Sunday, February 11, 2007

The End of Banjir

Hari ini mulai lah kotoran-kotoran dibuang, jumlahnya gak tanggung-2, 14 karung gula (biasa untuk isi gula 50 kg), berhasil dikumpulkan, 2 karung sebelumnya saya titipkan ke tukang pulung, sebab berupa barang elektronik rusak yang mungkin mereka bisa pakai lagi. 14 karung sisa saya sewa gerobak dan Pak Sigit "mengirim" ke pembuangan sampah, masalah pertama muncul, pembuangan sampah di perumahan gak mau terima karena keliwat banyak, akhirnya Pak Sigit membawa sampai kurang lebih 10 km untuk mencari pembuangan lain, wah, gak enak nih, bikin repot banget, saya tambahin deh uang hariannya, sekalian say goodbye karena besok Pak Sigit sudah kembali bekerja di bengkel las nya. Saya juga tiak lupa menghadiahkan trolley anak (anak saya udah gak mau di trolley) dan beberapa barang elektronik yang saya ga sempat service, mengingat Pak Sigit ini konon suka ngutak-ngutik barang elektronik.

Tugas berikutnya adalah Perbaikan Pompa, mobil, dan pembersihan tembok rumah, yang sudah sukses menatto rumah saya dengan garis banjirnya yang aduhai.

Saturday, February 10, 2007

The Gardener

Ini bukan judul film, tapi hari ini memang saya menyempatkan waktu membereskan taman, banyak pohon-2 dan tanaman yang mati karena busuk, terlalu lama terendam air, kalau yang batang dan daunnya masih nongol waktu banjir sih, masih pada bisa hidup, tapi kalau yang kelelep semuanya, seperti pohon sabung nyawa, lidah buaya, dll (saya penggemar nanam tanaman obat, yah, almarhum deh.

Nanti pameran flora dan fauna berikutnya di Lapangan Banteng, saya akan mampir beli lagi untuk meneruskan hobby saya yang satu ini.

Sore nya saya panggil orang las pintu gerbang, bagian-2 yang copot saya tempel kembali, lumayan lah, orangnya minta Rp 200rb. Tapi saya malas cat lagi deh, abisnya lihat keadaan dulu, atau tanya ortu mau ganti cat apa.

Friday, February 9, 2007

Pasca Banjir

Wuiihhh.... akhirnya banjir di depan rumah surut juga, mungkin sekitar pk 01.00. Pk 05.00 PLN kembali mengaktifkan aliran listrik ke rumah. Wah, anak-2 bahagia deh, sudah bisa tidur dengan AC lagi.

Pk 06.30 mulai deh kesibukan dimulai, dengan bangun tidur, lalu siap-2 lari ke Superindo, Pk 06.50 keluar rumah dengan mobil, wah, hujan gede juga, khawatir banjir lagi ..?? Nggak, sebab got depan rumah juga sudah surut banget.

Masalahnya, Pk 07.00 Superindo gak kunjung buka, ditungguin sampai pk 07.30 masih belum buka, gimana sih Supernido, katanya pk 07.00 sudah buka, tanya ke dalam, katanya komputer masih belum terhubung ke pusat. Yah sudah pulang lagi.

Pulang ke rumah di garasi baru sadar, tahunya ban belakang sebelah kanan kempes, wah lupa, setelah terendam 3 hari 3 malam di garasi tentunya ban yang relatif sudah lama bisa saja berkurang tekanannya. Tapi karena tidak ada tukang tambal ban yang buka, maka saya pikir sore saja baru cari.

Pk 09.00 Pak Sigit dan rekannya sudah datang, sesuai dengan rencana, kami angkut-angkut dan geser-2 meja makan, lemari baju, meja rias, ranjang yang terendam banjir. wah, kalau nggak saya lelaki dewasa sendiri dalam rumah gak gampang yah. Hehe. Biar ada PRT, tapi kan karena perempuan badannya kecil-kecil. Kurang powerful.

Pk 10.00 Pak Agus master of Pompa datang ke rumah juga, service pompa yang kerendam air banjir. Tidak lupa Pak Agus minjam hair Dryer istri untuk dipakai mengeringkan sparepart pompa, hebat, 2 jam kemudian, pompa sudah bisa dipakai, setelah ada komponen model packing seal yang diganti.

