Pagi Pk 0730 – Tiba-tiba saya bangun, saya teringat saya ingin menyaksikan acara TV mengenai pelepasan jenazah Pak Harto. Untuk menghindari iklan maupun selingan tetek bengek lainnya maka saya memilih TVRI sebagai media. Tiba-tiba saya menjadi terenyuh dan mengingat masa lalu, ketika TVRI sebagai satu-satunya media televisi di Indonesia. Ketika itu seperti nya saya menjadikan TVRI sebagai satu-2 nya media hiburan visual di kediaman saya. Setiap hari jam 5 sore saya sudah menunggui sang TV dimana walau baru berupa gambar waktu yang biasa nya bundar-bundar itu. Lalu tepat jam 5 sore lagu kebangsaan Indonesia Raya mengumandang, diikuti jadwal acara TV dan setelah itu beberapa iklan (waktu masih ada th 70-an) seperti iklan Fanta yang ada gambar kartun anak-2 main perosotan, iklan Coca Cola yang menggambarkan Cliff Richard bernyanyi di atas gunung (sampai kakak saya membeli kaset nya), sampai iklan semen kujang dengan seorang kakek yang membawa sebilah keris dan berucap “untuk anak cucuku”, iklan Toyota Kijang dengna Koes Plus nya yang menyanyikan lagu Pelangi, Iklan kamera Sakura dengan kata-2 “Rancak Bana” yang sangat terngiang di kuping saya karena nyentrik kedengarannya, Fuji Color Film yang jingle nya sangat menarik (Fuji Color Film…, Indah…., Seindah Warna Aseli nya). Setelah itu yang saya tunggu-2 tiba, Flim Kum Kum, Scooby Doo, dan lain-lain.
Sekarang seiring dengan waktu saya sudah jarang menonton televisi, especially TVRI, karena kesibukan dan waktu nya tak tersedia. Kenangan saya terhadap TVRI tetap tidak hilang karena media ini yang membentuk saya. Saya percaya generasi lain juga akan ada kenangan terhadap media dia sendiri nantinya, tapi mungkin mereka akan menggunakan RCTI, SCTV, atau bahkan indovision sebagai media kenangannya.
Pak Harto menjalankan hidupnya dari dulu dengan sederhana, bahkan sampai beliau meninggal. Diangkut ke Astana Giribangun pun hanya dengan menggunakan pesawat Hercules TNI, bukan dengan Garuda Indonesia atau yang lainnya. Sebetulnya saya lebih cenderung untuk membawa jenazah Pak Harto tetap dengan iring-2an mobil sampai ke Solo supaya rakyat bisa lebih banyak yang melihatnya untuk yang terakhir kali. Tapi mungkin waktu tidak mengijinkan. Terlihat kerabat yang mengantar nya pun hanya menggunakan bus sebanyak 5 buah. Mobil jenazahnya pun mobil biasa saja. Seorang yang sederhana sampai ajalnya pun menjalankannya dengan sederhana.
Yang saya kagumi dengan meninggalnya Pak Harto ini adalah sampai meninggalnya pun Pak Harto diberikan penghormatan dari kawan maupun lawan. Misalnya Xanana Gusmao yang datang melayat, selain dari pemimpin-pemimpin negara regional lainnya.
Saya adalah salah seorang yang merasa beruntung karena saya pernah menjadi salah satu dari bagian generasi nya dimana saya pernah dilahirkan, menjadi siswa sekolah, dan setelah itu bekerja dan sempat dekat dengan birokrasi pada waktu Pak Harto menjadi kepala negara. Saya tahu rasanya menjadi rakyat pada saat itu, dan saya juga pernah tahu rasanya bekerja dekat dengan lingkungan birokrasi pada jaman Pak Harto. Bukan hanya sekedar mendengar teori-teori cerita selama ini. Saya merasakan, bagaimana saya menjadi siswa yang ikut senam kesegaran jasmani, ikut penataran P4, gerakan penembakan misterius, disiplin nasional, dsb. Membuat saya setidaknya memiliki kenangan hidup yang sangat berarti bagi kehidupan saya. Kelihatannya memang mengada-ada gerakan-2 seperti itu, tapi setidaknya membuat saya bisa merasakan kekompakan selama menjalani kehidupan, tidak seperti sekrang yang rasanya sendiri-sendiri. Misalnya penataran P4, walaupun pada masa muda saya terlihat membosankan, tetapi ternyata membuat saya bisa lebih disiplin dan menambah teman. Tidak seperti sekarang untuk menambah teman cukup dengan friendster. Setiap manusia ada jamannya tersendiri.
Sekali lagi saya sangat turut berduka cita atas meninggalnya seorang tokoh besar Republik Indonesia. Pada keluarganya harap diberikan kesabaran dan kekuatan, saya yakin pada suatu masa pasti Pak Harto lebih banyak dikenang kebaikannya daripada keburukannya, sama seperti Sukarno dahulu dan sekarang.
Monday, January 28, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment