Tuesday, November 20, 2007

20-11-2007 : Taxi Komo

Pagi-pagi jam 6 saya sudah bangun sendiri, padahal hari ini saya tidur jam 2 pagi. Cuma memang saya sudah ada janji dengan seorang kawan yang menjadi rekan kerja di Mangga Dua pk 0900 untuk Meeting di Sudirman Pk 1000. Maka Pk 0700 setelah mendusin berkali-kali saya segera menyiapkan keperluan kerja dan bepergian.

Pk 0803 saya pun sudah naik Dian Taxi menuju ke Mangga Dua. Taxi melaju dengan cepat, mengingat pada jam segitu jalanan cenderung sepi. saya pikir, wah, kalau gini terus pasti Pk 0840 juga sudah sampai. Cuma siapa nyana, Pk 0825 tiba-2 mesin mobil taxi mendadak mati. Tidak bisa di starter lagi, walaupun sudah dicoba Pak Supir berulang-ulang.

"Dasar Apes" pikirku, bukan nya naik taxi di tol eh malah jadi dorong taxi di Tol, mana mogoknya pas di atas Tol Jelambar yang menyempit itu. Gimana nih, tadinya saya sudah pesimis, kayaknya bisa batall deh janjiku hari ini. Jadi saya menyiapkan ransel saya untuk menunggu bantuan. Mana Supir taxi nya gak bisa nanganin mesin mobil lagi, padahal taksiran saya sih paling busi basah atau delko gak mercik, harus diamplas dikit. Tapi kan gak enak bongkar mobil orang lain. Selain takut gak bisa pasang lagi, nanti tangn saya kotor, wong mau pergi meeting koq.

Jadi saya cuma bisa nongkrong di pinggir jalan tol sambil makai ransel dan duduk di atas beton pagar tol. Saya sih sebenernya sudah minta Dian Taxi untuk mengirimkan armada pengganti, tapi seperti nya gak ada respon dan bakal makan banyak waktu.

Untunglah, di sela tongkrongan, ajaib bisa ada supir taxi yang liwat di jalan tol dalam keadaan KOSONG !!! Wow, kejutan. Selama ini selain dari bandara mana ada sih Taxi kosong di dalam jalan tol, ada-2 saja. Maka saya langsung menyetop. Saya gak tahu ini taxi apa, sampai belakangan saya tanya kepada Pak Pengemudi Taxi. "Ini Taxi KTI (Koperasi Taxi Indonesia)" kata si bapak. Saya penasaran bertanya kenapa koq bisa-2 nya kosong-2 naik tol. Si Bapak menjawab lagi buru-2 menuju ke Pasar Jatinegara, takut kehilangan kesempatan, karena volume penumpang jam segitu banyak. Wah, Tuhan memang Maha Besar. Bisa menjodohkan orang yang percaya. Saya pikir kalau kedua kali saya begini belum tentu bisa seperti ini kejadiannya.

Maka saya kembali melanjutkan perjalanan ke Mangga Dua untuk menunaikan tugas saya, sehingga saya bisa hadir dalam meeting tepat waktu Pk 1000.

Monday, November 19, 2007

19-11-2007 : Oh, PSSI

Hari ini saya membaca koran setengah-setengah karena tiba-tiba istri saya minta diantar ke Yayasan Pembantu untuk mengambil pembantu baru. Jadi saya kebagian tugas untuk nyupirin, maklum, daripada naik kendaraan umum lebih berbahaya.

Tetapi di bagian tengah mata saya tertumbuk pada berita : Indonesia dipermalukan Suriah 0-7 di Damaskus. Lha, inget gak komentar saya minggu lalu mengenai kekalahan di Senayan 1-4, sekarang dicukur 0-7. Sebenernya sih saya sudah tau disana juga kemungkinan besar kalah, tapi yang menjadi perhatian saya kali ini adalah tim nasional yang maju kesana adalah tim U-23 untuk Olympiade !!!

Keadaan seperti ini sebetulnya menurut saya sangat tidak mendidik. Bagaimana mungkin kakaknya kalah berkelahi, lalu suruh adiknya pergi ke rumah lawannya untuk membalas kekalahan kakaknya ??? Sangat aneh. Anda pun kalau mendengar kisah ini pasti heran. Urusan kakak nya koq, bawa-bawa adiknya ikut campur. Malu-malu in.