Pk 12.30 Mekanik datang service mobil, kebetulan tadi pagi mobil yang saya pakai, kalau di rem, gak stabil, seperti ada yang nyangkut, hiii... ada beberapa cacing sepanjang 20 cm, di ban mobil. Ada yang masih hidup, ada juga yang sudah nyampe umurnya. Pk 17.00 Pak Rahmat sang mekanik bersama asistennya selesai membereskan masalah-2 pada mobil saya, wah, "One Day Many Happen"....

Pk 17.30 begitu terlihat mobil sudah siap tempur, saya buru-2 lari ke tukang tambal ban, isi angin, ya ampun, ban kanan belakang bahkan menyusut sampai pada tekanan 14 !! Depan sih 25. Saya kembali ke posisi asal 30-34 (30 depan 34 belakang).

Pk 17.45 saya sudah sampai Superindo lagi, dan berbelanja di sana (makanan dll), Tidak lupa saya mampir ke Hoka-2 Bento membeli kan anak saya makan malam. Supaya mereka senang aja, setelah 1 minggu terkungkung dalam rumah, saya sendiri hanya beli Jelly Konyaku dan minum 1 gelas berdua istri, karena saya gak kuat minum manis banyak-2.

Pk 19.30 setelah kecapaian begini begitu, saya pun tertidur sampai pk 21.00 baru bersama istri saya yang setia menunggui saya bangun makan malam bersama.

Thursday, February 8, 2007

Liputan Foto

Sore ini terlihat banya sekali mobil yang di gerek, baik dengan mobil derek, maupun dengan trailer khusus pengangkut mobil, mungkin mobil-2 ini terendam sangat parah, kalau yg punya asuransi sih, boleh tenang deh.

Liputan Foto

Berikut gambar ember penampungan air hujan saya, Nah, mungkin airnya terlihat tidak begitu bersih, tapi lumayan lah, yang penting tidak dipakai buat mandi. Mmm.. banyak yaa...

Air Naik Lagi

Buset...., Pk 03.00 tiba-2 hujan besar, besar sekali, padahal depan rumah saya sudah surut-rut-rut, sebeeelll, deh. Hujan rasanya berhenti pk 06.30, hujan lagi pk 09.00 sampai pk 13.00 ini masih belum selesai, konyol, depan rumah banjir lagi, masih belum bisa keluar, kecuali kalau naik sepeda (kalau tidak hujan). Stupid banget. Kalau yang sudah ga sabar udah pada nerjang banjir, tapi sya ga mau ah, mobil nya ntar kotor, sayang.

Masih beli air 10 galon sehari, tadi bagian bawah pintu gerbang saya dicopot, sebab memang udah otel. Daripada ntar copot sendiri lalu mengambang, mending copot sendiri dan disimpan dalam rumah.

Hari ini saya lebih banyak berkutat pada urusan toko. Karena karyawan sudah buka di toko, tapi memang saya belum bisa kesana, sebab memang tidak memungkinkan, lagipula, keluarga masih membutuhkan saya.

Tapi karena mau irit bensin generator, maka saya tidak sering menyalakan generator, karena hari ini hujan terus sampai pk 14.30 saya menyalakan lilin untuk baca buku, dan kembali nonton film serial Water Margin melalui iPAQ 3715 saya.

Karena kebetulan saya sembahyang tiap hari menggunakan lilin di rumah, tentunya, saya banyak stok lilin-2 yang sudah mau habis, saya dekatkan kembali dengan api, supaya mencair, sesudah itu, saya cor kembali ke lilin yang sudah bolong tengah nya dan tancap sumbu baru, beres deh, jadi 1 lilin seperti baru lagi.

Wednesday, February 7, 2007

Liputan Foto

Seorang Bapak, tampak sedang membawa jaring untuk mencari ikan, setelah banjir mulai surut pemandangan ini biasa terlihat di depan rumah, Saya foto dari jendela teras, sebab sudah gak kuat keluar karena bau nya sudah sangat menyengat, ketika pada suatu kesempatan saya keluar, saya sempat menanyakan dapat ikan gak, ternyata si bapak dapat 1 ikan, lumayan besar.

Titik Cerah

Bangun tidur Pk 08.30, terlihat air sudah keluar dari garasi. Taman juga tinggal setengah, wah ini benar-2 progress yang mengejutkan. Harapan mudah-2an sore hari nanti. keadaan sudah semakin membaik. Saya pun berencana untuk keluar naik sepeda, mungkin nanti selepas makan siang, istri mau ikut.

Kendala pertama mulai nongol. Hawa bau bangkai mulai menyengat. Kalau kita keluar ke teras aja, langsung terasa seperti bau terasi, ikan asin, campur bangkai, campur aduk. Maka saya langsung mengeluarkan titah untuk segenap penghuni rumah menggunakan penutup hidung dan mulut, yah kain dililit ke muka gitu aja, karena stok masker saya ternyata sudah dibawa ke rumah lama.

Yang menggembirakan adalah air bak sudah tidak kerendam, sehingga bisa dikuran mungkin sore nanti, saya menyarankan agar para PRT makan siang dahulu sebelum "menguras tenaga", ah gak gitu sih, saya kan ada pompa celup.

Sore ini untuk merayakan turunnya air saya bermain games FIFA 2007 2 jam-an, habisnya sudah jenuh ngadapin banjir, diikuti dengan nonton Serial Silat Mandarin Water Margin, maklum, masak sudah 2 minggu baru sampai seri 11. Serial yang berasal dari Roman Klasik ini lumayan bagus, sebab menceritakan perjuangan 108 Pendekar dari gunung Liang Shan Po. Menurut paman saya ada 4 Roman Klasik yang dianggap paling populer jaman dahulu kala, yaitu Romance Of Three Kingdom atau yang biasa kita dengar Sam Kok, Water Margin (Sui Hu Cuan), The Dream Of Red Chamber (Hung Lo Mung) dan Journey To The West (Sun Go Kong - See Yu Ji). yang semua nya saya sudah baca bukunya, Tapi yang ke empat rasanya gak gitu suka, entah kenapa, mungkin keliwat fiktif. Tapi untuk jaman dahulu kalau, mungkin cerita model gini very cool.

Pk 21.00 saya mengecek ke depan dan ternyata depan rumah airnya paling tinggal beberapa cm saja, wah, hal ini sangat menggembirakan, sayang gara-2 pembuatan trotoar yang aneh, tetangga pas depan saya masih kebanjiran sampai sekarang.

Tuesday, February 6, 2007

Hari-hari Menanti Surut

Pk 02.30 tiba-tiba hujan lebat. Saya yg sudah tertidur tidak mengetahui nya dan baru Pk 03.30 terbangun karena bunyi geledek yang seperti bom meledak, saya pikir rumah tetangga ada yg roboh. Begitu saya lihat ke depan wah hujan bukan main deras nya, gak heran pagi hari nya air kembali naik, yang sudah keluar dari garasi, sekarang masuk kembali ke garasi sekitar 10 cm, padahal rencana nya hari ini saya akan mengurusi mobil yg kerendam kemarin (coba 40 cm an sih).

Pk 09.00 saya bangun karena ibu menelpon. Tapi yang menjawabi istri saya, Pk 09.30 baru bener-2 terbangun, maklum, karena kebanjiran dan ga tau mau kerja apa, maka mendingan saya bangun siang sebab bangun pagi hanya membuat kurng tidur dan malam gak kuat jaga rumah lagi.

Pk 11.00 Pak Sigit datang kembali, saya menukar 10 galon air mineral isi ulang, di depan tampak, pintu saya bergeser kembali, dan untung ada Pka Sigit dan team nya yg membantu membetulkan kondisi pintu saya kembali ke rel nya.

Siang ini sebetul nya saya cukup menerima banyak telepon, tapi karena saya lagi banyak di lapangan, ga semua telepon saya bisa jawab. Terutama pk 14.30 saya lagi masukkan air ke bak penampungan, saya perhatikan ada tampungan air bekas air hujan di tutup bak, saya kumpulkan lumayan dapat 1 ember lebih untuk cuci baju.

Siang ini saya kebanyakan menemani anak main selagi istri saya sapu dan pel kamar, sudah 5 hari kamar gak di pel, wah lengket sekali lantai nya. Sementara ini kondisi air saya cukup lah, untuk pel 1 kamar, toh perlu 2 gayung doang.

Hari ini saya gak minat ambil foto, sebab selain yg saya lihat itu-itu lagi, saya juga sudah rada jenuh karena 5 hari gak keluar rumah, maunya sih keluarnaik sepeda, tapi airnya belum turun sayang sepeda nya. Tunggu sampai se lutut, baru saya mau keluar.

Air terus bertahan di garasi sampai malam hari, Di Radio terdengar di sana dan disni sudah surut, maka saya pun berpendapat tidak lama lagi kemungkinan air di daerah saya juga surut.

Liputan Foto

Rakit made in sendiri ..?? Lumayan, sambil duduk dengan kursi plastik, dan dibelakangnya ada tong untuk taruh anak dan belanjaan.

Liputan Foto

Perahu balon anak-anak ini memang salah satu sarana efektif untuk banjir, kelihatannya lebih keren deh kalau pakai dayung, masak ditarik, lagian cetek lagi, cuma sebetis, tapi ini di trotoar lho....

Liputan Foto

Di Kala banjir masih sempat-sempat nya jualan roti dan donat, sebuah Rp 2.000 lumayan untuk ngisi hari yang nganggur nontonin banjir. Makanan jualan nya dilindungi oleh kantong plastik hitam.

Liputan Foto

Gerobak yang di modifikasi alias ditambah bangku agar para penumpang tidak kerendam air banjir, sangat laku digunakan masyarakat sekitar, karena kolongnya bisa dipakai untuk menaruh tempat belanjaan. Konon sekali jalan ke depan kena Rp 75.000. Tampak sang penumpang sedang memperhatikan truk yang sedang melewati banjir.

Monday, February 5, 2007

Day 3 - Hope of Deliverance

Pk 09.00 saya terbangun, karena terdengar suara istri saya di lantai bawah, sedang mengobrol dengan PRT, sejak 2 hari terakhir ini, kalau malam, rasanya panas dan lengket, heran kalau pagi itu dingin sekali, mungkin karena bawaan air banjir yang menyurut, waktu air sedang naik, wah itu hawa dingin bukan main, saya yang biasanya kuat hawa dingin aja, terpaksa pakai jaket.

Pk 09.30 saya makan pagi dengan istri, biasa... sayur kemarin plus nasi kemarin, hehe... yang penting sudah dihangatkan. hari ini saya membahas berapa galon air mineral yang akan di tukr dan pengalihan jerigen bensin.

Pk 10.00 saya kebawah, membantu PRT menyerok air pel-an yang tersisa. ada beberapa pintu yang sulit dibuka sejak kerendam air banjir, saya menyerah 1 pintu, karena kelihatannya kunci patah di dalam, nanti saya akan panggil 1 orang bangunan untuk membetulkn pintu tsb. Air turun dari garasi, tapi di taman masih menggenang, sampah mulai terlihat sana sini.

Pk 11.00 Bapak yang suka tukar galon datang, kumpul-2 saya dapat 10 galon kosong, lumayan, saya menitipkan uang Rp 200rb untuk tukar air galon dan beli bensin 1 jerigen.

Pk 12.00 Air Galon sudah datang, tapi bensin masih ngantri, sambil nunggu, saya baru sadar, si Bapak saya belum tanya-in namanya dari kemaren-kemaren. Namanya Pak Sigit, kerja di bengkel. Karena banjir bengkel nya tutup si Bapak ini nyambi. Wah, rajin yaa.., kalau orang-orang mungkin tidur-2an aja di rumahnya. Pak Sigit masih menawarkan bersih-2 rumah, sayasahut nanti pak, kalau air bener-2 sudah surut, trims ya paakkk... Setelah saya urus pembayarannya, saya kembali ke atas untuk makan siang.

Pk. 15.00 saya mengisi bak penampungan air dengan galon isi ulang. Wuiihh... 10 galon = 150 liter kali yah, yah lumayan lah, untuk masak, minum, mencuci dikit. Masak badan gak kunjung dicuci-cuci, main air banjiran ..?? Mmm.. saya sih kecil suka gitu, berkat dulu suka main air banjiran, saya dapat anugerah penyakit Eksim yang cukup lama, sembuhnya setelah bertahun-tahun kemudian, denger-2 ada yang bisa kena sipilis tanpa perlu "nakal" sebab kontaminasi air banjir ini mengandung banyak kuman, virus, bakteri dsb. Enggak lah, ntar anak saya jadi banyak masalah.

Saat ini saya sudah ngantongin premium 40 lt, lumayan stok untuk 3 hari ke depan sudah ada. Trus dari mobil juga sudah bisa dikuras lagi. Karena garasi sudah nggak ada genangan. Nah masalah sekarang di air bersih saja.

Hari ini tadinya saya rencana bersepeda dengan teman keliling sekalian belanja apa ada nya. Tapi batal karena jalan keluar kabarnya masih sepinggang, Saya berpikir kalau besok mungkin sudah bisa keluar jalan kaki bawa ransel untuk belanja apa adanya, misalnya tambah stok telor, supermie, kecap, Setidak nya 3 jenis ini anak saya bisa makan. Saya jarang menggoreng, biasa telor saya rebus saja pakai kecap, dan makan pakai nasi, atau supermie plus telor rebus / kocok. Kalau sudah ukuran sepaha, oke lah, kaki mah kotor pulang tinggal sikat. Kalau atasan lagi susah bersihinnya, hehe..

Liputan Foto

Seseorang tampak sedang bersepeda di kala banjir, saya tak bisa membayangkan dengan roda semua masuk ke dalam air begitu apa tidak berat untuk mengayuhnya. Apalagi kalau sepeda kwalitas biasa-2 saja apakah tidak karatan (?). Kalau tidak ada masalah berarti masih lebih baik dari jalan kaki.

Sunday, February 4, 2007

Liputan Foto

Teras belakang yang sudah mulai menyusut air nya, bisa dibayangkan kotoran yang melekat sisa dari banjiran, gimana nih bersihin nya ???

Liputan Foto

Kalau kemarin 1 truk, hari ini ditambah temannya mobil box. Mobil box ini coba menerobos banjir, didalamnya terdapat banyak orang di evakuasi, mungkin kesalahannya terletak, kayaknya selain orang, mobil box ini juga bawa barang, dan isi nya terlalu berat, jadi sang mobil ketinggiannya berkurang. Akhirnya orang turun dan barang mungkin ditinggal.

Liputan Foto

Beginilah situasi gerbang rumah saya setelah diperbaiki, gak jadi pakai rantai besi deh, tampak di sebelah kanan saya menyiapkan tangga 4m untuk naik turun bawa galon air mineral, galon bensin, dan tentunya manusia.

Liputan Foto

Kalau mau ke Superindo belanja PP, yah mesti gini deh naik rakit ke hulu, berenang ke tepi-an. Masih banyak moda kendaraan yang dipakai untuk pergi memperpanjang napas di kala banjir, nanti saya akan mencoba mengoleksi nya.

Liputan Foto

Sebuah Perahu Evakuasi tampak melintas mengevakuasi warga yang sudah sulit bertahan di perumahan, karena kabarnya blok belakang sudah seleher banjirnya. Tampak salah satu awak mengacungkan jempol pada waktu di foto, mungkin karena senang di foto atau karena saya memberikan penghargaan kepada tim SAR yang sudah berusaha keras mengevakuasi warga.

Banjir - Day 2 - All The Way

Hari ini lumayan banyak perkembangan, dimulai dari air yang menyurut 5 cm, lalu juga ada penambahan air yang berasal dari galon isi ulang untuk keperluan sehari-hari, dan pembantu saya bisa keluar ke superindo untuk belanja walaupun harus bayar ongkos pp Rp 100rb. Kami tetap bertahan, tapi memang rada miris mendengar bahwa hari ini banyak kiriman air dari Bogor, rencana penambahan debit air ini memang tidak berefek ke daerah saya, tapi akan berefek pada daerah jakarta pusat dan utara, sebab kalau sudah begini maka jalur perdagangan akan hancur, sehingga makin sulit untuk mendapatkan makanan.


Maka dengan semangat 45 seorang PRT saya maju jadi sukarelawan untuk pp rumah - Superindo - rumah untuk membeli bahan makanan, untuk belanja, saya menyelipkan Rp 400rb, menitip susu dan pampers utk anak (selama banjir saya gak pakai popok, ganti pampers, walau anak protes, karena gak biasa). Pk 14.45 pun ia berangkat dengan dikawal (didorong) 5 orang .


Pk 14.00 saya sempat dibuat repot dengan bergesernya gerbang pagar saya, maka pintu tidak bisa di kunci / digembok. Masih bisa di tutup asal dengan rantai besi, sempat kebingungan karena gak punya rantai besi, saya teringat dengan rantai sepeda yang biasa digunakan untuk mengunci sepeda saya kalau lagi parkiran di perumahan, wuuuiiihhh.... bener-2 mesti kreatif yah berpikirnya, kalau tidak istri saya sudah setengah kalap. Untung dengan ada nya tim pengantar ke Superindo (yg minta 100rb itu), mereka membantu menggotong kembali gerbang saya yang bergeser kembali ke rel nya. Wah, sudah deh, hati tenang lagi. Kalau nggak siapa sih yang tenang pintu gerbang terdepannya hanya ditahan dengan sebuah / 2 buah rantai sepeda !! Hehehe....
Pk 16.00 PRT pulang dengan backpack penuh plus 1 kantong lagi, tadi waktu pergi yg nganter becanda, "dipinjem dulu Embak nya ya paaakk..." Trus saya jawab "Ntar Pulangin yaaa....". Ketika pulang mereka nyahut lagi "Pak Embak nya udah dipulangin nih".
Yah lumayan deh, bisa perpanjang napas, beli susu untuk anak, walau cuma dapat Dancow tapi lumayan banget, Trus Pampers, kalengan sarden, dan barang keperluan lainnya.
Tanpa disadari air menyurut sejak 15.30, tapi sangaaaattt... perlahan sekali, sebab untuk turun 5 cm saja mungkin membutuhkan waktu 2-3 jam. Baru Pk 20.40 an air benar-2 keluar dari rumah, tapi masih menggenangi kebun dan garasi. Untunglah rentang pk 18.00 - 20.30 para PRT sudah beristirahat, bahkan saya sudah atur mereka makan dan mandi dahulu. Masuk pk 21.00 mulai lah kami menyerok air dan kotoran banjir yang tersisa di lantai rumah, setelah "puas" menyerok, lalu mengumpulkan air (tadahan air hujan dan air galon isi ulang), di campur karbol, dan disiramkan ke lantai yang terkena banjir, tujuannya untuk menghilangkan bau dan mengusir kuman. setelah itu baru di pel dengan air biasa sisa nya. Pk 10.30 pekerjaan kilat pun sudah selesai, dan para PRT tidur karena kecapekan. Saya pun menyiapkan rencana untuk esok hari menyambut harapan, baru, bahwa banjir telah surut di daerah saya. Tapi Pk 12.00 anak laki saya yg berumur 1,5 tahun terbangun, jadi saya kebagian jaga dan ajak main ia, genset saya terus nyalakan samapai jam 3 pagi, setelah itu saya matikan. Makin gelap bukan makin tidur, malah dia makin berlari kesana kesini karena senag dengan senter yang melekat di kepala saya, kalau saya jalan senter itu ikut berindah sinarnya, sang anak mengejarnya. pk 04.15 baru anak tertidur setelah saya kipasi dengan kipas tangan, dan pk 04.25 terdengar suara masjid, saya pun tertidur, oooh What a Day....

Saturday, February 3, 2007

Hari-Hari Penuh Ketegangan (Karena Banjir) - Day 1 - Days of Survival


Banjir kali ini betul-2 luar biasa di rumah saya. Masuk jam 1 pagi tiba-2 hujan deras. Otak saya waktu itu hanya memikirkan 1 hal, yaitu mengumpulkan ember sebanyak-2 nya untuk menampung air hujan, lumayan bisa pakai untuk cuci baju, piring, dan siram WC, kalau pakai air bersih kan sayang, air bersih bisa kita gunakan untuk masak, makan, minum, mandi anak-2 dsb. Lumayan setelah 2 jam berjuang menadah air cucuran hujan dari genteng, saya dapat 6 ember. investasi yang lumayan menurut saya.
Pagi hari, air sudah masuk ke dalam rumah setinggi 25 cm, kalau garasi sudah 1 ban mobil, untung saya sudah mendongkrak mobil saya supaya knalpotnya tidak masuk air, entah, gimana keadaannya sekarang. Cuma saya lupa untuk mengambil barang-2 dalam mobil seperti jaket, karcis tol dsb, untunglah, siang hari PRT berhasil masuk dan menguras isi mobil sedemikian rupa sehingga semua barang selamat.

