. Bustanil Arifin) sampai bolak-balik setiap hari ke Istana Presiden memberikan laporan yang terinci dan biasanya Pak Harto akan segera mengambil tindakan yang dianggap perlu. Saya rasa sampai saat ini tidak ada pemimpin yang begitu memperhatikan kebutuhan pokok rakyat kecil se detail itu. Sekarang semua nya di serahkan kepada kebutuhan pasar, supply-demand, dan sistem ekonomi bebas. Yang tentu saja pada saat tertentu bisa menyusahkan rakyat kecil yang kadang tidak mengerti kondisi sesungguh nya dalam ilmu ekonomi. Tapi bagi saya lebih mirip pemimpin sekarang lepas tangan gitu aja terhadap keadaan yang tidak pasti.

Tentu dari kisah ini kita tahu bagaimana kwalitas pemimpin model gini. Seorang pemimpin yang berwibawa sehingga membuat orang tersihir menjadi menurut kepada beliau. Mungkin jaman sekarang diperlukan metode hypnotheraphy untuk bisa melakukan demikian kepada orang lain. Tapi memang begitulah yang namanya pemimpin. Kalau tidak bisa memimpin, berarti hanya bisa bicara tapi tak bisa kerja.

Bagaimana pun, suka atau tidak suka, Pak Harto adalah bagian dari sejarah Republik Indonesia. Dengan Pak Harto sebagai presiden, saya waktu itu benar-2 merasa sebagai warganegara Republik Indonesia, walaupun kadang ada sedikit merasa mendapat tekanan. Dengan keadaan sekarang pasca Pak Harto, saya lebih merasa saya hanya sebagai manusia, yang kebetulan tinggal di sebuah negara yang bernama Republik Indonesia. Mudah-2an anda tahu beda nya apa.

Selamat Jalan Pak Harto, semoga anda diterima di sisi Tuhan YME. Dan dunia tetap mengakui anda sebagai seorang presiden yang pernah berjasa membawa Negara Kesatuan Republik Indonesia ke era modern seperti saat ini.

Friday, January 25, 2008

25-01-2008 : Nasi Goreng di Oh Lala Bistro

Pernah denger tempat nongkrong yang namanya Oh Lala ..?? Mestinya pada tahu lah. Seperti nya dimana-mana ada dan malah saya dengar di Plaza Senayan sangatlah ramai dikunjungi. Apalagi di tempat ini disediakan fasilitas Free Hotspot, bagi yang suka surfing dengan notebooknya.
Sekarang Oh Lala ini buka cabang di Mall Mangga Dua Square. Kalau gak salah bukanya mulai tanggal 28 Desember 2007 lalu. Tampaknya berbeda dengan Oh Lala yang umum, disini buka dengan konsep bistro, dan ada menu spesial Nasi Gorengnya. Seumur-umur makan di Oh Lala baru kali ini saya lihat jualan nasi goreng. Harganya gak terlalu mahal dan juga tidak murahan. Sekitar Rp 16.000 dan konon hanya ada di Oh Lala Mangga Dua Square ini.
Setahu saya sampai saat ini Oh Lala dengan konsep Bistro baru buka di 3 lokasi, yaitu di Bintaro, Plaza Semanggi dan Mangga Dua Square, jadi gak ada salahnya kalau lagi sempat mampir ke Mall Mangga Dua Square coba mampir ke tempat nongkrong ini untuk mencoba nasi gorengnya.
Mengenai rasa, saya pikir relatif, mending saya sertakan fotonya agar anda bisa nilai sendiri kualitasnya. Ciaoo...

Sunday, January 20, 2008

20-01-2008 : Foldable Keyboard

Pernah pakai folding Keyboard ? itu tuh keyboard yang bisa dilipat dan digulung, sehingga tidak sulit membawanya. Saya puya satu yang Full 101 keys. Saya suka yang begitu karena sejak SMP sudah terbiasa menggunakan keyboard besar dan panjang, sulit sekali menggunakan keyboard yang kecil atau keyboard notebook. Jadi kalau saya kemana-mana bawa notebook, kadang keyboard gulung ini ikut dibawa kemana-mana juga. Tangan kanan saya sudah sangat terbiasa memegang kursor arah yang berupa numerik.

Konon, keyboard gulung ini sering putus. Entah kabelnya, apanya, atau apanya lagi. Itu sih kata yang punya toko komputer. Tapi selama ini (baru 2 bulan sih) untunglah saya pakai masih baik-2 sahaja. mungkin bolak-baik The Man Behind The Gun nya. Saya jadi teringat dulu Notebook Acer dikategorikan sebagai notebook cepat rusak. Tapi kenyataannya saya sudah pakai notebook ini 22 bulan (Acer 3623 Celeron), masih OK OK aja tuh. Malah saya makin sayang dengan notebook ini, sebab sudah saya tambahkan dengan SDRAM 1 GB, dan dengan XP Professional Original, notebook ini bisa berlari dengan kencang, dan malah saya bisa menggunakanny untuk editing Video Rumah, Januari ini saya bahkan berani Install FIFA 2008 di notebook ini, dan memainkannya dengan cukup baik, hanya Ada sedikit Lag di depan kotak penalti.

Akhir kata, menggunakn sesuatu barang menurut saya adalah tergantung dari pemakainya sendiri. Apabila kita memperlakukan barang kita dengan telaten dan dengan hati. Niscaya sesuatu barang akan awet dipakainya dan makin berguna atau bertambah daya gunanya. Sebaliknya sebuah benda tidak diperlakukan dengan hati, maka secanggih apa pun barang itu tak akan pernah berasa berguna di depan mata kita.

Demkian sekilas mutiara dari saya hari ini.

Tuesday, January 15, 2008

Mobil Unik dan Lucu

Hari Senin Siang, depan toko saya ada mobil unik dan lucu parkir, entah yah merk apa ini mobil. Kalau dilihat dari lambang di depan kap mobil nya sih kayak lambang LEXUS, masak Lexus ada bikin mobil kayak gini sih, baru tahu nih.

Tuesday, December 18, 2007

18-12-2007 : Day Trip 1

Tak terasa, setelah beberapa hari berbenah dan berberes. Kini tibalah saat hari-hari saya mengajak anak saya jalan-2 ke Singapura. Sebuah negara yang bersih dan teratur, karena negara ini kecil dengan penduduk yang terbatas sehingga mudah diatur. Tidak seruwet Indonesia dengan beratus-ratus suku bangsa dan adat istiadat yang beragam. Lagi pula Singapura memang diciptakan untuk turisme, Indonesia diciptakan untuk mencari uang dan kesempatan. Maka saya tidak pernah membanding-bandingkan Jakarta dengan Singapura. Karena jelas ke dua kota ini memiliki karakteristik yang berbeda dan memang nasib yang berbeda. Jakarta saya pikir lebih baik dibandingkan dengan India (New Dehli). Yang mungkin lebih punya karakteristik yang sama. Dulu saya suka membandingkan dengan Beijing dan Thailand. Ternyata mereka sekarang sudah berubah banyak, karena membuka pintu amat sangat lebar kepada Investasi Asing. Beda dengan Jakarta yang masih suka nya kerja sendiri. Membangun busway sendiri, ingin membangun MRT sendiri, Monorail juga mau bangun sendiri. Yah gak heran sih kalau hasilnya “sangat sesuai” dengan karakteristik bangsa Indonesia itu sendiri. Dan memang menurut saya segala fasilitas turis di Jakarta / Indonesia memang lebih diperuntukkan kepada turis lokal, dan tidak masuk skala internasional.