Poin yang saya catat disini adalah :
1. Tidak mengajarkan Timnas Senior untuk bertanggung jawab atas kekalahan yang di derita di Senayan. Sudah Main – kalah – bubar – terus suruh tim lain yang beresin. Saya jadi teringat anak kecil yang sedang main mobil-mobilan, gitu disuruh mandi, mobil-mobilannya ditinggal gitu aja, nanti mama nya yang beresin. Enak banget, padahal hal yang kecil begitu sangat berperan untuk kita sebagai orang tua memberikan pelajaran mengenai Responsibility (Tanggung Jawab). Kalau gitu lain kali mainnya sembarang saja, toh nanti kalau kalah gak perlu repot-2 membalas nya. Saya selalu mengajarkan anak saya untuk membereskan mainannya setelah dia main. Efeknya sih jadi ada, yaitu dia jadi malas bermain dengan mainannya, tapi kebanyakan main juga jadi tak berguna toh.

2. Tidak mengajarkan Timnas untuk bersemangat. Dan mengajarkan untuk bersikap pesimis. Memang saya pikir pada akhirnya kita kebanyakan kalah di Damaskus. Tapi kita harus tetap punya harapan dan usaha tentunya. Tanpa harapan apa gunanya kita hidup. Kalau gitu sekalian saja Tim Nasional Dibubarkan, Semua pakai U-23.

3. Membuat Tersinggung Timnas Suriah. Yang bener aja, Timnas Senior disuruh ketemu dengan Timnas Senior minus (U-23), itu kan sama saja dengan menurunkan martabat mereka. Baru kali ini saya melihat sebuah Tim Nasional yang tidak menghormati tuan rumah nya. Coba bayangin kalau kita bikin Kejuaran Bulutangkis Internasional berhadiah ratusan juta Rupiah, Yang diundang adalah negara-2 yang terkenal bulutangkisnya. Memng sih nanti yang datang peserta dari mancanegara. Tapi yang datang pesertanya semua baru bisa main bulutangkis kemarin sore.atau anak-anak SD misalnya Itu kan sama saja dengan ngeledek namanya.


Nah, disitu terlihat sudah dengan jelas betapa PSSI sebagai wadah sepakbola nasional sudah tidak pantas lagi untuk bersikap seperti itu. Kelakuannya benar-2 seperti anak kecil. Percuma sudah 77 tahun berdiri (sejak Tahun 1930). Saya rasa pengurus-2 senior pasti sedih melihat keadaan PSSI sekarang ini yang sudah gak masuk di akal.

Sunday, November 18, 2007

18-11-2007 : Bad Service

Seperti kebanyakan hari Minggu lainnya, hari ini saya seperti biasa dibangunkan istri Pk 0730, wah masih berantakan kesadarannya, sebab beberapa jam yang lalu habis bersorak gembira karena Israel membabat Russia 2-1, yang dramatis adalah kemerangan itu baru dipastikan di menit ke 92, berarti pada masa-2 injury time. Benar-benar hebat Israel, eh jangan diseret-seret ke Politik atau masalah Zionisme yah, seba bagi saya permainan sepak bola nya bukan soal nasionalisme. Saya akui permainan Israel jauh lebih dinamis daripada Rusia yang cenderung kaku. Mungkin warisan dari masa komunis beberapa belas tahun yang lalu.

Yang senang tentu kesebelasan Inggris yang berarti nanti mereka cukup bermain seri di Wembley 21 November mendatang melawan Kroasia. Gak gampang sih tergantung Kroasia nya gimana maunya. Kalau Kroasia pintar sih atur seri lah, siapa tahu negaranya nanti bisa mendapat bantuan Finasial dari Pemerintah Inggris raya, hahaha. Cuma kalau Inggris kalah dan Rusia menang atas Andorra, maka siap-siap melupakan Putaran Final Piala Eropah 2008 nanti.

Saya sebetulnnya bukan pencinta Sepakbola Inggris, tapi tetap saja ketidakhadiran Inggris membuat Piala Eropah nanti menjadi kering dan kurang Gosip. Saya kesal Kesebelasan Iggris selalu membuat kesalahan yang itu-itu saja dalam setiap event internasional. Misalnya kalah adu penalty, atau pada masa krisis selalu ada pemain bintang (ingat khasus David Beckham dan Wayne Rooney) yang kena kartu merah. Makanya kalau sudah Event Internasional, saya gak pernah tebak Inggris akan menjadi juara. Atau pada pertandingan tertentu saya sudah bisa menebak hasilnya, misalnya pada kasus Inggris melawan Portugal pada Piala Dunia 2006. Begitu Wayne Rooney kena kartu merah, maka saya pikir Inggris bakal kalah adu penalty dan kenyataannya demikian.