Pk 10.00 Kakak Ipar menelepon saya dan menanyakan apakah saya sekeluarga ingin ngungsi ke Hotel Mega Anggrek karena masih ada 1 kamar sisa, dan mereka akan mendaftarkannya atas nama saya.

Jam 10.15 saya mulai berembuk dengan istri apa perlu untuk melakukan evakuasi. akhirnya keluar keputusan bahwa evakuasi akan dilakukan justru setelah air turun, karena sebetulnya penyakit bermunculan justru setelah banjir menyurut, bukan pada waktu banjir. Pada waktu banjir surut, kotoran dan debu yang tersisa akan terbang kesana kesini tertiup angin. Pergi ke Hotel sebetulnya baik saja bagi yang sudah dewasa tetapi akan menambah masalah bagi si kecil, masalahnya di rumah saya masih bisa masak dan bikin makanan / susu untuk anak saya yg berumur 1,5 tahun, hal yg saya tidak bisa lakukan di Hotel. Bagi saya saat ini kesolid-an keluarga lebih dibutuhkan dari pada evakuasi. Di rumah saya selama ada PRT, saya masih bisa berpikir dan membuat keputusan untuk melakukan ini dan itu, di Hotel saya tidak bisa berbuat apa-2 selain tidur-2an saja, dan saya malah seperti nya menyerahkan keadaan rumah begitu saja kepada nasib. Walau bagaimana pun ini adalah rumah orang tua saya yang mesti saya penuhi tanggung jawab nya selain tanggung jawab saya terhadap keluarga.

Siang hari sambil membaca majalah CHIP 01/2006 saya tertidur, jam 1 siang saya dibangunkan istri untuk makan siang. Jam 13.30 siang teman-teman menelpon saya, Aji sudah mengungsi di Hotel Red Top, Axel menelpon walaupun rumahnya tidak kebanjiran tapi cukup kebingungan karena tidak ada akomodasi dalam rumah dan dalam keadaan terjebak banjir, Welly menelpon, menanyakan keadaan saya, dan kelihatannya cukup terperanjat, air sudah masuk ke dalam rumah. Tetangga seberang saya juga sudah pindah ke Hotel Peninsula Jam 4 pagi. Di sela-sela telepon akhir nya pk 14.00 saya menjumpai 2 orang yang baik hati yang bersedia membelikan saya galon air mineral dan bensin Premium, segera saya menyiapkan tangga 4m saya untuk meminta PRT turun dan memroses pertukaran galon air mineral tsb, dan menitipkan Galon isi bensin premium, saya juga tidak lupa menitipkan uang Rp 150rb, sambil berterima kasih dan mengingatkan nanti ongkos jasanya saya bayar kemudian setelah orang itu kembali membawa galon air mineral isi baru dan bensin Premium.

Pk 15.15 orang tsb datang dengan barang pesanan saya, wah girang lah hati saya, setidak-tidaknya saya masih bisa memperpanjang survive di tempat ini. Kalau tidak persediaan Premium saya untuk Genset 2200w tinggal 1 hari ke depan. Air Mineral 3 hari ke depan, setidaknya diperpanjang 2 hari lagi. Terima Kasih kepada Tuhan dan semua yg pihak yang ingin membantu.

Pk 16.30 hari mulai gelap, sepertinya mendung lagi, sehingga saya kembali mengkoordinir agar menyiapkan ember untuk ditampung di waktu hujan. Saya juga bersiap untuk “Mandi 2 Gayung”. Ide dari film serial Korea, maka saya instruksi kan anak istri dan PRT untuk pipis di ember kecil yg kosong dan langsung dibuang aja di kolam banjir, percuma pakai jamban segala, perlu buang air untuk siram nya, hehehe... Kejam neh..??? This is Emergency. Saya sendiri sudah ada pispot koq, hehehe...
Maka saat itu juga saya mulai menggerakkan Generator, mumpung sudah ada tambahan bensin, bisa leha-2 untuk 3 hari ke depan, maka segera diatur makan malam, dan setelah itu saya masih menunggu kabar kiriman air yang katanya akan datang lewat jam 6 sore.
Sampai Pk 21.00 terdengar kabar bahwa air kiriman sudah sampai di Rawajati Jakarta Selatan, setahu saya kalau rumah saya berhubungan dengan Sungai Cisadane, bukan Sungai Ciliwung, Ciliwung biasa interkoneksi nya Jak-Sel, Jak-Pus, lalu ke Jak-Ut, daerah mangga dua pademangan. Hampir dipastikan rumah lama saya di Gunung Sahari bakalan berjumpa dengan air lagi setelah banjir terakhir Tahun 2002.