Mengapa liburan kali ini saya mengajak anak saya ke Singapura ? Karena saya ingin mengajarkan anak saya lebih mandiri dengan cara hidup yang benar. Selama ini kadang kita selalu beranggapan kalau seseorang itu sudah mandiri kalau penampilannya necis, merokok, dan selalu mengikuti pergaulan. Pada kenyataannya pengertian mandiri bagi saya lebih dititik berat kan kepada kemampan dia untuk melakukan semua nya sendiri tanpa perlu pembantu dan tanpa perlu bantuan orang lain. Kalaupun ada bantuan orang lain diperoleh secara manimal mungkin. Misalnya di perjalanan biasakan rajin bertanya kepada petugas yang berwenang. Penampilan kelihatan mendiri bagi saya gak perlu. Selama kita sudah bisa melakukannya sendiri, kita tidak perlu berpenampilan seperti yang diinginkan atau dipikir orang. Memang manusia itu kadang lucu. Maunya melihat sesuatu dari penampilan. Misalnya untuk orang pintar dan jenius pasti di dandani a’la pakai kacamata tebal, rambut di minyaki, pakai dasi besar, terus cupu jalan menunduk-nunduk dll. Padahal banyak manusia yang saya kenal jenius tapi trendy, bahkan melebihi potongan orang yang kelihatan mandiri (model bawa-bawa rokok kayak yang tadi saya sebutkan). Saya yang punay IQ 128 saja santai-santai hidupnya gak sampe macam-2, walaupun kawan-2 kadang menganggap saya culun. Saya tetap selalu punya perhitungan dan berhati-hati dalam melangkah.

Mandiri dengan cara hidup yang benar disini lebih diartikan bahwa dia (umur6 tahun) sudah bisa mandi sendiri, membawa cucian ke mesin cuci, meneraturkan hidupnya (tidur dan bangun tepat waktu). Belajar sendiri. Berjalan kaki dan menikmati kehidupan sesuai apa yang ada dengan berinteraksi di alam terbuka. Membuang sampah pada tempatnya. Memberikan tempat kepada yang lebih tua tau yang lebih tidak mampu (di bus). Sesuatu yang sangat susah diajarkan di kota Jakarta. Walaupun sebenarnya bisa. Tapi karena kita tidak bisa memperlihatkan contohnya (misalnya kita harus beri dia pandangan bahwa orang lain pun melakukan hal yang sama, misalnya memuang sampah pada tempatnya). Kita lebih sering melihat orang Jakarta membuang sampah semaunya. Bahkan saya pernah melihat orang mengendarai mobil BMW, membuka jendela mobil dan mengeluarkan bungkus makanan dari mobil nya, sangat-sangat memalukan. Tapi yah itu lah dia Jakarta. Tidak ada ruang untuk memberi contoh di tempat ini.

Di Singapura anak saya bisa melihat semua manusia dari berbagai macam ras membuang sampah pada tempatnya. Menyeberang jalan di Zebre Cross. Antri dengan tertib, dan semua pelajaran kehidupan berharga lainnya. Nanti sepulang dari sana dia akan malu untuk menyrobot antrian.

Itu wajar. Sekali lagi saya bukan memuji-muji Singapura. Tapi memang jika dibanding dengan Jakarta, tentu saja kasus nya beda. Jadi anggaplah kita refreshing disana. Jangan dianggap tidak nasionalis atau sebagai nya. Itu hanya pernyataan politik bagi saya. Saya teringat 4 tahun yang lalu ketika di Singapura beserta istri dan anak saya ketemu dengan Surya Paloh yang sedang berjalan-jalan dengan istri nya di City Hall, padahal sehari sebelumnya yang saya tahu dia baru kalah dari pencalonannya sebagai calon presiden Partai Golkar. Nah, refreshing kan ..??? Hehehhe…

Pk 0530 pagi saya sudah dibangunkan istri untuk bersiap-siap. Pk 0700 saya dan anak sudah berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta mampir dulumakan bakmi semangkok untuk menahan lapar.

Sesampai di Bandara Pk 0850, saya pun masuk ke dalam bagian check-in Lion Air yang berada di Terminal 2 E. Wah, fasilitas check-in nya sederhana sekali, bahkan untuk mengetahui berat koper saya sendiri saya yang harus menanyakannya kepada petugas Lion Air. Walaupun sederhana tapi tampak sekali para petugas sangat sigap bekerja. Kalau bukan karena masalah dari penumpang, kerja mereka lancar-lancar saja.

Tahap ke-2 yaitu saya harus mengantri membuat surat permohonan bebas fiskal untuk anak saya yang berusia dibawah 11 tahun. Saya juga salut dengan Direktorat Pajak disana yang menangani masalah permohonan bebas fiskal. Sangat tidak berbelit, cukup dengan mengisi formulir, dan memberikan data passport pemohon. Petugas begitu melihat passport anak saya langsung tanggap dan tidak banyak cingcong. Surat keputusan bebas fiskal langsung keluar, walaupun untuk mendapatkannya saya harus antri kembali.

Selesai dari tahapan-2 itu, kini saatnya saya mengisi form imigrasi. Antri gak lama di imigrasi anak saya bahkan bisa melakukannya sendirian tanpa perlu saya dampingi. Selesai imigrasi saya pun mampir jalan-2 sepanjang koridor sambil berpikir untuk masuk ke dalam lounge. Sayang kartu yang saya bawa tidak ada yang cocok untuk masuk ke dalam lounge, malah kartu yang saya miliki dan bisa masuk ke dalam lounge tidak ada yang saya bawa sama sekali.

Daripada menunggu lama-2 di luar, waktu masuk kapal tinggal 30 menit lagi, jadi kami pun mulai memasuki ruang Boarding Pass. Dasar memang sudah dibilangin sebelumnya bahwa semua barang bawaan (kecuali yang masuk bagasi) tidak boleh mengandung benda cair, saya masih coba-2 bawa aqua botol, masih kena disuruh buang. Saya melihat ada seseorang yang malah bawa minyak wangi dan odol ikut disita semua. Mungkin orangitutidak membawa koper di bagasi. Semua pisau lipat saya, minyak wangi, obat dll dll saya masukkan ke dalam koper dan checkin bagasi. Kasihn juga yahtuh orang, odol Darlie dan Minyak wangi melayang. Sama seperti yang dialami kawan saya yang semua kosmetik St. Michaelnya melyang di Bandara Changi Singapura.

