Bulan November ini memang terasa sepi dunia usahanya. Maklum, mungkin terimbas krisis financial dan kenaikan rate US Dollar terhadap Rupiah yang cukup besar.
Seperti biasa kalau lagi sepi dan menjelang tutup kantor, saya mampir ke kios toko tas di Mangga Dua untuk mengobrol dengan teman-teman yang buka usaha di sana juga. Tujuannya kadang hanya sekadar silahturahmi, kadang cari informasi, kadang juga mendengar gosip di sekitar Mangga Dua.
Biasa kalau lagi ketemu jam yang tepat, maka kita orang ngumpul bisa sampai ber lima atau berenam, bahas dari yang paling serius sampai yang paling tidak serius, kadang-2 sih ditanya-tanya soal pribadi, saya jawab sekenanya saja sambil pelan-2 geser ke isyu yang lebih hot lagi, heh heh.
Di kelompok itu, tampaknya saya yang paling Junior. Yang paling tua adalah Oom Sukardi, umurnya 36 tahun lebih tua dari saya. Bayangin aja, si Oom ini sudah seumur saya sekarang waktu saya baru lahir, hahaha. Makanya saya panggil Azuk, dikit lagi dia seumur papa saya yang sudah 75 tahun tahun ini.
Dua lagi si Ko Wie Hok dan Cie Afen, suami istri pemilik toko tas. Potongannya umur 45 – 50an lah, anaknya sudah umur 20-an, Setau saya mereka alumni Anak Trisakti jaman baheula.
Satu lagi adalah Ci Afun, pemilik toko jam di depan. Umur sekitar 40-an lah, hahaha. Jadi paling mudah saya, dibawah 40 setakat ini.
Saya juga datang jarang-jarang. Kalau sempat saya liwat, kadang saya mau ke BCA harus jalan kaki meliwati toko tas itu. Kalau tidak juga saya gak maksa in, h h h, wong kerjaan saya kadang juga banyak bener. Tapi saya lihat toko ini lumayan strategis, karena terletak di pertigaan. Jadi kalau mau dapet publikasi dan promosi gratis untuk toko saya, ini toko yang cukup tepat heh heh heh, lagian pengaruh teman-2 kumpulan disana cukup besar. Kalau lagi ngumpul kadang ada beberapa pemilik toko ikut nimbrung juga, dan beberapa orang pengelola. Jadi kenalan bisa tambah banyak.
Suatu hari, seusai tutup toko, jam 6 sore saya mampir ke tempat itu. Karena untuk nunggu macet, juga untuk mencari informasi mengenai masalah salah ukur di dalam kios. Menunggu macet maksudnya disini adalah jam 1800 sore, kalau saya paksa pulang sekarang maka saya akan bermacet-macetan dan akhirnya sampai rumah pk 1930 an. Beda kalau saya berangkat pk 1930 maka saya akan sampai ke rumah pada pk 2000. Pulangnya lebih malam 30 menit tapi saya gak lebih capek.
Sesampai di toko tas (Yg gak ber nama ini). Ternyata sudah ngumpul tuh rame ngobrol-ngobrol, makaya saya pun langsung ikut nimbrung. Jam 1845 si Oom tiba-2 menahan saya dulu,
“Man, you jangan pulang dulu yah, saya mau pesan makan malam, you ikut sekalian yah”.
Wah, tadinya saya gak enak hati mau balik toko saja, tapi si oom mencegah,
“Jangan, ayu sekali-sekali ikut makan”
Ya, sudah.
Kita sebagai orang timur gak enak kalau terlalu kaku, maka saya setuju aja dah, lagian si oom ini biasa hobby nya mesen makanan yg gak berat-2 koq, juga gak terlalu mahal. Jadi saya pikir gak beban lah buat si oom yang sudah kaya pengalaman ini.
Pk 1900 makanan pesanan sudah tiba. Pesananannya semua harga Rp 11rb. Nasi bistik sapi, nasi pu yung hai, nasi bistik ayam, nasi ayam bakar, h h h . Masing-2 1 porsi, tapi makanannya di sharing, jadi sebetulnya di menu saya pilih nasi bistik sapi, ternyata saya juga bisa coba nasi bistik ayam, pu yung hai nya juga. Jadi saya gambarkan porsi kombinasi nya, nasi sepiring, pu yung hai sepiring ditambah 1 daun selada, 1 potong tomat dan 1 potong ketimun.
Nah, selesai nasi dan lauk habis, maka bagian terakhir pun mulai yaitu menghabiskan selada yang tersisa di piring, begitu si Ci Afun angkat selada nya, saya pun berteriak kaget … Hahahha. Ternyata d bawah selada nya ada cacing seanjang 3 cm sedang meliuk-liuk, memanjang dan melingkar. Woooaahh, untung nasi dan pu yung hai nya sudah habis kalau tidak hilang lah selera makan kami-kami ini, h h h.
Ahasil sebelum piring diambil, saya pun sempat mengabadikan sang cacing di piring kosong itu….
Sepertinya sampai saat ini geng nya si Oom gak pernah lagi mesen makanan di tempat sana, hahaha.....