Benar-benar mengherankan. Jakarta banjir lagi, rumah saya kebanjiran lagi, tepat satu tahun sesudah banjir besar tahun 2007. Kalau kita ingat-2 banjir besar tahun lalu juga dimulai pada tanggal 01 Februari 2007. Entah banjir kali ini masuk rumah atau tidak. Saya hanya bisa berharap mudah2an saja tidak.
Jam 7 pagi saya bangun, bermaksud memproses tagihan-2 bulan Januari 2008, ketika itu mulai turun hujan. Tapi saya anggap biasa saja sebab kemarin-2 juga hujan dan ok ok saja. Jam 8 saya antar anak saya pergi sekolah dalam keadaan hujan lebat. Tapi saya belum melihat indikasi akan adanya banjir. Saya sempat melongok parit dan hasil nya parit saya masih rendah air nya.
Sampai dirumah, barulah 30 menit kemudian terasa air mulai meninggi di jalanan. dan prosesnya sangat cepat sekali. Sayang disayang kali ini saya kelepasan momen untuk menambah debit air PAM saya di rumah, karena air banjir sudah keburu masuk ke dalam bak penampungan. Kali ini saya betul-2 kecolongan sebab proses naik nya air cepat sekali, sampai akhirnya pk 1130 saya memutuskan untuk menjemput anak saya tapi tidak dengan mobil, tapi berjalan kaki. karena banjir di depan rumah saya sudah parah dan banyak orang-2 terutama anak-2 kecil bermain-main di air banjir. Keputusan nyeleneh ini terpaksa saya ambil dalam keadaan hujan masih sangat lebat.
Dengan perlengkapan yang cukup, mantel hujan, payung besar dan kecil, dan jaket hujan anak saya, saya pun nekad berjalan di air banjir yang tinggi nya sudah sepaha. Ya Ampun.... air nya dingin sekali. Saya punye pengalaman nyemplung banjir, tapi paling sedengkul, kali ini sepaha dan kadang sepinggul. Ini gila, pikir saya, bangaimana dengan anak saya nanti ?? Tapi saya tetap berjalan. Saya pikir kalau anak saya takut paling tidak saya sudah datang menenangkan dan kita bisa menunggu hujan reda. Cuma saya punya feeling banjir akan makin parah dan hujan belum akan berhenti.
Sesampai di sekolah saya langsung masuk ke kelas anak saya. Ternyata kelas sudah bubaran. Saya segera bertemu dengan ibu guru nya dan meminta ijin untuk jalan pulang. Ibu Guru tampaknya juga sudah mulai pusing, tapi saya berpikir, pulang dalam keadaan begini bawa tas anak saya yang cukup besar, akan menjadi beban baru dan perhatian terpencar. Jadi saya mengusulkan kepada ibu guru supaya tas dititipkan tapi buku-2 nya saya bawa pulang karena ada PR. Saya memasukkan buku ke kantong plastik, demikian tidak akan kemasukan air. Sebelumnya saya bertanya kepada anak saya. “Kamu mau pulang sekarang dengan berjalan kaki, atau pulang nanti tunggu hujan berhenti dengan harapan banjir surut ?” Anak saya langsung bilang “berjalan kaki”. Nah, jadi saya langsung menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk ia pulang berjalan kaki dalam keadaan banjir.
Perjalanan pun di mulai. Payung yang saya siapkan untuk anak saya tidak saya suruh pakai, melainkan di pakai untuk menjadi tongkat dalam perjalanan. Sebagaimana kita ketahui, tongkat itu praktis menjadi kaki ke tiga, dimana dapat dipakai sebagai pendeteksi jalanan sebelum kita melangkah, jadi kalau di depan ada lubang, walau tidak terlihat karena tertutup banjir, tapi kita sudah bisa merasakan lewat tongkat itu.
Saya juga baru bisa merasakan pentingnya trotoar di cat belang-belang. Pada keadaan banjir begini saya lebih memilih berjalan di trotoar tengah kebanding di depan rumah orang lain, sebab kalau rumah orang lain ketinggiannya berbeda-beda, sehingga saya akan mengalami kesulitan jika berjalan di tengah genangan air yang tidak kelihatan dasarnya. Sedangkan kalau di trotar tengah maka tingginya pasti merata dan bisa diduga. Nah cat belang-belang (zebra – hitam berselingan dengan putih) ini berguna untuk mendeteksi dan mengira-ngira mana jalanan untuk pejalan kaki dan mana jalanan untuk kendaraan. Untuk diketahui trotoar jalanan pun sudah terendam dengan air.