Kali ini saya sangat gembira, sebab ternyata tanggal 18 Desember ini adalah penerbangan perdana Pesawat Boeing 737-900 Lion Air untuk tujuan Jakarta - Singapura. Sayang tidak dirayakan atau diberi peringatan. Kalau di beri piagam saja, rasanya pasti sudah senang sekali dan bangga. Dasar Low Cost Carrier.

Wednesday, December 12, 2007

12-12-2007 : ePro Pendrive TV Tuner USB

Kemarin saya menemani kawan ke Mangga Dua Mall. Di toko langganan saya mata saya terpaku kepada TV Tuner USB merk ePro, sebelumnya saya sudah punya TV Tuner USB Pixelview USB 2, tapi untuk beroperasi di notebook saya yang Cuma Celeron 1,5 GHz sangat lambat, tidak ada sinkronisasi antara suara dan gambar. Tentu saja hal ini cukup mengganggu saya pada waktu menonton. Kalau TV Tuner itu diletakkan di PC desktop saya yang bertenaga 2 GHz (Pentium 4) sih ok ok saja, hanya kelihatan sedikit jitter. Maka saya memberanikan diri untuk mengambil satu TV Tuner ini. Harganya lho yang membuat saya tergoda, yaitu Rp 275.000,-. Saya ingat dahulu waktu mengambil Pixelview USB TV2 sekitar Rp 700rb-an. Malah mungkin lebih murah untuk type PCMCIA nya yang dijual Rp 480.000 kemarin.

Memang tadinya saya dihadapkan oleh 2 pilihan, Pixelview PCMCIA TV Tuner atau ePro USB TV Tuner. Tapi saya mengambil ePro karena 2 alasan, harga lebih murah dan tehnologi USB, Tehnologi PCMCIA tak lama lagi akan modar. Saya gak yakin notebook masa depan masih diperkuat dengan jajaran PCMCIA.

Setiba di rumah saya pun mencoba kehandalan TV Tuner ini. Pertama kali install saya menghadapi sedikit kesukaran. Karena tidak disebutkan lebih baik mana, install driver dulu atau colok USB nya dahulu. Kesukaran ke dua adalah, interface software yang juga kurang terbiasa oleh saya. Saya sudah terbiasa dengan WinDVR dan TV Plus, tidak mudah menjalankan software TV Expert yang saya temui, apalagi, kesannya rada kaku, tidak se-enak WinDVR (bawaan dari Pixelview PlayTV MPEG-2 saya).

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya saya bisa memfungsi-kan TV Tuner ini. Tapi ada kendala lagi, kamar yang saya tempati sukar untuk mendapat sinyal TV. Jadi saya pikir saya mencoba fasilitas Video Capture nya saja dahulu. Saya menyambungkan RCA cable indovision saya ke Audio-Video Input di ePro TV Tuner ini. Kutak-kutik, akhirnya bisa berjalan dengan mulus. Kelemahan kecil nya yaitu, brightness-contrast nya tidak bisa di setel dengan cara di slider. Harus memasukkan angka tertentu. Hasilnya juga belum ketemu tajam nya. Tapi lumayan lah, saya bisa nonton Indovision di notebook sambil mengedit di PC Desktop. Oh ya, selama ini saya nonton indovision di hubungkan ke PC desktop bukan ke TV biasa. Sebab saya jadi bisa langsung rekam siaran kesukaan saya begitu sedang mau di rekam. Saat ini saya sedang gandrung serial Bindi The Jungle Girl di Animal Planet dan The Simpsons di Star World. Setiap hari kalau memungkinkan saya akan merekam acara ini. Saat ini saya juga suka merekam acara Siaran Langsung Sea Games di Thailand. Terima kasih untuk TVRI yang semangat menyiarkan berbagai pertandingan di Sea Games 2007.

Kesimpulan saya :
1 ePro Pendrive TV Tuner ini cukup baik barangnya, walaupun pada tahap awal pengoperasian nya cukup membuat saya kikuk.
2 Daya tangkap sinyal TV nya cukup baik, di tempat yang biasa saya susah mendapat sinyal TV ePro mampu untuk menerima nya walaupun dalam keadaan hitam putih dan suara kurang jelas.
3 Pada waktu pemakaian diatas 5 menit sudah terasa panas nya. Tapi sih tetap stabil dan tidak mengkhawatirkan.
4 Kekurangannya mungkin masih terlalu besar dan software yang digunakan tidak lazim. Mungkin pada suatu saat bisa menggunakan WinDVR versi ke sekian.

Tadi siang selagi saya membeli keperluan listrik di carrefour, saya mendapati sebuah antenna TV 2 batang, yang biasa ditancap ke TV 14” jaman dulu. Harganya Rp 10.500. Wah, saya pikir ini dia antenna yang saya bisa bawa kemana saja untuk menonton TV Tuner ePro. Setelah beli saya coba, ternyata OK juga. Reception lumayan baik, malah bisa mengalahkan PF-20 saya yang biasa saya andalkan untuk menonton indoor. Wah memang barang rancangan kuno tapi manjur juga neh.

Saya pun berniat untuk membawa TV-Tuner ini ke plesiran saya di Singapura nanti, tanggal 18 – 28 Desember 2007 bersama anak saya. Tunggu saja berita-2 menarik dari sana.

Tuesday, November 20, 2007

20-11-2007 : Taxi Komo

Pagi-pagi jam 6 saya sudah bangun sendiri, padahal hari ini saya tidur jam 2 pagi. Cuma memang saya sudah ada janji dengan seorang kawan yang menjadi rekan kerja di Mangga Dua pk 0900 untuk Meeting di Sudirman Pk 1000. Maka Pk 0700 setelah mendusin berkali-kali saya segera menyiapkan keperluan kerja dan bepergian.

Pk 0803 saya pun sudah naik Dian Taxi menuju ke Mangga Dua. Taxi melaju dengan cepat, mengingat pada jam segitu jalanan cenderung sepi. saya pikir, wah, kalau gini terus pasti Pk 0840 juga sudah sampai. Cuma siapa nyana, Pk 0825 tiba-2 mesin mobil taxi mendadak mati. Tidak bisa di starter lagi, walaupun sudah dicoba Pak Supir berulang-ulang.

