Mungkin anda akan terperangah membaca kisah ini.
Hari Senin 08-10-2007, pembantu infal yang di kirim mertua untuk membantu istri saya, pk 1000 meminta kembali ke tempat mertua saya dengan alasan tidak betah, sebetulnya saya sudah menganjurkan supaya hari itu juga dikirim balik ke rumah mertua, Cuma mertua mau jemput esok hari tgl 09-10-2007.
Hari Selasa, 09-10-2007, Pk 0415, tiba-2 istri saya membangunkan saya “Man, cepetan kata pembantu di bawah kamarnya ada api !!!” Segera tanpa tanya lagi, saya turun kebawah dan sudah melihat kasur tidur nya di bagian tengah sudah ada api menyala. Sial nya kacamata ketinggalan, padahal ada di sebelah saya waktu saya tidur. Untungnya kamar pembantu posisi nya rada terpisah dengan rumah saya. Segera saya perintah istri saya untuk mematikan aliran listrik karena khawatir kosleting, kalau koslet, maka kebakaran kemungkinan meluas dan bisa memadamkan PLN sekitar kompleks saya.
Sial nya karena kasur, dalam waktu 5 menit, api segera menyebar ke seluruh bagian kasur. Kebetulan pembantu saya saya berikan ranjang spring bed bekas kakak saya yang kena banjir lalu. Dalam 5 menit itu sudah banyak yg saya kerjakan, diantaranya saya minta karung disiram air, ember serta ambil pemadam kebakaran simpenan saya, tapi kelihatannya sudah terlambat, api cepat sekali menyebar. Yang penting tidak menimbulkan tekanan ke luar dan menjalar kemana-mana, maka saya segera menendang pintu agar terbuka lebar-lebar dan membuka jendela kamar, agar asap bisa keluar, begitu buka jendela segera asap membumbung tinggi ke luar sehingga menyulitkan saya untuk memadamkan api yang ada. Sial nya tabung pemadam kebakaran macet (gugup gak bisa di pencet keluar belakangan setelah selesai malah bisa keluar dengan baik). Maka senjata saya tinggal kain-2 basah dan air yang ada. Beruntung kamar pembantu saya depannya ada kran air, dan saya selalu menampung air malam hari, jadi pagi bisa dipakai untuk mencuci. Jadi saya lebih konsentrasi memadamkan bagian kanan dari kebakaran tsb. Cuma karena asap yang semakin banyak dan timbul ledakan-ledakan kecil dari busa kasur yang terbakar, maka saya dengan sisa suara yang ada (karena sudah kering terkena panas api yang membara) berteriak kepada istri saya untuk meminta bantuan hansip. Sial lagi repot-2 isi air di kran baru inget belum pipis bangun tidur, ngompolin aja di celana toh gak ada yg lihat lah, hahaha.
Kebetulan tgl 6-7 Oktober lalu saya baru saja memberikan THR kepada hansip-hansip di RW saya (rutin setiap tahun), sehingga mereka kenal saya dengan baik. Begitu mendengar rumah saya yang terbakar mereka segera datang pk 04.35 dan membantu sebisanya, jumlahnya sekitar 10 orang saya hitung.
Sambil menunggu hansip datang karena saya sudah gak mampu untuk memadamkan api sebelah kiri (karena tertutup pintu), maka saya hanya bisa menyiram pintu supaya basah terus dan api tidak membakar pintu (supaya tidak menjalar). Hal ini biasa pada peristiwa kebakaran dimana yang disiram itu sebetul nya bukan apinya tapi daerah sekitar nya supaya menjadi lembab dan tidak menjalar. Gawat nya justru di balik pintu itu ada kontener plastik tempat biasa pembantu-pembantu lama saya menaruh baju-baju nya, Kipas angin dan alat-2 dapur, tentu saja api menjadi terkonsentrasi disana dan asap menjadi hitam karena kali ini yang terbakar adalah plastik kontener. Sekarang harapan satu-2 nya adalah api tidak menjalar dan mati sendiri.