Friday, February 2, 2007

Akhirnya .... Air Masuk Rumah

Akhirnya, air masuk rumah sedikit demi sedikit, mulai pk 20.30. Bersama para PRT, saya menyelamatkan beberapa barang Rumah Tangga supaya tidak perlu service kalau kerendam air, misalnya Lemari Es, yang saya naikkan ke atas 4 kursi makan sekaligus (untung kursi makan saya dari jati. Lalu giliran mesin cuci, wah dibawa ke lantai dua. Microwave, lalu barang-2 RT lainnya, hanya sofa besar dan pompa air yang kelihatannya harus saya relakan, diservis nanti setelah air surut. Ini memang konyol, sampai saat ini air sudah masuk kira-2 3-4 cm dari lantai rumah, semoga tidak makin meninggi dan surut tak lama lagi.

Laporan Banjir Depan Rumah (Malam)

Saat, ini banjir sudah hampir masuk ke dalam rumah, berarti ketinggian air di luar rumah sekitar 1 meter. Saat ini air naik sedikit demi sedikit terasa mulai sekitar pk 15.00. Semoga banjir tidak masuk rumah, sebab kasihan istri dan anak-anak. Saat ini saya cuma bisa berdoa semoga kami sekeluarga tidak terkena penyakit dan sehat-sehat saja selama dikepung banjir ini, dan segala kebutuhan air dan listrik serta makanan bisa terpenuhi dengan baik.

(Lagi-lagi) Banjir

Ngga tau deh mau komentar apa lagi. Hari ini adalah banjir yang terparah untuk 1 tahun terakhir. Rumah tetangga tergenang, sudah sulit untuk terbayangkan, jalanan sudah menjadi "kolam renang" warga. Wah, ini benar-benar payah. Mungkin bener aja sih salah satu pemirsa MetroTV kemarin sebut-sebut bahwa negara ini sudah menjadi republik terkutuk, hehehe... Hari ini untuk kesekian kalinya bak penampungan air PAM saya banjir, jam 09.30 pagi mati lampu, untung saya punya pompa celup dan generator walau cuma bisa keluar listrik 2200 watt, lumayan lah untuk bisa "hidup" dalam rumah plus nge-post ini blogger via notebook. Bersama pasukan pembantu saya mengkoordinasi menguras bak dan menampung air PAM kembali manual pakai ember...., yah kembali ke jaman dahulu kala ketika saya menimba air di sumur, hehe. Foto ini diambil pk 09.30 pagi, dan pk 11.00 sekarang ketinggian air sedikit meningkat dan ada gerimis. Kemungkinan sore ini ketinggian air bertambah, mengingat hari ini ada laut pasang dan bulan purnama. Yang paling saya takutkan yah ini gak ada sambungan PLN.

Thursday, February 1, 2007

Banjir (lagi)


Gilee..... Hujan lagi, banjir lagi, berikut saya tampilkan foto genangan air yang nyampe selutut, boleh dapat dari TV swasta, heee... Tadinya pikiran gak ada gambar deh yg diliput, mau apa lagi.

Hujan mulai pukul 9 malam - 11 malam kemarin, tapi jam 2 pagi hujan terus-terusan lagi, walau banjirnya gak sampai separah minggu lalu tapi tetap saja terjebak di banjir nya. Sampai berita ini ditulis hujan masih belum berhenti, sebentar kecil, sebentar besar, sebentar gelap, sebentar terang, sampai jam 2 siang-an hujan baru berhenti, tapi nanti dulu, banjir belum surut. sampai sore air masih mengambang di

jalanan depan rumah. Hari ini mau ke luar gak bisa. Di Tanjung Duren sudah dihadang banjir, sebenernya nerjang banjir sih gak begitu takut, yang nakutin itu dia yg main-main air di banjir, kalau kita terjang terus tuh orang kesenggol, wah bisa berabe deh.