"Dasar Apes" pikirku, bukan nya naik taxi di tol eh malah jadi dorong taxi di Tol, mana mogoknya pas di atas Tol Jelambar yang menyempit itu. Gimana nih, tadinya saya sudah pesimis, kayaknya bisa batall deh janjiku hari ini. Jadi saya menyiapkan ransel saya untuk menunggu bantuan. Mana Supir taxi nya gak bisa nanganin mesin mobil lagi, padahal taksiran saya sih paling busi basah atau delko gak mercik, harus diamplas dikit. Tapi kan gak enak bongkar mobil orang lain. Selain takut gak bisa pasang lagi, nanti tangn saya kotor, wong mau pergi meeting koq.

Jadi saya cuma bisa nongkrong di pinggir jalan tol sambil makai ransel dan duduk di atas beton pagar tol. Saya sih sebenernya sudah minta Dian Taxi untuk mengirimkan armada pengganti, tapi seperti nya gak ada respon dan bakal makan banyak waktu.

Untunglah, di sela tongkrongan, ajaib bisa ada supir taxi yang liwat di jalan tol dalam keadaan KOSONG !!! Wow, kejutan. Selama ini selain dari bandara mana ada sih Taxi kosong di dalam jalan tol, ada-2 saja. Maka saya langsung menyetop. Saya gak tahu ini taxi apa, sampai belakangan saya tanya kepada Pak Pengemudi Taxi. "Ini Taxi KTI (Koperasi Taxi Indonesia)" kata si bapak. Saya penasaran bertanya kenapa koq bisa-2 nya kosong-2 naik tol. Si Bapak menjawab lagi buru-2 menuju ke Pasar Jatinegara, takut kehilangan kesempatan, karena volume penumpang jam segitu banyak. Wah, Tuhan memang Maha Besar. Bisa menjodohkan orang yang percaya. Saya pikir kalau kedua kali saya begini belum tentu bisa seperti ini kejadiannya.

Maka saya kembali melanjutkan perjalanan ke Mangga Dua untuk menunaikan tugas saya, sehingga saya bisa hadir dalam meeting tepat waktu Pk 1000.

Monday, November 19, 2007

19-11-2007 : Oh, PSSI

Hari ini saya membaca koran setengah-setengah karena tiba-tiba istri saya minta diantar ke Yayasan Pembantu untuk mengambil pembantu baru. Jadi saya kebagian tugas untuk nyupirin, maklum, daripada naik kendaraan umum lebih berbahaya.

Tetapi di bagian tengah mata saya tertumbuk pada berita : Indonesia dipermalukan Suriah 0-7 di Damaskus. Lha, inget gak komentar saya minggu lalu mengenai kekalahan di Senayan 1-4, sekarang dicukur 0-7. Sebenernya sih saya sudah tau disana juga kemungkinan besar kalah, tapi yang menjadi perhatian saya kali ini adalah tim nasional yang maju kesana adalah tim U-23 untuk Olympiade !!!

Keadaan seperti ini sebetulnya menurut saya sangat tidak mendidik. Bagaimana mungkin kakaknya kalah berkelahi, lalu suruh adiknya pergi ke rumah lawannya untuk membalas kekalahan kakaknya ??? Sangat aneh. Anda pun kalau mendengar kisah ini pasti heran. Urusan kakak nya koq, bawa-bawa adiknya ikut campur. Malu-malu in.

Poin yang saya catat disini adalah :
1. Tidak mengajarkan Timnas Senior untuk bertanggung jawab atas kekalahan yang di derita di Senayan. Sudah Main – kalah – bubar – terus suruh tim lain yang beresin. Saya jadi teringat anak kecil yang sedang main mobil-mobilan, gitu disuruh mandi, mobil-mobilannya ditinggal gitu aja, nanti mama nya yang beresin. Enak banget, padahal hal yang kecil begitu sangat berperan untuk kita sebagai orang tua memberikan pelajaran mengenai Responsibility (Tanggung Jawab). Kalau gitu lain kali mainnya sembarang saja, toh nanti kalau kalah gak perlu repot-2 membalas nya. Saya selalu mengajarkan anak saya untuk membereskan mainannya setelah dia main. Efeknya sih jadi ada, yaitu dia jadi malas bermain dengan mainannya, tapi kebanyakan main juga jadi tak berguna toh.

2. Tidak mengajarkan Timnas untuk bersemangat. Dan mengajarkan untuk bersikap pesimis. Memang saya pikir pada akhirnya kita kebanyakan kalah di Damaskus. Tapi kita harus tetap punya harapan dan usaha tentunya. Tanpa harapan apa gunanya kita hidup. Kalau gitu sekalian saja Tim Nasional Dibubarkan, Semua pakai U-23.

3. Membuat Tersinggung Timnas Suriah. Yang bener aja, Timnas Senior disuruh ketemu dengan Timnas Senior minus (U-23), itu kan sama saja dengan menurunkan martabat mereka. Baru kali ini saya melihat sebuah Tim Nasional yang tidak menghormati tuan rumah nya. Coba bayangin kalau kita bikin Kejuaran Bulutangkis Internasional berhadiah ratusan juta Rupiah, Yang diundang adalah negara-2 yang terkenal bulutangkisnya. Memng sih nanti yang datang peserta dari mancanegara. Tapi yang datang pesertanya semua baru bisa main bulutangkis kemarin sore.atau anak-anak SD misalnya Itu kan sama saja dengan ngeledek namanya.


Nah, disitu terlihat sudah dengan jelas betapa PSSI sebagai wadah sepakbola nasional sudah tidak pantas lagi untuk bersikap seperti itu. Kelakuannya benar-2 seperti anak kecil. Percuma sudah 77 tahun berdiri (sejak Tahun 1930). Saya rasa pengurus-2 senior pasti sedih melihat keadaan PSSI sekarang ini yang sudah gak masuk di akal.

Sunday, November 18, 2007

18-11-2007 : Bad Service

Seperti kebanyakan hari Minggu lainnya, hari ini saya seperti biasa dibangunkan istri Pk 0730, wah masih berantakan kesadarannya, sebab beberapa jam yang lalu habis bersorak gembira karena Israel membabat Russia 2-1, yang dramatis adalah kemerangan itu baru dipastikan di menit ke 92, berarti pada masa-2 injury time. Benar-benar hebat Israel, eh jangan diseret-seret ke Politik atau masalah Zionisme yah, seba bagi saya permainan sepak bola nya bukan soal nasionalisme. Saya akui permainan Israel jauh lebih dinamis daripada Rusia yang cenderung kaku. Mungkin warisan dari masa komunis beberapa belas tahun yang lalu.

Yang senang tentu kesebelasan Inggris yang berarti nanti mereka cukup bermain seri di Wembley 21 November mendatang melawan Kroasia. Gak gampang sih tergantung Kroasia nya gimana maunya. Kalau Kroasia pintar sih atur seri lah, siapa tahu negaranya nanti bisa mendapat bantuan Finasial dari Pemerintah Inggris raya, hahaha. Cuma kalau Inggris kalah dan Rusia menang atas Andorra, maka siap-siap melupakan Putaran Final Piala Eropah 2008 nanti.