Kembali ke PDA...
Bangun tidur yang ada di pikiran saya cuma 1, beresin kamar nih, udah hancur kayak abis di rudal. Barang berserakan dimana-mana di lantai. Setiap ada kerjaan penting maka kerjaan lalu yang sudah selesai saya taruh gitu aja di lantai, maklum, sudah kesulitan waktu untuk mencari tempat merapihkannya.

Oh ya, sejak sudah ada 2 anak saya tidur sendiri, kadang bersama anak perempuan saya. Istri tidur dengan anak-anak. Saya lebih suka tidur bersama kerjaan kantor dana toko saya, jadi di kamar hanya ada 1 ranjang, 1 meja 1/2 biro dengan perlengkapan Notebook, scanner, Laser Printer, 1 meja PC dengan PC 1 set, dan sebuah lampu baca. Di kamar ini saya biasa setiap hari bangun tidur dan langsung bekerja, sebelum tidur juga bekerja. Sepertinya saya gak pernah lepas dari kerja. Kadang saya bekerja hanya dengan PDA dan Keyboard PDA. Setelah itu baru ditransfer ke Notebook dan cetak via laser printer. Maklum, kantor kecil, toko kecil, gak perlu sekretaris, paling istri saya suka saya minta bantu untuk faksimil dokumen-2 ke toko. Atau minta bantu telepon seseorang.

Pekerjaan membersihkan kamar kiranya gampang, mungkin bagi sebagian orang artinya hanya menyapu dan mengepel. Beda lah dengan saya. Di lantai saya ada beberapa DVD bajakan, bon belanja yang belum dipisah, struk ATM yang harus di arsip dll. Biasa untuk pengarsipan saya menggunakan map bulanan dan sebagian dokumen di scan, dengan scanner kesayangan saya, UMAX 5600, mungkin saat ini sudah menjadi scanner sejuta umat. Kecepatannya OK banget, dan hasilnya gak jelek-2 amat. Saya harus memilah satu demi satu benda-2 yang berserakan di lantai, dan itu makan waktu 2 jam.

Sampai Pk 1300 baru deh istri dan anak-2 mulai sebut-sebut keluar rumah. Saya sih OK saja, toh sudah makan siang di rumah. Saya terpikir untuk menemui seseorang di Plaza Semanggi. Jadi kami pun berencana untuk ke sana. Maka saya Pk 1330 pun berangkat ke Plangi.

Sampai Pk 1400 kami sampai ke Plaza Semanggi, wah kacau, masak belum sampai saja sudah macet. Masuk Plaza Semanggi juga macet, masuk parkir ke atas, di LCD tertera kosong 97, tapi jujur saya saya merasa dibohongi dengan LCD tersebut, sebab kenyataannya begitu masuk, saya gak dapet parkir sama sekali, saya lihat hanya 3-4 mobil yang kebagian parkir, sisanya cuma putar-2 saja sama kayak saya. Akhirnya saya turun dan pulang, di Pagar ditagih Rp 2.000, wah gak heran yang punya Secure Parking cepat kaya. Gak kebagian parkir saja mesti bayar, This is Ridiculous....

Maka akhirnya daripada mikirin Plaza Semanggi mendingan saya banting setir ke Pasar Baru. Istri lagi mau makan Kuo Tie. Istilah kerennya sekarang Dumpling. Di Krekot ada sebuah rumah makan Kuo Tie yang sudah jadi legenda. Saya pun pergi kesana. Sambil menunggu pesanan datang, saya pun jalan kaki untuk makan Tauge Goreng Krekot yang juga sudah jadi legenda. Asal tahu saja. Di daerah sana ada 3 tempat yang jadi Legenda. Soto Pak Kumis di Kartini 2, dan 2 tempat tadi.

Tapi selesai makan kami sekali lagi dikecewakan si empunya tempat. Masak istri saya bayar pakai Uang 50 ribuan yang kemarin baru ambil dari ATM BCA berupa lembaran yang bukan biru, ditolak. Alasannya sudah gak berlaku. Apa pula ini ??? Kalau sudah tidak laku bagaimana masih bisa ditaruh di ATM ?? Salah siapa, BCA ?? Maka saya dan istri sepakat untuk tidak akan pernah kembali lagi ke tempat itu. Lagipula sambil makan, ada anjing seliweran kemana-mana 3 ekor. Bikin bau saja.

Selesai makan Pk 1600 kami ke toko untuk menengok kedaan. Setelah saya berberes-beres administrasi, maka kami pun pulang dengan senangnya anak-anak karena sudah diajak jalan-jalan.

Thursday, November 15, 2007

15-11-2007 : Indocomtech & Pameran Buku Ikapi

Selesai nebeng mobil istri saya jemput anak sekolah maka saya pun turun dekat pangkalan taxi di perumahan bermodal tas ransel.

Disana tinggal ada 1 dian taxi dgn no 2295 tepat pk 1105 saya mulai mengarungi Jl. Panjang menuju ke JHCC.

Jalanan pada dasarnya cukup lancar. Malah Café Relasi yang depannya biasa macet dapat dilalui dgn baik oleh pak supir taxi. Tapi masuk daerah Kelapa Dua kemacetan baru terasa. Sangat tersendat-sendat.

Akhrnya sampai juga saya di JHCC tepat Pk 11.45. Berarti perjalanan memakan waktu selama 40 menit. Hari masih cerah, baru mulai mau ramai. Saya pikir pameran Indocomtech kali ini tidak seramai biasanya. Banyak stand yang tidak di datangi oleh pengunjung. Beberapa SPG saya lihat malah asyik bermain SMS, mungkin hari masih siang kali.

Di depan hall begitu masuk saya sudah mendapati majalah South Jakarta yang diperuntukkan bagi komunitas Jakarta Selatan. Lumayan, saya ambil 1 untuk saya baca-baca nantinya. Toh gratis.

Berikutnya saya justru masuk ke ruang sebelah kanan, di dominasi oleh Notebook. Acer, Asus, BYON, Fujitsu, Toshiba dll. Pintu masuk pertama sudah dihadang oleh Mobile Gear sebelah kanan. Yang bikin saya kecewa adala barang-2 yang dipamerkan sebenarnya gak beda jauh dengan yang ada di Gramedia (untuk Mobile Gear). Jadi percuma saja. Sekali lagi Pameran Indocomtech hanya berkesan sebagai ajang diskon bagi peserta nya.

Di Ujung saya mulai tertarik dengan penawaran Kamera Digital, sebab Fuji mengeluarkan Kamera Saku Digital yang cukup murah harganya, dan sudah 8 MP, yaitu Fuji FinePix F480. Wah Bagus juga, tapi 2 juta itu masih di luar target saya. Fuji ada keluarkan kamera digital saku yang standar dengan merk Mpix, tapi siapa yang bisa kata dengan kamera model gini ? Hebat sih 7 Megapixel hanya Rp 1.090.000, menggiurkan, bahkan yang 3 megapixel hanya dibandrol dengan harga Rp 299.000, Wah, untuk anak-2 muda sih sangat terjangkau banget. Kalau saya jadi anak sekolahan pasti saya ambil satu untuk dokumentasi. Entah walaupun HP sudah ada kamera tapi saya tetap tertarik menggunakan kamera saku, sebab hasilnya pasti lebih meyakinkan. Padahal Cybershot K800 sudah di tangan, tetap saja rasa saya ada yang kurang. Misalnya dalah hal penanganan kecepatan rana (shutter speed). Masih susah terkejar dengan kamera saku, apalagi dengan kamera profesional atau SLR.

Dari konter Fuji saya berbelok ke Fujitsu. Memang saat ini saya sedang melirik notebook-2 ukuran kecil maksimal 12” Wide lah dikarenakan usia saya yang menua sehingga kemampuan membawa notebook 2,8 kg semakin mengendur. Saya harus cari notebook yang beratnya 1 kiloan deh, kalau gak bisa modar lama-2. Pertama-tama saya pikir jawaban nya pada UMPC (Ultra Mini PC) Tapi saya lihat prosesor nya gak mendukung banget, bener-2 Cuma untuk ngetik dan lamban respon, tentu saja masih belum waktunya menurut saya memiliki UMPC. Saya lebih cenderung pada notebook 10 - 12 inchi. Tapi tentu saja tidak sekarang, mungkin tahun depan baru pikir-2 ganti.

Kalau sudah ngomong Fujitsu, masalah ada di harga, tapi barang-2 nya memang gak mengecewakan. Model P1610 dengan layarnya yang 8,9” dan beratnya 1 kg benar-2 membuat saya jatuh cinta. Rp 15,28 juta katanya. Wah, nanti yah kalau memang benar-2 butuh saya cari model begini.

Selesai dari Fujitsu, saya sowan ke pangkalan, yaitu stand Acer. Jujur saja saya rada ga suka melihat model nya yang sekarang ini. Kelihatannya kayak sabun gepeng. Saya lebih suka dengan model Acer Aspire saya yang kelihatan dewasa. Walaupun berseberangan dengan BYON, tapi saya hanya mampir ambil brosur di BYON, karena BYON tidak menyediakan notebook dengan layar dibawah 14”.

Keluar dari Hall kecil itu saya pindah ke Hall Utama. Masuk kesana, lha koq terkesan sepi, dan yang bikin saya gerah notebook lagi, notebook lagi, kayaknya gak habis-2, semua jual notebook. Maka saya pun gak berlama-lama di hall ini. Cuma ambil brosur sana sini terus saya tembus ke belakang. Disana saya mendapati sedikit perubahan tata letak. Axioo sekarang berani di tengah. Terus terang kalau untuk generasi 20+ notebook Axioo itu fun juga. Bayangkan saja, sparepart model batere dsb nya dijual dengan harga cukup ok, Misalnya batere nya Rp 500rb-an. Coba deh ke merk-2 yang sudah OK, baterenya di bandrol paling dikit Rp 1 juta. Saya sih sebenernya naksir juga lihat yang type NVS Dual Core yang berlayar 12,1” Wide Screen. Sayang Video Controller nya bukan Intel melainkan SiS Pro Logic. Kayaknya gimana gitu kalau Motherboard nya bukan Intel. Cuma ini resiko kalau mau kecil dan murah.

Kali ini saya gak mau mampir ke bagian Mangga Dua, sebab ramai sekali dan sangat memakan waktu, apalagi saya emang tidak mau banyak belanja aksesoris, dan sudah rada kelaparan karena waktu menunjukkan Pk 1300. Maka setelah dari stand TokoUSB pun saya mampir makan di café nya. Di café ini saya sudah langganan banget, Kayaknya kalau ada pameran di JHCC saya gak mau makan di tempat lain selain disini. Memang sih harganya minta mapun. Nasi Rames Rp 34.000 plus Air Mineral Rp 7.000 = Rp 41.000 Tapi rasanya seperti gak ada dimana-mana. Jadi nya ekslusif sekali. Hanya di JHCC, hehehe.

Selesai makan siang, maka mata saya tertuju kepada stand Camera Shop yang saya tau selama ini sangat rajin berpartisipasi di tiap pameran Indocomtech. Produk andalannya adalah Camera Case Lowerpro. Tapi kali ini mata tidak tertuju kepada Camera Case tetapi pada Camera nya langsung. Saya sangat tertarik pada penawaran Casio Exilim yang sudah lama menjadi dambaan saya. Yaitu Casio Exilim EX-Z75 dengan harga Rp 1.499.000, Wow, dulu waktu baru keluar kamera ini dibandrol Rp 2 jutaan. Kalau sudah dibawah 2 juta sih not bad yah untuk kamera 7,2 Megapixels, apalagi saya dari dulu paling senang dengan mode Best Shot nya yang sudah gak usah pusing mengatur kamera untuk mendapatkan gambar bagus. Tinggal ambil dari template best shot yang disediakan lah. Untuk kali ini saya memilih warna hitam daripada silver atau pink, karena warna hitam kelihatan lebih dewasa. Hmmm... Belanja lagi, udah ah kali ini stop untuk bulan ini (saja) hahaha...

Sesudah nya dari pameran Indocomtech, saya pun mengayunkan kaki ke Pameran Buku Ikapi. Di Pameran buku saya tidak melihat banyak karena memang saya lagi overstok buku. Tapi memang sudah kebiasaan saya mampir ke Stand Tempo untuk membeli CD Kumpulan Majalah Tempo Edisi Tahun 2006. Disitu saya juga ketemu buku cetakan Th 2000 berjudul "Melawan Melalui Lelucon" berupa artikel-artikel Gus Dur yang pernah dimuar di Majalah Tempo sekitar Tahun 1978 - 1980 an. Harganya Rp 10.000 dan tinggal 2 buah. Hahaha maklum cetakan lama (Th 2000), toh saya beli Th 2000, saya beli sekarang (Th 2007) tetap saja isinya artikel Th 78 - 80an.

Dalam Pameran, tiba-2 istri saya menelepon memberi tahu langit yang sudah semakin gelap. Maka saya pun buru-2 mencari jalan keluar. Benar saja, begitu keluar ternyata sudah hujan deras. Wah, susah deh panggil taxi. Untung saya mendapatkan Taxi Kosti Jaya di luar Komplek Senayan, kalau mau dapat taxi di dalam JHCC pasti susah sekali sebab akan berebutan dengan calon penumpang lain.

Wednesday, November 14, 2007

14-11-2007 : Body Repaired

Hari ini Pk 0830 tiba-tiba saya diteleponi oleh Pak Didi, oh ternyata Pak Didi dari Metro Motor, bengkel tempat saya menitipkan kendaraan saya untuk diperbaiki Body nya. Saya sudah tinggal dari tanggal 4 November lalu, dan berhubung usia mobil saya sudah 10 tahun, maka saya dengan lapang dada harus memperbaiki mobil saya tanpa cover asuransi. Setahu saya tidak ada asuransi yang mau meng-cover mobil di atas usia 5 tahun (silahkan menghubungi saya kalau ada).

Saya dulu menggunakan asuransi LG Simas, dan nyatanya begitu ultah ke lima, salesnya pun udah ogah nelepon saya untuk menawarkan perpanjangan, mungkin dari segi nilai juga sudah menurun banget jadi premi nya menurut mereka sudah keliwat murah dan resiko nya malah cenderung lebih besar.

Belakangan saya dengar dari famili tarif asuransi mobil baru saja kelas Toyota Rush bisa kena 6-7 juta setahun, wow, kalau menurut saya sih jaman sekarang gak usah beli mobil mahal-mahal lah, ngapain kalau cuma untuk disenggol-senggol sama angkot, motor dan bajaj.

Yah kalau mampu beli yang mahalan dikit mending cari lajur jalanan yang santai dikit, maksudnya yang tidak begitu macet atau semerawut. Maklum, biar punya uang untuk beli mobil mewah, tapi kelakuan bawanya suka lebih mirip dengan sopir bajaj.

Pk 1100 saya baru menyempatkan diri ke Bengkel untuk mengambil mobil. Dengan ojek langganan saya pun berangkat ke sana. Sampai disana saya diarahkan ke bagian administrasi untuk membayar terlebih dahulu. Saya biasa membayar dengan Debit BCA, wah kacau, hari ini ternyata mesin debitnya rusak. Jadi saya disuruh ambil kontan ke ATM, tentu saja saya sih maunya transfer, ngapain saya bawa uang kontan kemana-mana. Tapi saya kan datang naik ojek, gak bawa kendaraan sendiri, siapa yang mau antar saya ke BCA ?? Yah, ini dia bagian yang lucu. Jadi saya naik mobil saya sendiri dikawal dengan orang bengkel ke ATM BCA terdekat. Konyol juga yah. Sedangkan mobil itu sendiri belum saya periksa kelengkapan maupun hasil kerjanya. Jadinya modal saling percaya saja deh. Seusai ambil kontan dari ATM BCA maka saya memeriksa mobil (yang sudah saya pakai keluar tadi).

Jumlahnya memang lumayan mahal, Rp 3,7 juta. Tapi setara lah dengan mobil yang usianya sudah menginjak 10 tahun. Apalagi saya masih sayang banget dengan mobil ini sebab ada 4 alasan :
1. Mobil ini dibeli dengan hasil susah payah dan tabungan saya sejak saya ingin memiliki mobil, tepatnya saya menabung untuk membeli mobil ini sejak saya menginjak SMA, 10 tahun sesudahnya setelah saya bekerja serabutan (selama SMA dan Kuliah, serta bekerja), saya akhirnya mempunyai dana yang cukup untuk membeli sebuah Mobil Toyota Kijang LGX (tanpa mengganggu cash flow saya, maklum saya beli mobil ini dengan cara cash keras).
2. Mobil ini menggunakan platina, bukan sistem injection, tentu saja tarikannya jelas lebih asyik, serta untuk sekelas kijang bensin nya memang irit banget
3. Mesin mobil ini masih sangat halus, karena saya rawat. Malah Pak Didi sempat memesan kalau mau jual hubungi dia dulu karena Pak Didi sangat tertarik.
4. Mobil ini kayaknya bisa membawa apa saja yang saya mau bawa, termasuk istri dan semua anak saya.
5. Saya belum ada alasan untuk mengganti menjadi mobil baru, walaupun secara materi saya mampu menggantinya.