Untung anak saya memiliki sifat yang tahu kapan waktu bermain-main dan kapan waktu untuk serius. Dia selalu mengikuti instruksi saya pada keadaan genting seperti ini, misalnya jalan berpegangan tangan, jalan di depan lebih dahulu dan melangkah di tempat yang saya tunjuk. Perjalanan pulang malah lebih cepat dibanding dengan perjalanan pergi mengingat saya sudah mengenal medan yang saya lalui. Saya berani ambil langkah demikian sebab Desember lalu kami berdua baru saja berwisata ke Singapura dan sudah ada pengalaman berjalan kaki berdua dalam keadaan hujan, seperti misalnya saya tahu sebaiknya anak saya tidak membuka payungnya sebab kalau ia membuka payungnya sama saja menyusahkan saya untuk memegangi dia karena terhalang oleh payungnya itu.
Halangan terbesar menuju rumah justru berada di depan rumah, yang kedalaman banjirnya sudah mencapai sepaha orang dewasa, sama saja dengan sedada anak saya. Dengan keadaan air yang dingin dan kotor (untung tidak terlalu berbau) maka kami melakukan perjalanan terakhir, menyeberang dari trotoar utama ke depan gerbang rumah. untunglah pembantu sudah menunggu di depan pintu pagar, jadi kami bisa menunggu sampai pintu benar2 terbuka untuk bisa langsung dimasuki. Setelah berhasil masuk rumah kembali maka saya langsung masuk ke kamar mandi untuk membilas kaki saya dengan air bersih. Tidak lupa saya menyikat kaki saya dan anak dengan sabun dan antiseptik. Agar kembali bersih dan tidak gatal-2.
Sebuah pengalaman yang menarik bagi anak saya, dan bukan yang enak untuk saya. Tapi begitulah hidup, harus belajar dari pengalaman, dan pengalaman itu didapat dari keadaan.
Seusai pulang dari menjemput anak maka saya mengambil sesi makan siang, setelah itu pekerjaan ke dua adalah menguras bensin mobil untuk dipakai generator listrik saya kalau-kalau nanti malam listrik padam. Untuk tahap pertama saya menguras 1 jerigen 15 liter. Saya pikir sisanya bisa besok apabila banjir menyurut.
Berikutnya adalah mencopot accu mobil bagian minus nya saja dan membungkus knalpot dengan plastik agar air tidak masuk ke mesin melalui knalpot mobil. Kali ini saya malah tidak mendongkrak mobil seperti tahun lalu, sebab saya pikir hal itu hanya akan membuat mobil menjadi miring dan malah membuat gaya turun air menekan kuat dari lubang knalpot.
Selesai itu semua maka saya ambil sesi istirahat sejenak dengan tidur selama 1 jam, karena saya harus segera memulihkan diri kalau-kalau air semakin meninggi dan masuk ke rumah seperti tahun yang sudah. Berjalan ke sekolah itu tidak terlalu capai. Yang membuat capai adalah jalan sambil mengarungi air banjir. Berjalan di dalam air membuat kita harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengangkat kaki, gaya air yang berat ditambah sepatu yang terendam air. Saya memilih tidak memakai sepatu boot saya, karena air sudah terlalu dalam, sehingga sudah tidak ada faedahnya, malah apabila air masuk ke dalam sepatu boot maka sepatu akan menjadi lebih berat. Pada situasi begini sebetulnya menggunakan sandal lebih enak, tapi memakai sepatu olah raga membuat kaki lebih lincah dan tidak seberat memakai yg lainnya.
Bangun tidur istirahat. Saya pun segera bersiap-siap lagi untuk membersihkan ruang bawah agar apabila banjir masuk ke rumah, saya setidak nya sudah sedikit2 mengangkat barang keatas. Heran sesudah itu saya merasa mengantuk lagi. Saya telepon kantor dahulu mendengar laporan karyawan. Setelah itu saya istirahat tidur lagi sebelumnya saya chat dengan beberapa teman yang mau tahu keadaan dan bisa memberi info keadaan. Tak lupa Pk 1700 saya membuka Televisi untuk menonton berita banjir.Pk 1900 saya terbangun. datang laporan bahwa air makin meninggi, 2 jengkal lagi masuk garasi, artinya ketinggian air tinggal 5-8 cm lagi (dua jengkal disini dalam keadaan miring landai).
Maka saya ambil sesi makan malam dulu setelah itu kembali mengatur agar barang-2 yang kira2 bisa terendam air dinaikkan ke atas. Pk 2000 akhirnya listrik padam, prediksi terjadi. Untunglah saya sudah siap dengan bensin saya dan generator yang sudah gampang di start karena sudah saya biasakan seminggu sekali saya start bareng 30 menit untuk pemanasan. Enak nya anak saya masih bisa nonton film dengan notebook saya, saya masih bisa bekerja dan berinternet dengan umpc saya.
Pk 23.40 saya mematikan generator untuk menambah bensinnya agar tidak kehabisan sampai malam. Setelah generator menyala kembali, maka saya kembali menemani anak laki saya yang belum mau tidur karena sedang menonton Barney dan Baby Einstein dari notebook saya. Setelah anak saya tertidur maka saya akan mematikan generator dan juga akan tidur, sebelumnya pasti saya akan memeriksa apakah ketinggian air bertambah atau berkurang, untuk antisipasi.