Saya sebetulnnya bukan pencinta Sepakbola Inggris, tapi tetap saja ketidakhadiran Inggris membuat Piala Eropah nanti menjadi kering dan kurang Gosip. Saya kesal Kesebelasan Iggris selalu membuat kesalahan yang itu-itu saja dalam setiap event internasional. Misalnya kalah adu penalty, atau pada masa krisis selalu ada pemain bintang (ingat khasus David Beckham dan Wayne Rooney) yang kena kartu merah. Makanya kalau sudah Event Internasional, saya gak pernah tebak Inggris akan menjadi juara. Atau pada pertandingan tertentu saya sudah bisa menebak hasilnya, misalnya pada kasus Inggris melawan Portugal pada Piala Dunia 2006. Begitu Wayne Rooney kena kartu merah, maka saya pikir Inggris bakal kalah adu penalty dan kenyataannya demikian.

Kembali ke PDA...
Bangun tidur yang ada di pikiran saya cuma 1, beresin kamar nih, udah hancur kayak abis di rudal. Barang berserakan dimana-mana di lantai. Setiap ada kerjaan penting maka kerjaan lalu yang sudah selesai saya taruh gitu aja di lantai, maklum, sudah kesulitan waktu untuk mencari tempat merapihkannya.

Oh ya, sejak sudah ada 2 anak saya tidur sendiri, kadang bersama anak perempuan saya. Istri tidur dengan anak-anak. Saya lebih suka tidur bersama kerjaan kantor dana toko saya, jadi di kamar hanya ada 1 ranjang, 1 meja 1/2 biro dengan perlengkapan Notebook, scanner, Laser Printer, 1 meja PC dengan PC 1 set, dan sebuah lampu baca. Di kamar ini saya biasa setiap hari bangun tidur dan langsung bekerja, sebelum tidur juga bekerja. Sepertinya saya gak pernah lepas dari kerja. Kadang saya bekerja hanya dengan PDA dan Keyboard PDA. Setelah itu baru ditransfer ke Notebook dan cetak via laser printer. Maklum, kantor kecil, toko kecil, gak perlu sekretaris, paling istri saya suka saya minta bantu untuk faksimil dokumen-2 ke toko. Atau minta bantu telepon seseorang.

Pekerjaan membersihkan kamar kiranya gampang, mungkin bagi sebagian orang artinya hanya menyapu dan mengepel. Beda lah dengan saya. Di lantai saya ada beberapa DVD bajakan, bon belanja yang belum dipisah, struk ATM yang harus di arsip dll. Biasa untuk pengarsipan saya menggunakan map bulanan dan sebagian dokumen di scan, dengan scanner kesayangan saya, UMAX 5600, mungkin saat ini sudah menjadi scanner sejuta umat. Kecepatannya OK banget, dan hasilnya gak jelek-2 amat. Saya harus memilah satu demi satu benda-2 yang berserakan di lantai, dan itu makan waktu 2 jam.

Sampai Pk 1300 baru deh istri dan anak-2 mulai sebut-sebut keluar rumah. Saya sih OK saja, toh sudah makan siang di rumah. Saya terpikir untuk menemui seseorang di Plaza Semanggi. Jadi kami pun berencana untuk ke sana. Maka saya Pk 1330 pun berangkat ke Plangi.

Sampai Pk 1400 kami sampai ke Plaza Semanggi, wah kacau, masak belum sampai saja sudah macet. Masuk Plaza Semanggi juga macet, masuk parkir ke atas, di LCD tertera kosong 97, tapi jujur saya saya merasa dibohongi dengan LCD tersebut, sebab kenyataannya begitu masuk, saya gak dapet parkir sama sekali, saya lihat hanya 3-4 mobil yang kebagian parkir, sisanya cuma putar-2 saja sama kayak saya. Akhirnya saya turun dan pulang, di Pagar ditagih Rp 2.000, wah gak heran yang punya Secure Parking cepat kaya. Gak kebagian parkir saja mesti bayar, This is Ridiculous....

Maka akhirnya daripada mikirin Plaza Semanggi mendingan saya banting setir ke Pasar Baru. Istri lagi mau makan Kuo Tie. Istilah kerennya sekarang Dumpling. Di Krekot ada sebuah rumah makan Kuo Tie yang sudah jadi legenda. Saya pun pergi kesana. Sambil menunggu pesanan datang, saya pun jalan kaki untuk makan Tauge Goreng Krekot yang juga sudah jadi legenda. Asal tahu saja. Di daerah sana ada 3 tempat yang jadi Legenda. Soto Pak Kumis di Kartini 2, dan 2 tempat tadi.

Tapi selesai makan kami sekali lagi dikecewakan si empunya tempat. Masak istri saya bayar pakai Uang 50 ribuan yang kemarin baru ambil dari ATM BCA berupa lembaran yang bukan biru, ditolak. Alasannya sudah gak berlaku. Apa pula ini ??? Kalau sudah tidak laku bagaimana masih bisa ditaruh di ATM ?? Salah siapa, BCA ?? Maka saya dan istri sepakat untuk tidak akan pernah kembali lagi ke tempat itu. Lagipula sambil makan, ada anjing seliweran kemana-mana 3 ekor. Bikin bau saja.

Selesai makan Pk 1600 kami ke toko untuk menengok kedaan. Setelah saya berberes-beres administrasi, maka kami pun pulang dengan senangnya anak-anak karena sudah diajak jalan-jalan.

Thursday, November 15, 2007

15-11-2007 : Indocomtech & Pameran Buku Ikapi

Selesai nebeng mobil istri saya jemput anak sekolah maka saya pun turun dekat pangkalan taxi di perumahan bermodal tas ransel.

Disana tinggal ada 1 dian taxi dgn no 2295 tepat pk 1105 saya mulai mengarungi Jl. Panjang menuju ke JHCC.

Jalanan pada dasarnya cukup lancar. Malah Café Relasi yang depannya biasa macet dapat dilalui dgn baik oleh pak supir taxi. Tapi masuk daerah Kelapa Dua kemacetan baru terasa. Sangat tersendat-sendat.

Akhrnya sampai juga saya di JHCC tepat Pk 11.45. Berarti perjalanan memakan waktu selama 40 menit. Hari masih cerah, baru mulai mau ramai. Saya pikir pameran Indocomtech kali ini tidak seramai biasanya. Banyak stand yang tidak di datangi oleh pengunjung. Beberapa SPG saya lihat malah asyik bermain SMS, mungkin hari masih siang kali.

Di depan hall begitu masuk saya sudah mendapati majalah South Jakarta yang diperuntukkan bagi komunitas Jakarta Selatan. Lumayan, saya ambil 1 untuk saya baca-baca nantinya. Toh gratis.