Ciri-2 orang setia..?? Hmm Hmm Hmm... Memang gak gampang kalau soal membicarakan mobil kesayangan. Dua kali saya punya kesempatan untuk menggantinya dengan yang baru, dua kali juga saya membuang kesempatan itu.

Setelah saya "menebus" mobil saya di bengkel, barulah saya berencana pergi ke kantor saya. Ternyata hari sudah mendung Pk 1300, saya buru-2 manggil tukang ojek langganan saya, tapi gak keburu, Pk 1320 di Roxy saya kena hujan, butiran hujannya besar-besar lagi, sehingga sakit kalau kena badan.

Untung saya membawa jaket hujan di dalam ransel, jadi saya minta sang ojeker untuk minggir sebentar dan memakai jaket hujan, huuuiii.... Gak nyangka cepat begini, apalagi angin kencang yang sempat membuat saya khawatir akan jalanan. Belakangan saya dengar beberapa papan reklame jatuh di jalanan. Inilah akibat dari penanganan papan reklame dan baliho yang kesannya rada sembarangan, istilah kasarnya asal ada uang, mau pasang papan reklame dimana pun bisa. Banyak mobil yang rusak tertimpa pohon rubuh dan papan reklame rubuh. Barusan saya dengan di Radio Sonora ada beberapa mobil diantara nya sebuah taksi di jalan protokol dan 2 buah mobil di kantor kejaksaan rusak tertimpa.

Hebat juga yah jaksa di Indonesia bisa naik mobil BMW seri 3 dan Suzuki APV (2 mobil yang ketimpa pohon di kantor kejaksaan). Saya yang punya usaha sendiri saja sampai sekarang masih naik Toyota Kijang, dan malah sekarang saya ngantor pakai ojek karena macetnya jalan raya. Kalau menurut saya bertambahnya jumlah mobil di Jakarta hingga macet bukan karena penduduk yang bertambah, tapi karena para pejabat sudah mulai berani beli mobil macam-2, gak kayak dulu yang standarnya kijang doang (kayak saya yang tampakna masih old fashioned).

Saturday, November 10, 2007

09-11-2007 : IrDA PDA Keyboard

Wah, malam ini saya dapat kejutan, saya lupa kemarin malam saya habis tik di PDA mgantuk, langsung tidur, maka saya taruh begitu saja keyboard PDA saya di kolong ranjang. Hari ini Pk 2245 saya lupa maka keinjak di bawah, waduh gawat, rusak deh, pikirku. Saya lihat penyangga tutupnya patah. Akhirnya setelah berusaha di lem dengan lem super, saya nyerah juga, kayaknya gak bisa disambung lagi. Tapi akhirnya saya punya ide, kenapa gak dua-2 nya saja penyangga nya dicopot, sehingga malah saya bisa cover dengan selotip sekalian, nah akhirnya malah saya mematahkan 1 lagi titik penyangganya, sekarang malah menjadi lebih baik. Setelah diselotip, maka saya sambil test keyboard PDA menulis berita ini, saya sertakan foto yah, hahaha....

Friday, November 9, 2007

09-11-2007 : Tragedi di Senayan

Hari ini saya baca koran akan ada pertandingan Pra Piala Dunia South Africa 2007 di Senayan antara Indonesia melawan Syria. Wah, pasti rame yah, mungkin pertandingan berjalan dengan ketat berhubung kedua tim belum pernah berhadapan sebelumnya beberapa waktu belakangan ini.

Saya sih gak kepikir untuk ke Senayan, karena hari ini saja kerjaan saya cukup merepotkan sekali. Apalagi mesin fotocopy saya tiba-2 ke reset sehingga hasilnya hitam, jadilah saya harus memperbaiki nya sendiri.

Pulang ke rumah Pk 1615 saya langsung buka TV, karena saya gak tahu mainnya jam berapa itu pertandingan. Ternyata tiada satu pun saluran yang memberitakan sepak bola. Malah saya akhirna ketemu saluran TV baru seperti Da Ai TV di saluran 59 UHF dan Siaran percobaan TV El Shinta di 35 UHF. Wah hasilnya bagus-bagus dan jernih, malah stasiun TV lama masih kalah bagus dengan ke dua saluran TV ini.