Begitu pasukan hansip datang maka pekerjaan menjadi lebih cepat, karena mereka yang sudah terlatih untuk memadamkan api, beberapa menggunakan air got untuk menyiram ke arah api, disini api tertimbun lumpur got, jadi tidak menyala lagi. Nah sisanya sebelah kiri di pamungkasi dengan tabung pemadam kebakaran milik RW. Wah akhirnya pk 05.05 kebakaran sudah selesai di padamkan. Tapi kerusakan yang terjadi cukup parah. Atap Gypsum saya rubuh dan melumatkan pipa-pipa pralon air saya yang menghubungkan WC saya di lantai 2. Ironis nya WC itu adalah WC kamar yang saya tiduri hari itu (saya tidur pisah dari istri dan anak, lebih banyak tidur dengan komputer disamping dan notebook serta berkas-berkas kantor). Sampai cerita ini saya ketik WC nya belum bisa dipakai dan saya terpaksa menaruh pispot utk sewaktu-2 kalau kebelet. Apes deh.
Nah selesai kebakaran hebatnya saya bisa nyalain lagi listrik saya, oh ya, di rumah pakai 3 fase, jadi 2 fase ternyata bisa nyala lagi tapi 1 fase gak bisa, berarti ada koslet di fase itu, gak heran sebab kabel nya aja gak tersisa barang 1. Jadi pk 0630 buru-2 saya telepon Pak Bambang, langganan tukang listrik saya menceritakan keadaan demikian, dan pk 0830 Pak Bambang dengan anak buahnya sudah datang untuk membereskan listrik bagian situ. Karena mau masuk masa lebaran maka saya berkeputusan untuk tidak melakukan perbaikan, paling saya memutuskan aliran-2 kabel yang terbakar. Jadi setelah di putus, fase ke-3 sudah bisa menyala kembali. Rumah saya sekarang listrik nya 95 pct sudah pulih, hanya 4 titik lampu yang tidak berfungsi. Nanti akan diperbaiki setelah masa lebaran lewat.
Nah kembali pada waktu kebakaran. Pada waktu hansip-2 sedang bantuin kebakaran, tiba-2 disebelah saya sudah berdiri seorang polisi yang tanya ini itu, misalnya apa penyebab kebakaran, siapa penyebab nya dan apakah asalnya dari kosleting listrik. Saya menjawab seadanya, yaitu penyebab kebakaran ada pembantu saya, buktinya ini yang terbakar sekarang adalah kamar tidur pembantu saya, penyebabnya sesuai keterangan pembantu adalah karena menyalakan obat nyamuk bakar. Dan bukan karena kosleting, karena kalau penyebabnya karena kosleting pasti lampu 1 kompleks padam, buktinya hanya lampu saya yang padam (karena dari awal aliran listrik PLN sudah saya putus). Untuk verifikasi, sekali lagi polisi menanyai istri saya yg hari itu menjaga di pintu luar supaya tidak ada orang lain yg masuk selain hansip. Jawaban nya sama, karena tidak ada yg berbohong untu kasus ini, lagian orang lagi sibuk madami api koq masih sempetnya nanya-nanya, bukan bantuin sekalian. Hasilnya begitu denger penyebabnya pembantu, tuh polisi ngeloyor pergi gitu aja, Heran juga logika nya mestinya tuh pembantu ditangkap yah, hehehe. Dia ogah kali karena pembantu ga ada duitnya.
Selesai Memadamkan api akhirnya kami pun beres-2 bersama hansip sampai pk 05.30 Diantaranya sisa ranjang yang berupa spiral-2 besi dikeluarkan dari kamar, hebatnya tidak terasa panas sama sekali. Jadi saya minta aja sekalian kepada para hansip untuk dikeluarkan semua barang-2 yang sudah terbakar. Habis itu saya kasih mereka uang terima kasih. Mereka juga bilang “beginilah pak kalau ingat-2 kepada kami yg mau lagi lebaran”, hehehe…Jadi mereka ingat saya dan mau bantuin maksudnya. Yah sudah lah, yang penting urusan sudah selesai, kebakaran tidak menjalar, dan hebatnya lagi kedua anak saya masih dalam posisi tidur nyenyak !!! Saya tidak mau membangunkan anak saya kalau kebakaran tidak menjalar, buat apa, malah tambah merepotkan, kecuali kebakaran merambat dan potensial bahaya, maka saya akan menyuruh mereka keluar rumah. Begini saja saya sudah kehilangan tabung gas LPG 1 buah. Padahal seingat saya semua tabung saya yang pindahin ke taman tengah, tapi ada aja yg embat, karena gelap kali. Seorang hansip mengaku sepatu nya rusak karena membantu memadamkan api, segera saya berikan sepatu kerja saya yang biasa saya pakai, toh sepatu tsb beli di Carrefour harganya Rp 59.900. Bisa saya beli lagi besok-besok. Cuma ada beberapa orang lari pagi aja yg nontonin koq, Pemadam kebakaran jangan kisah deh, diteleponin pun gak mau datang. Hebat kan Indonesia, hehehe. Semua harus diurus sendiri. Gak bisa andalkan orang lain.