Berikutnya saya justru masuk ke ruang sebelah kanan, di dominasi oleh Notebook. Acer, Asus, BYON, Fujitsu, Toshiba dll. Pintu masuk pertama sudah dihadang oleh Mobile Gear sebelah kanan. Yang bikin saya kecewa adala barang-2 yang dipamerkan sebenarnya gak beda jauh dengan yang ada di Gramedia (untuk Mobile Gear). Jadi percuma saja. Sekali lagi Pameran Indocomtech hanya berkesan sebagai ajang diskon bagi peserta nya.

Di Ujung saya mulai tertarik dengan penawaran Kamera Digital, sebab Fuji mengeluarkan Kamera Saku Digital yang cukup murah harganya, dan sudah 8 MP, yaitu Fuji FinePix F480. Wah Bagus juga, tapi 2 juta itu masih di luar target saya. Fuji ada keluarkan kamera digital saku yang standar dengan merk Mpix, tapi siapa yang bisa kata dengan kamera model gini ? Hebat sih 7 Megapixel hanya Rp 1.090.000, menggiurkan, bahkan yang 3 megapixel hanya dibandrol dengan harga Rp 299.000, Wah, untuk anak-2 muda sih sangat terjangkau banget. Kalau saya jadi anak sekolahan pasti saya ambil satu untuk dokumentasi. Entah walaupun HP sudah ada kamera tapi saya tetap tertarik menggunakan kamera saku, sebab hasilnya pasti lebih meyakinkan. Padahal Cybershot K800 sudah di tangan, tetap saja rasa saya ada yang kurang. Misalnya dalah hal penanganan kecepatan rana (shutter speed). Masih susah terkejar dengan kamera saku, apalagi dengan kamera profesional atau SLR.

Dari konter Fuji saya berbelok ke Fujitsu. Memang saat ini saya sedang melirik notebook-2 ukuran kecil maksimal 12” Wide lah dikarenakan usia saya yang menua sehingga kemampuan membawa notebook 2,8 kg semakin mengendur. Saya harus cari notebook yang beratnya 1 kiloan deh, kalau gak bisa modar lama-2. Pertama-tama saya pikir jawaban nya pada UMPC (Ultra Mini PC) Tapi saya lihat prosesor nya gak mendukung banget, bener-2 Cuma untuk ngetik dan lamban respon, tentu saja masih belum waktunya menurut saya memiliki UMPC. Saya lebih cenderung pada notebook 10 - 12 inchi. Tapi tentu saja tidak sekarang, mungkin tahun depan baru pikir-2 ganti.

Kalau sudah ngomong Fujitsu, masalah ada di harga, tapi barang-2 nya memang gak mengecewakan. Model P1610 dengan layarnya yang 8,9” dan beratnya 1 kg benar-2 membuat saya jatuh cinta. Rp 15,28 juta katanya. Wah, nanti yah kalau memang benar-2 butuh saya cari model begini.

Selesai dari Fujitsu, saya sowan ke pangkalan, yaitu stand Acer. Jujur saja saya rada ga suka melihat model nya yang sekarang ini. Kelihatannya kayak sabun gepeng. Saya lebih suka dengan model Acer Aspire saya yang kelihatan dewasa. Walaupun berseberangan dengan BYON, tapi saya hanya mampir ambil brosur di BYON, karena BYON tidak menyediakan notebook dengan layar dibawah 14”.

Keluar dari Hall kecil itu saya pindah ke Hall Utama. Masuk kesana, lha koq terkesan sepi, dan yang bikin saya gerah notebook lagi, notebook lagi, kayaknya gak habis-2, semua jual notebook. Maka saya pun gak berlama-lama di hall ini. Cuma ambil brosur sana sini terus saya tembus ke belakang. Disana saya mendapati sedikit perubahan tata letak. Axioo sekarang berani di tengah. Terus terang kalau untuk generasi 20+ notebook Axioo itu fun juga. Bayangkan saja, sparepart model batere dsb nya dijual dengan harga cukup ok, Misalnya batere nya Rp 500rb-an. Coba deh ke merk-2 yang sudah OK, baterenya di bandrol paling dikit Rp 1 juta. Saya sih sebenernya naksir juga lihat yang type NVS Dual Core yang berlayar 12,1” Wide Screen. Sayang Video Controller nya bukan Intel melainkan SiS Pro Logic. Kayaknya gimana gitu kalau Motherboard nya bukan Intel. Cuma ini resiko kalau mau kecil dan murah.

Kali ini saya gak mau mampir ke bagian Mangga Dua, sebab ramai sekali dan sangat memakan waktu, apalagi saya emang tidak mau banyak belanja aksesoris, dan sudah rada kelaparan karena waktu menunjukkan Pk 1300. Maka setelah dari stand TokoUSB pun saya mampir makan di café nya. Di café ini saya sudah langganan banget, Kayaknya kalau ada pameran di JHCC saya gak mau makan di tempat lain selain disini. Memang sih harganya minta mapun. Nasi Rames Rp 34.000 plus Air Mineral Rp 7.000 = Rp 41.000 Tapi rasanya seperti gak ada dimana-mana. Jadi nya ekslusif sekali. Hanya di JHCC, hehehe.

Selesai makan siang, maka mata saya tertuju kepada stand Camera Shop yang saya tau selama ini sangat rajin berpartisipasi di tiap pameran Indocomtech. Produk andalannya adalah Camera Case Lowerpro. Tapi kali ini mata tidak tertuju kepada Camera Case tetapi pada Camera nya langsung. Saya sangat tertarik pada penawaran Casio Exilim yang sudah lama menjadi dambaan saya. Yaitu Casio Exilim EX-Z75 dengan harga Rp 1.499.000, Wow, dulu waktu baru keluar kamera ini dibandrol Rp 2 jutaan. Kalau sudah dibawah 2 juta sih not bad yah untuk kamera 7,2 Megapixels, apalagi saya dari dulu paling senang dengan mode Best Shot nya yang sudah gak usah pusing mengatur kamera untuk mendapatkan gambar bagus. Tinggal ambil dari template best shot yang disediakan lah. Untuk kali ini saya memilih warna hitam daripada silver atau pink, karena warna hitam kelihatan lebih dewasa. Hmmm... Belanja lagi, udah ah kali ini stop untuk bulan ini (saja) hahaha...

Sesudah nya dari pameran Indocomtech, saya pun mengayunkan kaki ke Pameran Buku Ikapi. Di Pameran buku saya tidak melihat banyak karena memang saya lagi overstok buku. Tapi memang sudah kebiasaan saya mampir ke Stand Tempo untuk membeli CD Kumpulan Majalah Tempo Edisi Tahun 2006. Disitu saya juga ketemu buku cetakan Th 2000 berjudul "Melawan Melalui Lelucon" berupa artikel-artikel Gus Dur yang pernah dimuar di Majalah Tempo sekitar Tahun 1978 - 1980 an. Harganya Rp 10.000 dan tinggal 2 buah. Hahaha maklum cetakan lama (Th 2000), toh saya beli Th 2000, saya beli sekarang (Th 2007) tetap saja isinya artikel Th 78 - 80an.