Akhirnya Pk 1800 saya ketiduran karena capek banget, sampai-2 bangun tidur Pk 1930 saya makan malam dulu. Dan Pk 2000 iseng-iseng saya mencari saluran TV lagi dengan TV Tuner USB kesayangan saya, ternyata ketemu juga tuh di TPI ada dengan keadaan sudah 0-1 untuk Syria. Wah gawat juga Indonesia ketinggalan. Malah gak lama kemdian ketinggalan 0-2 sebelum akhirnya di susul dengan 1-2 setelah Indonesia mendapat kan hadiah penalty.

Yang menyesakkan adalah pada menjelang turun minum malah Indonesia kebobolan lagi berkat blunder dari Kiper Markus Horizon yang menangkap bola hasil tendangan bebas kurang sempurna sehingga molos meliwati selangkangannya. Kedudukan babak pertama 1-3. Wah kalau gini terus bisa-2 keadaan makin parah, sebab koq kayaknya pemain Indonesia kali ini kurang semangat, bahkan rada kesulitan menggempur pertahanan lawan. Apalagi dengan kelakuan para pemain Syria yang khas Arab, di senggol aja pura-2 sakit, jatuh dsb, dsb.

Masuk Babak ke-2 pertandingan masih gitu-gitu aja, saya menyempatkan diri pergi sembayang, karena hari sudah malam. Begitu kembali sembayang, ternyata pertandingan baru saja masuk masa bubaran dengan hasil yang mengecewakan, 1-4 untuk kekalahan Indonesia. Mmm memang bukan waktunya untuk Indonesia untuk berbicara di tingkat Internasional, di Asia Tenggara saja posisi Indonesia angin-anginan. Sudah waktunya memang PSSI berbenah diri jangan hanya mengurusi kepengurusannya saja dengan mempertahankan seorang narapidana menjadi ketua umum PSSI, lebih baik memikirkan bagaimana kesebelasan Indonesia bisa berbicara di arena internasional.

Wednesday, November 7, 2007

07-11-2007 : Terowongan Jalan Angkasa

Hari ini saya mau cerita mengenai keadaan terowongan Jalan Angkasa yang menghubungkan Jl. Angkasa dan Jl. Gunung Sahari. Terowongan ini sih kayaknya memang ditujukan untuk mengatasi kemacetan di pertigaan antara Jl. Angkasa dan J. Bungur depan Hotel Golden Gunung Sahari dan Kantor BOURAQ.

Saya pikir dengan adanya terowongan ini maka daerah sana tidak ada kata macet lagi. Ternyata perkiraan saya cukup salah. Nyata-nyatanya saya mash kena macet di terowongan ini kira-2 16 menit lamanya yaitu dari Pk 1522 sampai dengan Pk 1538.

Ketika keluar dari Tol di pintu Kemayoran, maka saya pikir akan mencoba daerah Angkasa yang dahulu nya lumayan bikin sakit kepala kalau lewat sana. Betul memang Jl. Angkasa nya sudah tidak terlalu macet, tapi begitu mobil masuk terowongan sudah terasa macet nya. Ada 2 mobil yang menyerah dan memutus kan keluar dari terowongan dengan cara mundur. Saya sendiri memilih meneruskan jalan ke terowongan dengan berpikir akan mencobanya semacet mana, mumpung tidak ada janji degan siapa-siapa kecuali dokter gigi saya pk 1730 nanti.

Ternyata begitu masuk saja sudah disambut dengan kemacetan. Saya perhatikan dengan seksama, ternyata sebetul nya terowongan ini belum jadi benar. Berbahaya sekali memasuki terowngan seperti ini, jalur masih ditutup setengah. Malah di persimpangan atas (yang di lewati kereta api), tamak benar masih disemen dan beberapa orang diatas saya sedang mengerjakan sesuat, sampa-sampai saya hanya bisa berdoa semoga tidak ada benda menjatuhi mobil yang saya kendarai, karena ini mobil pinjaman orang tua.

Lumayan juga kemacetan yang terjadi, untunglah saya masih bisa menikmati macet sambil menonton “Phantom Of The Opera” nya Joel Schumacer dari iPAQ yang saya tempelkan di mobil. Ternyata di ujung terowongan juga masih ada proyek yang masih dikerjakan, sehingga kalau lampu traffic menyala hijau maka kendaraan melaju tersendat. Gak heran masih macet.

Saya sih saranin, kalau masih ada pengerjaan terowongan, ada baiknya untuk menutup terowongan dulu sampai pengerjaan selesai, sebab khawatir dapat membahayakan kendaraan yang meliwati nya.