Jadi lah saya hari Jum’at kemaren tgl 27 Februari 2009 nonton pameran Komputer Mega Bazaar dan FOCUS di JHCC Senayan. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk nonton pameran sendirian, tidak dengan kawan-kawan atau famili. Biasanya setiap orang ke pameran tujuannya beda-beda. Ada yang mau belanja, ada yang mau lihat-2 SPG nya dan kalau bisa kenalan dan tukeran nomor HP. Kalau saya sendiri hanya mau lihat2 perkembangan yang ada sekaligus melihat tata letak / interior pameran mereka yang kadang unik dan menarik. Siapa tau saya juga bisa dapat kolega baru yang menjanjikan. Oh ya, biasa saya juga gak lupa mampir makan di resto Nasi Goreng / Nasi Rames dalam gedung JHCC. Cukup mahal memang tapi gak tiap hari tidak mengapa.
Untuk ke JHCC Senayan saya sudah membiasakan diri tidak datang dengan mobil pribadi, maklum, kadang pergi nya gampang (karena pagi) tapi pulang nya macet. Maka saya biasa naik kendaraan umum terutama taxi yang saya call dari rumah. Tapi karena belakangan tarif taxi yang melambung, saya mulai mengurangi pemakaian taxi dan mengalihkan anggaran nya ke pos lain.
Jalur Transjakarta dekat rumah saya sudah dibuka minggu lalu. Kemacetan terjadi di mana-mana di jalanan yang di lintasi jalur Transjakarta. Saya yang sering liwat sana hanya berusaha menahan kesabaran yang terjadi di jalanan, bagi saya yang penting selamat sampai tujuan. Nah, pada kesempatan ini saya ingin juga menyicipi jalur transjakarta dengan maksud mengirit ongkos ke JHCC. Bagaimana caranya ?
Start dari rumah naik ojek langganan, saya minta diantar ke Halte Busway terdekat di rumah. Sudah lama saya gak naik ojek langganan saya ini padahal tiap hari dia setia berjaga di depan rumah saya. Maklum musim hujan, tentu saja saya juga gak mau sudah bayar kehujanan, pilihan konyol.
Sampai di halte Busway saya segera berjalan melaju ke dalam halte tersebut. Berbeda dengan halte di daerah Sudirman yang ber AC, halte Busway baru di tempat saya cukup dipersenjatai dengan kipas angin yang di gantung tinggi di pinggiran atas tembok, mungkin supaya terhindar dari pencurian. Ada satu hal lain juga yang terasa kurang, yaitu tidak ada nya alat pemadam kebakaran yang biasa tergantung di setiap halte busway. Hmm.. mungkin pada masa prihatin ini setiap penumpang diharap membawa alat pemadam masing-masing. Lama2 bawaan saya semakin banyak karena setiap masyarakat di Indonesia di harus kan swadaya dalam hidup nya.
Saya tadi nya lemes juga melihat sebuah busway baru saja melaju dari halte saya pas saya datang naik ojek. “Gila, gue mesti nunggu berapa lama lagi nih… L” , pikir saya. Ternyata gak terlalu lama sekitar 10 menit, bus Transjakarta berikut datang untuk menyambut saya. Wah, untunglah pikir saya. Di halte saya hanya sendirian, baru belakangan 3 menit terakhir ada seorang bapak-2 ikutan nimbrung dengan saya menunggu bus. Penjaga karcisnya pun terlihat putus asa melihat sepinya halte. Bisa dilihat dari gerakan bahasa tubuhnya yang terkesan sedikit depresi…, kadang nunggu sobek karcis sambil jongkok dan menunduk-nunduk….. saya pikir hanya di Jakarta saya bisa melihat petugas masuarakat bergaya begini, hah hah hah…. Maka saya ambil foto nya dari bangku tempat saya duduk di dalem halte busway (yang hanya tersedia untuk 4 pantat).
Begitu busway datang, pintu pun terbuka, lumayan, masih otomatis, yang jurusan ancol, sudah harus manual, bahkan saya pernah lihat ada yang pintu nya tidak bisa tertutup sama sekali. Maklum yang ini masih baru, coba nanti saya tinjau 3 bulan lagi, hhh…. Di dalam sudah cukup penuh, tapi yang berdiri masih sedikit. Maka sesuai peraturan tidak resmi, masuk bus / tempat umum, pakai ransel di balik ke depan. Maka saya pun memasang ransel saya di depan, seperti orang hamil. Tampak beberapa ibu-2 tersenyum lihat gaya saya (atau lihat saya yaa… mmmm…). Jadi saya berdiri saya di tempat favourite yaitu sebelah tiang Busway sambil berdiri, maklum, gengsi dong lelaki masih muda koq masak cari kursi, kalau ada yang kosong banyak sih boleh, Cuma mengikuti peraturan standar, dahulukan orang tua, wanita, dan anak-anak.