Dalam Pameran, tiba-2 istri saya menelepon memberi tahu langit yang sudah semakin gelap. Maka saya pun buru-2 mencari jalan keluar. Benar saja, begitu keluar ternyata sudah hujan deras. Wah, susah deh panggil taxi. Untung saya mendapatkan Taxi Kosti Jaya di luar Komplek Senayan, kalau mau dapat taxi di dalam JHCC pasti susah sekali sebab akan berebutan dengan calon penumpang lain.

Wednesday, November 14, 2007

14-11-2007 : Body Repaired

Hari ini Pk 0830 tiba-tiba saya diteleponi oleh Pak Didi, oh ternyata Pak Didi dari Metro Motor, bengkel tempat saya menitipkan kendaraan saya untuk diperbaiki Body nya. Saya sudah tinggal dari tanggal 4 November lalu, dan berhubung usia mobil saya sudah 10 tahun, maka saya dengan lapang dada harus memperbaiki mobil saya tanpa cover asuransi. Setahu saya tidak ada asuransi yang mau meng-cover mobil di atas usia 5 tahun (silahkan menghubungi saya kalau ada).

Saya dulu menggunakan asuransi LG Simas, dan nyatanya begitu ultah ke lima, salesnya pun udah ogah nelepon saya untuk menawarkan perpanjangan, mungkin dari segi nilai juga sudah menurun banget jadi premi nya menurut mereka sudah keliwat murah dan resiko nya malah cenderung lebih besar.

Belakangan saya dengar dari famili tarif asuransi mobil baru saja kelas Toyota Rush bisa kena 6-7 juta setahun, wow, kalau menurut saya sih jaman sekarang gak usah beli mobil mahal-mahal lah, ngapain kalau cuma untuk disenggol-senggol sama angkot, motor dan bajaj.

Yah kalau mampu beli yang mahalan dikit mending cari lajur jalanan yang santai dikit, maksudnya yang tidak begitu macet atau semerawut. Maklum, biar punya uang untuk beli mobil mewah, tapi kelakuan bawanya suka lebih mirip dengan sopir bajaj.

Pk 1100 saya baru menyempatkan diri ke Bengkel untuk mengambil mobil. Dengan ojek langganan saya pun berangkat ke sana. Sampai disana saya diarahkan ke bagian administrasi untuk membayar terlebih dahulu. Saya biasa membayar dengan Debit BCA, wah kacau, hari ini ternyata mesin debitnya rusak. Jadi saya disuruh ambil kontan ke ATM, tentu saja saya sih maunya transfer, ngapain saya bawa uang kontan kemana-mana. Tapi saya kan datang naik ojek, gak bawa kendaraan sendiri, siapa yang mau antar saya ke BCA ?? Yah, ini dia bagian yang lucu. Jadi saya naik mobil saya sendiri dikawal dengan orang bengkel ke ATM BCA terdekat. Konyol juga yah. Sedangkan mobil itu sendiri belum saya periksa kelengkapan maupun hasil kerjanya. Jadinya modal saling percaya saja deh. Seusai ambil kontan dari ATM BCA maka saya memeriksa mobil (yang sudah saya pakai keluar tadi).

Jumlahnya memang lumayan mahal, Rp 3,7 juta. Tapi setara lah dengan mobil yang usianya sudah menginjak 10 tahun. Apalagi saya masih sayang banget dengan mobil ini sebab ada 4 alasan :
1. Mobil ini dibeli dengan hasil susah payah dan tabungan saya sejak saya ingin memiliki mobil, tepatnya saya menabung untuk membeli mobil ini sejak saya menginjak SMA, 10 tahun sesudahnya setelah saya bekerja serabutan (selama SMA dan Kuliah, serta bekerja), saya akhirnya mempunyai dana yang cukup untuk membeli sebuah Mobil Toyota Kijang LGX (tanpa mengganggu cash flow saya, maklum saya beli mobil ini dengan cara cash keras).
2. Mobil ini menggunakan platina, bukan sistem injection, tentu saja tarikannya jelas lebih asyik, serta untuk sekelas kijang bensin nya memang irit banget
3. Mesin mobil ini masih sangat halus, karena saya rawat. Malah Pak Didi sempat memesan kalau mau jual hubungi dia dulu karena Pak Didi sangat tertarik.
4. Mobil ini kayaknya bisa membawa apa saja yang saya mau bawa, termasuk istri dan semua anak saya.
5. Saya belum ada alasan untuk mengganti menjadi mobil baru, walaupun secara materi saya mampu menggantinya.

Ciri-2 orang setia..?? Hmm Hmm Hmm... Memang gak gampang kalau soal membicarakan mobil kesayangan. Dua kali saya punya kesempatan untuk menggantinya dengan yang baru, dua kali juga saya membuang kesempatan itu.

Setelah saya "menebus" mobil saya di bengkel, barulah saya berencana pergi ke kantor saya. Ternyata hari sudah mendung Pk 1300, saya buru-2 manggil tukang ojek langganan saya, tapi gak keburu, Pk 1320 di Roxy saya kena hujan, butiran hujannya besar-besar lagi, sehingga sakit kalau kena badan.

Untung saya membawa jaket hujan di dalam ransel, jadi saya minta sang ojeker untuk minggir sebentar dan memakai jaket hujan, huuuiii.... Gak nyangka cepat begini, apalagi angin kencang yang sempat membuat saya khawatir akan jalanan. Belakangan saya dengar beberapa papan reklame jatuh di jalanan. Inilah akibat dari penanganan papan reklame dan baliho yang kesannya rada sembarangan, istilah kasarnya asal ada uang, mau pasang papan reklame dimana pun bisa. Banyak mobil yang rusak tertimpa pohon rubuh dan papan reklame rubuh. Barusan saya dengan di Radio Sonora ada beberapa mobil diantara nya sebuah taksi di jalan protokol dan 2 buah mobil di kantor kejaksaan rusak tertimpa.

Hebat juga yah jaksa di Indonesia bisa naik mobil BMW seri 3 dan Suzuki APV (2 mobil yang ketimpa pohon di kantor kejaksaan). Saya yang punya usaha sendiri saja sampai sekarang masih naik Toyota Kijang, dan malah sekarang saya ngantor pakai ojek karena macetnya jalan raya. Kalau menurut saya bertambahnya jumlah mobil di Jakarta hingga macet bukan karena penduduk yang bertambah, tapi karena para pejabat sudah mulai berani beli mobil macam-2, gak kayak dulu yang standarnya kijang doang (kayak saya yang tampakna masih old fashioned).