Yah gitu deh kira-kira cerita dan perjuangan saya melawan api sendirian yang akhirnya dibantu hansip. Pk 05.45 saya baru sadar bahwa ternyata saya menderita luka-2 karena kebakaran tersebut, tangan kiri saya ada 2 baret bakar seperti tertimpa besi panas panjangnya 12cm. Mata saya kalau gak dilindungi Tuhan mungkin sudah buta karena kena bara api, 0,5 mm di bawah kelopak mata. Tangan Kanan kulitnya sedikit perih. Kaki kanan dan kiri kejatuhan bara api dan keinjak beling (kaca jendela pada pecah dan menimpa saya waktu saya sibuk memadamkan api sendirian). Tapi setidak-tidaknya semua selamat, baik jiwa dan rumah. Saya menggunakan Bio Placenton untuk penyembuhan luka bakar yang saya alami. 3 hari pertama saya jalan harus menyeret-nyeret kaki karena luka bakar yang saya alami lumayan bikin perih, apalagi kalau habis mandi. Mata saya susah melek 2 hari, tapi sudah mendingan sih, hanya jadi banyak kotoran di kelopak mata. Bibir saya hitam seharian dan kalau makan seperti sekalian makan norit (arang).
Beberapa hansip cukup salut dengan saya, karena berani berjuang melawan api sendirian dan dengan taktik yang baik, diantaranya menyirami pintu kayu terus menerus supaya pintu tidak terbakar, pintu nya sih tetap saja rusak. Panel copot, tapi beneran gak terbakar lho. Saya juga gak nyangka seberani itu. Mungkin pepatah ada benarnya yaitu DARI KETAKUTAN YANG SANGAT AKAN KELUAR KEBERANIAN YANG LUAR BIASA. Saya berani melakukan hal ini, karena rasa tanggung jawab saya yang besar terhadap rumah orang tua saya sendiri, dan kecintaan akan keluarga, dimana saya gak bisa bayangin kalau anak istri saya sedih karena tempat tinggal nya habis terbakar. Bahkan pada saat itu saya sempat berpikir kalau rumah terbakar habis saya rela menjadi martir ikut terbakar dengan rumah itu. Daripada saya harus mempertanggung jawabkan semuanya. Semua nya bisa terjadi, tetapi dengan dekat Tuhan kita pasti diberi kekuatan dan kesempatan untuk memperbaiki semua nya, termasuk tidak mendapat cobaan yang lebih berat lagi.
Saya sengaja tidak menempatkan foto kebakaran atau ruangan yang bekas terbakar agar tidak selalu mengingatnya. Hal-hal buruk tidak baik diingat terus menerus, karena apabila kita selalu mengingatnya maka berarti pikiran kita mundur, dan saya gak rela punya pikiran mundur hanya gara-2 seorang pembantu infal yang mungkin sakit jiwa. Bagi saya hanya menyia-nyiakan waktu dan tenaga.
Akhir Cerita : Belakangan kabar dari pembantu lama saya (di-hp oleh istri saya, karena mereka sudah pada mudik) tidak ada obat nyamuk bakar dalam kamar tsb Jadi apakah pembantu infal itu sengaja membakar kamar ? Wallahualam. Sekarang pembantu tsb hari itu juga sudah saya kembalikan ke mertua saya. Tuhan yang tau, Tuhan yang menghukumnya nanti. Bukan saya yang hanya manusia biasa……