Busway melaju selama 20 menit ke ITC Permata Hijau, lumayan, kalau saya naik taxi Bluebird ke ITC Permata Hijau saya bisa kena 30 ribuan, dan sekarang saya tempuh hanya dengan rp 3.500 an. Turun di Permata Hijau, saya meneruskan ke JHCC dengan Taxi Jakarta Metro (yang memang taksi resmi ITC Permata Hijau) yang mash mengenakan tarif bawah. Sampai di JHCC rp 12.400, hhh…. Kalau saya naik taxi BB call dari rumah ke JHCC, saya bisa habis rp 55.000. Penghematan yang lumayan, cuma jadi rada menguras tenaga dan keringat. Biarlah, siapa tahu bisa jadi makin sehat, heh heh….
Masuk Mega Bazaar seperti biasa kita harus membayar HTM rp 5.000 / orang. Karena saya datang Hari Jum’at jam 11-an. Tentu saja keadaan pameran masih sangat sepi. Saking sepinya saya perhatikan para SPG sampai lupa untuk memberikan brosur ke saya, mungkin mereka pikir saya salah satu peserta pameran juga, mengingat saya datang dengan jaket hitam (jaket hujan) dan ransel besar (untuk di kantor). Walaupun kumis sudah tercukur rapih, tetap saja potongan saya mirip kurir Pizza Hut. Yah jelas bukan target SPG kali hhh….
Belanjaan pertama saya justru di konter XL. Ternyata sekarang XL sudah menyediakan XL Prabayar dengan Internet Unlimited. Masalahnya fasilitas ini harus membeli nomor baru dan tidak bisa di bebankan ke nomor lama. Hmm.. Jadi terpaksa saya membeli nomor baru lagi dan akan mengorbankan nomor telkomsel saya, untuk dipasang di Smartphone saya. Harga nomor baru tersebut adalah rp 100.000 sudah termasuk pulsa. Jadi begitu mengaktifkan otomatis, sudah ada pulsa internet sepuas nya untuk 1 bulan dan rp 1000 pulsa bicara / sms. Uniknya nomor yang dijual ada lah nomor 10 digit. Tentu saja bikin beberapa HP lovers tertarik untuk mengkoleksi nya.
Belanjaan kedua saya adalah counter majalah HWM (HardWare Magazine). Majalah bulanan kelas Rp 34.500 an ini. Membandrol edisi-edisi lalu senilai rp 10.000 / edisi. Yah tentu saja saya mau, lumayan untuk baca2 di kantor dan mengikuti perkembangan tehnologi, saya beli edisi 2-3 bulan yang lalu toh, barangnya juga belum beredar di pasaran Indonesia. Jadi masih belum merasa ketinggalan dan mendapat harga murah adalah idaman setiap pencinta buku.
Setelah keliling ke berbagai tempat yang biasa saya kelilingi, saya pun akhirnya membelikan titipan seorang kawan yang menitip USB Flash 4 GB di sebuah Counter Kingston. Sudah selayaknya nanti Kingston memperoleh julukan raja memory, sebab dia selalu berani untuk menjadi pioneer bagi perkembangan memory. Bayangkan saya USB Flash memory 32 GB sudah muncul. Saya ingat jaman dahulu Hard Disk Computer pertama saya yang 5,25” sangat berat dan hanya berisi 30 Megabyte !!!, dan saya harus menabung gila-gilaan untuk memperoleh nya dengan harga Rp 500ribu .
Nah, selesai pameran, saat nya saya segera ke kantor untuk melaksanakan beberapa tugas saya diantaranya menggaji para pegawai saya yang selama ini saya anggap bekerja dengan baik.
Akhir kata, selamat menikmati pengalaman saya ini apa ada, semoga anda ter inspirasi sesuatu dan sudah ada jawaban apabila ditanya anak anda apa yang anda lakukan di waktu senggang….














.jpg)