Saturday, November 10, 2007

09-11-2007 : IrDA PDA Keyboard

Wah, malam ini saya dapat kejutan, saya lupa kemarin malam saya habis tik di PDA mgantuk, langsung tidur, maka saya taruh begitu saja keyboard PDA saya di kolong ranjang. Hari ini Pk 2245 saya lupa maka keinjak di bawah, waduh gawat, rusak deh, pikirku. Saya lihat penyangga tutupnya patah. Akhirnya setelah berusaha di lem dengan lem super, saya nyerah juga, kayaknya gak bisa disambung lagi. Tapi akhirnya saya punya ide, kenapa gak dua-2 nya saja penyangga nya dicopot, sehingga malah saya bisa cover dengan selotip sekalian, nah akhirnya malah saya mematahkan 1 lagi titik penyangganya, sekarang malah menjadi lebih baik. Setelah diselotip, maka saya sambil test keyboard PDA menulis berita ini, saya sertakan foto yah, hahaha....

Friday, November 9, 2007

09-11-2007 : Tragedi di Senayan

Hari ini saya baca koran akan ada pertandingan Pra Piala Dunia South Africa 2007 di Senayan antara Indonesia melawan Syria. Wah, pasti rame yah, mungkin pertandingan berjalan dengan ketat berhubung kedua tim belum pernah berhadapan sebelumnya beberapa waktu belakangan ini.

Saya sih gak kepikir untuk ke Senayan, karena hari ini saja kerjaan saya cukup merepotkan sekali. Apalagi mesin fotocopy saya tiba-2 ke reset sehingga hasilnya hitam, jadilah saya harus memperbaiki nya sendiri.

Pulang ke rumah Pk 1615 saya langsung buka TV, karena saya gak tahu mainnya jam berapa itu pertandingan. Ternyata tiada satu pun saluran yang memberitakan sepak bola. Malah saya akhirna ketemu saluran TV baru seperti Da Ai TV di saluran 59 UHF dan Siaran percobaan TV El Shinta di 35 UHF. Wah hasilnya bagus-bagus dan jernih, malah stasiun TV lama masih kalah bagus dengan ke dua saluran TV ini.

Akhirnya Pk 1800 saya ketiduran karena capek banget, sampai-2 bangun tidur Pk 1930 saya makan malam dulu. Dan Pk 2000 iseng-iseng saya mencari saluran TV lagi dengan TV Tuner USB kesayangan saya, ternyata ketemu juga tuh di TPI ada dengan keadaan sudah 0-1 untuk Syria. Wah gawat juga Indonesia ketinggalan. Malah gak lama kemdian ketinggalan 0-2 sebelum akhirnya di susul dengan 1-2 setelah Indonesia mendapat kan hadiah penalty.

Yang menyesakkan adalah pada menjelang turun minum malah Indonesia kebobolan lagi berkat blunder dari Kiper Markus Horizon yang menangkap bola hasil tendangan bebas kurang sempurna sehingga molos meliwati selangkangannya. Kedudukan babak pertama 1-3. Wah kalau gini terus bisa-2 keadaan makin parah, sebab koq kayaknya pemain Indonesia kali ini kurang semangat, bahkan rada kesulitan menggempur pertahanan lawan. Apalagi dengan kelakuan para pemain Syria yang khas Arab, di senggol aja pura-2 sakit, jatuh dsb, dsb.

Masuk Babak ke-2 pertandingan masih gitu-gitu aja, saya menyempatkan diri pergi sembayang, karena hari sudah malam. Begitu kembali sembayang, ternyata pertandingan baru saja masuk masa bubaran dengan hasil yang mengecewakan, 1-4 untuk kekalahan Indonesia. Mmm memang bukan waktunya untuk Indonesia untuk berbicara di tingkat Internasional, di Asia Tenggara saja posisi Indonesia angin-anginan. Sudah waktunya memang PSSI berbenah diri jangan hanya mengurusi kepengurusannya saja dengan mempertahankan seorang narapidana menjadi ketua umum PSSI, lebih baik memikirkan bagaimana kesebelasan Indonesia bisa berbicara di arena internasional.

Wednesday, November 7, 2007

07-11-2007 : Terowongan Jalan Angkasa

Hari ini saya mau cerita mengenai keadaan terowongan Jalan Angkasa yang menghubungkan Jl. Angkasa dan Jl. Gunung Sahari. Terowongan ini sih kayaknya memang ditujukan untuk mengatasi kemacetan di pertigaan antara Jl. Angkasa dan J. Bungur depan Hotel Golden Gunung Sahari dan Kantor BOURAQ.

Saya pikir dengan adanya terowongan ini maka daerah sana tidak ada kata macet lagi. Ternyata perkiraan saya cukup salah. Nyata-nyatanya saya mash kena macet di terowongan ini kira-2 16 menit lamanya yaitu dari Pk 1522 sampai dengan Pk 1538.

Ketika keluar dari Tol di pintu Kemayoran, maka saya pikir akan mencoba daerah Angkasa yang dahulu nya lumayan bikin sakit kepala kalau lewat sana. Betul memang Jl. Angkasa nya sudah tidak terlalu macet, tapi begitu mobil masuk terowongan sudah terasa macet nya. Ada 2 mobil yang menyerah dan memutus kan keluar dari terowongan dengan cara mundur. Saya sendiri memilih meneruskan jalan ke terowongan dengan berpikir akan mencobanya semacet mana, mumpung tidak ada janji degan siapa-siapa kecuali dokter gigi saya pk 1730 nanti.

Ternyata begitu masuk saja sudah disambut dengan kemacetan. Saya perhatikan dengan seksama, ternyata sebetul nya terowongan ini belum jadi benar. Berbahaya sekali memasuki terowngan seperti ini, jalur masih ditutup setengah. Malah di persimpangan atas (yang di lewati kereta api), tamak benar masih disemen dan beberapa orang diatas saya sedang mengerjakan sesuat, sampa-sampai saya hanya bisa berdoa semoga tidak ada benda menjatuhi mobil yang saya kendarai, karena ini mobil pinjaman orang tua.

Lumayan juga kemacetan yang terjadi, untunglah saya masih bisa menikmati macet sambil menonton “Phantom Of The Opera” nya Joel Schumacer dari iPAQ yang saya tempelkan di mobil. Ternyata di ujung terowongan juga masih ada proyek yang masih dikerjakan, sehingga kalau lampu traffic menyala hijau maka kendaraan melaju tersendat. Gak heran masih macet.

Saya sih saranin, kalau masih ada pengerjaan terowongan, ada baiknya untuk menutup terowongan dulu sampai pengerjaan selesai, sebab khawatir dapat membahayakan kendaraan yang meliwati nya.